Opini

ADA TIGA KIAMAT GLOBAL?

Oleh : luska - Jum'at, 21/08/2026 19:42 WIB


ADA TIGA KIAMAT GLOBAL?

Oleh: JIMMY H SIAHAAN


Krisis yang sangat menghawatirkan dunia adalah akan adanya peristiwa besar yang kita sebut sebagai 

" Kiamat" ( Doomsday). Tidak saja soal ekonomi, nuklir namun saat ini krisis iklim sudah menjadi kenyataan dan kita alami.


Pendekatan kiamat dalam politik internasional adalah cara menganalisis hubungan antarnegara dengan melihat potensi ancaman kehancuran global atau menggunakan narasi akhir zaman dalam strategi politik.


Pendekatan ini biasanya mencakup dua sudut pandang utama dalam dunia politik: Ancaman Nyata Bencana Global dan Kiamat Buatan Manusia.


Analisis idibawah ini fokus pada kehancuran ekonomi, jatuhnya korban jiwa, dan krisis lingkungan (seperti musim dingin nuklir) jika perang global benar-benar terjadi.


Mengapa Pendekatan Ini digunakan ? Karena mencegah kiamat nuklir merupakan prioritas utama bagi komunitas internasional.


Kiamat Ekonomi & Tehnologi


Dana Moneter Internasional (IMF) mengeluarkan peringatan keras bahwa tatanan global telah berubah selamanya, dan rentetan "kiamat ekonomi" atau guncangan hebat akan terjadi di masa depan. 


Dunia kemungkinan akan menghadapi guncangan global lebih lanjut di masa mendatang yang dapat diperkirakan, tanpa ada tanda-tanda mereda, 


Dalam wawancara eksklusif di podcast Bloomberg bersama Francine Lacqua, Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva meluapkan kecemasannya. 


Ia menilai masyarakat dunia saat ini masih belum sadar dan belum menerima kenyataan pahit bahwa dunia yang aman tanpa krisis sudah berakhir.


IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata "Kita belum sepenuhnya menginternalisasi (menerima) bahwa seperti inilah dunia ke depannya." 


Kita tidak akan pernah lagi sampai pada suatu masa di mana guncangan ekonomi itu hilang," ujar Georgieva dengan nada penuh urgensi.


Efek Domino Perang Iran dan `Kutukan` Globalisasi IMF menilai dunia gagal mengantisipasi dampak buruk dari runtuhnya sistem globalisasi. Banyak lapangan kerja di berbagai belahan dunia lenyap begitu saja, menciptakan jurang kemiskinan baru. 


Situasi ini diprediksi akan semakin parah dan "mengerikan" dengan masuknya teknologi AI (Kecerdasan Buatan) secara masif yang siap merebut jutaan mata pencaharian manusia. 


Lebih buruk lagi, dalam laporan World Economic Outlook terbaru, IMF resmi memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi hanya 3,1%, turun drastis dari estimasi sebelumnya sebesar 3,4%. 


Secara psikologis, pembaca akan melihat sebuah anomali besar dalam peta kekuatan ekonomi saat ini. Negara-negara Barat dan Uni Eropa kini menderita akibat hantaman ganda. 


Mereka belum pulih dari sisa-sisa inflasi energi akibat perang Ukraina, dan kini harus kembali dihantam meroketnya harga minyak akibat perang Iran. 


Di tengah sanksi bertubi-tubi, IMF justru menaikkan proyeksi ekonomi Rusia sebesar 0,3%. Moskow diuntungkan karena harga komoditas energi yang mereka miliki melambung tinggi di pasar gelap dunia. 


Melihat kondisi yang semakin kritis, sejumlah pejabat Uni Eropa mulai frustrasi dan secara sembunyi-sembunyi mengusulkan untuk memulihkan kembali hubungan dagang energi dengan Rusia. 


Namun petinggi Brussels menolak keras dan tetap nekat melanjutkan ambisi mereka untuk memutus total fosil Rusia pada tahun 2027. Sikap keras kepala Eropa ini memicu peringatan yang tidak kalah mengerikan dari utusan Kremlin, Kirill Dmitriev. 


Ia meramalkan bahwa Inggris dan Uni Eropa sebentar lagi akan segera diterjang oleh krisis energi yang bisa melumpuhkan total industri mereka.


Kiamat Nuklir Depan Mata


Selama puluhan tahun, negara-negara sekutu Barat di seluruh dunia berlindung dengan nyaman di bawah payung nuklir Amerika Serikat (AS). 


Namun, keyakinan bahwa mereka tidak membutuhkan senjata pemusnah massal sendiri kini menguap dengan cepat akibat kebijakan baru dari Presiden AS, Donald Trump.


Mengutip CNBC International, Rabu (19/8/2026), memudarnya payung perlindungan tersebut terjadi setelah Strategi Pertahanan Nasional terbaru untuk tahun 2026 yang dirilis Donald menghapus penyebutan eksplisit mengenai perluasan pencegahan ancaman. 


Pemerintahan Donald kini justru mendesak sekutunya untuk menghabiskan lebih banyak uang mereka sendiri demi membiayai sistem pertahanannya.


Perubahan drastis ini mendorong lebih banyak pemerintah untuk mempertimbangkan kembali apakah mereka perlu memperoleh senjata nuklir secara mandiri. 


Peneliti senior di Program Kebijakan Nuklir Carnegie Endowment for International Peace, Ankit Panda, menyebutkan bahwa para sekutu kini hampir secara universal memandang Washington menjadi pihak yang tidak terlibat dan tidak dapat diandalkan. "Berbagai rasa otonomi strategis mulai bermunculan," tuturnya.


Baru-baru ini, Donald juga telah memerintahkan pengurangan latihan militer gabungan dengan sekutunya, Korea Selatan. Ia beralasan bahwa latihan tersebut mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan dengan pihak Korea Utara.


Pada awal bulan lalu, AS bahkan membuka pembicaraan mengenai pengayaan dan pemrosesan ulang energi damai di Korea Selatan, serta menandatangani pakta nuklir sipil dengan Arab Saudi yang dilaporkan dapat menciptakan jalan menuju pengayaan domestik bagi negara tersebut.


Di benua Eropa, Presiden Prancis Emmanuel Macron pada bulan Maret lalu mengumumkan peningkatan hulu ledak nuklir pertama negaranya sejak tahun 1992 demi memperkuat kemerdekaan kawasan Eropa.


Emmanuel juga berjanji untuk memperluas perlindungan nuklirnya ke negara-negara lain di blok tersebut di bawah kemitraan pencegahan ke depan, di mana sembilan negara termasuk Jerman dan Yunani telah resmi bergabung dalam inisiatifnya.


Jepang terpantau melakukan hal serupa dalam ranah pertahanan nuklir di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Sanae.


Peneliti di S. Rajaratnam School of International Studies Singapura, Shounak Set, memperingatkan bahwa upaya satu negara untuk meningkatkan keamanannya dapat membuat negara musuh merasa kurang aman, yang berpotensi mendorong mereka untuk menyerang lebih dulu. 


Di sisi lain, Peneliti senior di Council on Strategic Risks, Andrew Facini, juga menyoroti risiko mematikan dari perlombaan senjata.

"Anda tidak dapat membangun atau menyebarkan pencegah nuklir tanpa segera meningkatkan ketegangan dan memaksa musuh untuk bereaksi," tegasnya.


Andrew juga menilai bahwa rangkaian proliferasi adalah risiko yang berlipat ganda karena setiap negara nuklir baru memperbanyak peluang salah perhitungan dan mempersempit jendela pengambilan keputusan.


"Memasukkan senjata nuklir ke dalam perselisihan regional yang bergejolak juga secara drastis meningkatkan risiko eskalasi yang tidak disengaja," paparnya.


Terkait dengan memanasnya isu pertahanan ini, kementerian pertahanan di AS dan Jepang, serta Dinas Tindakan Luar Negeri Eropa, menolak untuk memberikan tanggapan.


Saat ini, kesembilan negara bersenjata nuklir yang meliputi AS, Rusia, China, Inggris, Prancis, India, Pakistan, Korea Utara, dan Israel tercatat terus memodernisasi dan memperluas persenjataan maut mereka. 


Berdasarkan laporan Institut Penelitian Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) pada bulan Juni, Rusia dan AS masih menjadi kekuatan nuklir yang luar biasa dominan karena menguasai sekitar 83% hulu ledak nuklir yang dapat digunakan.


Peneliti senior di lembaga tersebut, Hans Kristensen, menilai bahwa dorongan percepatan negara-negara untuk memiliki senjata nuklir kemungkinan besar akan membalikkan upaya demobilisasi yang telah berlangsung selama puluhan tahun.


"Dengan meraih solusi nuklir, negara-negara menciptakan risiko baru dan memicu dinamika perlombaan senjata. Bukti semakin bertambah bahwa negara-negara pemilik senjata nuklir mengesampingkan, dan bahkan menjauh dari, komitmen perlucutan senjata mereka dan alih-alih melenturkan otot nuklir mereka," ungkapnya.


Sebagai catatan kelam, dari 12.000 lebih hulu ledak yang dimiliki oleh kekuatan nuklir global saat ini, lebih dari 9.000 unit di antaranya secara aktif disimpan dalam persediaan militer untuk potensi penggunaan. 


Diperkirakan ada 4.012 hulu ledak yang siap disebarkan bersama rudal dan pesawat, sementara hingga 2.200 unit lainnya dijaga dalam status kewaspadaan tingkat tinggi yang berarti mereka dapat diluncurkan secara instan hanya dalam hitungan menit.


Laporan Carnegie pada September tahun lalu juga dengan gamblang menyimpulkan bahwa jika lebih banyak aktor yang memperoleh hulu ledak tersebut, maka dunia dipastikan akan menjadi tempat yang jauh lebih berbahaya bagi semua pihak tanpa terkecuali.


Di kancah internasional, putaran tinjauan baru yang diadakan di markas besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada bulan Mei berujung pada kegagalan dalam mencapai konsensus. 


Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, memperingatkan bahwa Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) yang mengikat dunia kini sedang terkikis dengan cepat.


Perjanjian sentral yang mengikat kesepakatan bahwa negara-negara non-nuklir setuju untuk tidak pernah memperoleh senjata nuklir dan sebaliknya negara nuklir sepakat berbagi manfaat teknologi damai tersebut diyakini oleh Alexandra telah menjadi satu-satunya yang membendung aliran proliferasi massal.


Tanpa adanya perlindungan kuat dari pakta tersebut, Bell dari Bulletin of Atomic Scientists meyakini bahwa akan ada lebih banyak bahan, fasilitas, dan keahlian nuklir yang beredar bebas sehingga mengerek tajam risiko terorisme nuklir. 


Ia pun mendesak Washington untuk segera mengurangi insentif bagi negara-negara lain yang berniat memperoleh senjata kiamat tersebut.


"Membangun sesuatu itu sulit, menghancurkan sesuatu itu sangat mudah. 


Jika kita melanggar NPT, kita mungkin tidak akan pernah pulih dari penyimpangan keamanan itu," pungkasnya.


Saat ini AS bicara tentang kemungkinan Perang Nuklir, dan menyebut Rusia dan China adalah" Lawan Setara". 


Disamping itu Amerika Serikat (AS) memperingatkan kemungkinan akan adanya pecahnya perang nuklir regional.


Apakah Kiamat nyata ?


Sebuah pagar bertahan 3 tahun, seekor anjing bertahan selama 3 pagar, seekor kuda bertahan selama 3 anjing, dan seorang manusia bertahan selana 3 kuda; pelajaran hidup tentang bagaimana saat di bumi ini yang sementara dan bagaimana mempraktekkan rasa syukur dari pepatah lama sebuah perumpamaan Jerman.


Saat ini dunia sudah mengalami krisis iklim. Selanjut apakah krisis ekonomi, AI dan Nuklir menjadi kenyataan. Jika krisis menjadi multi krisis saat itulah kita menyadari adanya "KIAMAT" yang sesungguhnya. Hasil kerja Alam dan kerja Manusia bertemu.

Artikel Lainnya