Jakarta, INDONEWS.ID - Ribuan gempa susulan masih mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sepekan setelah gempa utama berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026). Hingga Sabtu (22/8), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 5.012 gempa susulan, termasuk 31 gempa dengan magnitudo di atas 5.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 124 gempa dirasakan masyarakat. Sementara gempa susulan terbesar mencapai magnitudo 6,2 dan yang terkecil tercatat bermagnitudo 1,1. Kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan: mengapa gempa susulan di NTT masih terjadi dalam jumlah besar setelah gempa utama?
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, gempa susulan merupakan proses alamiah kerak bumi untuk kembali mencapai keseimbangan setelah mengalami pelepasan energi besar akibat gempa utama.
Menurut Daryono, gempa utama terjadi ketika energi yang tersimpan pada batuan di sepanjang patahan telah melampaui batas elastisitas. Kondisi tersebut menyebabkan batuan patah dan bergeser secara tiba-tiba.
Namun, proses tersebut tidak serta-merta membuat bidang patahan kembali stabil.
"Gempa susulan pada hakikatnya adalah penyesuaian mekanis mikro saat batuan di sekitar bidang patahan tersebut bergeser perlahan untuk mencari posisi kestabilan baru," kata Daryono.
Mengapa Jumlahnya Bisa Ribuan?
Setelah gempa utama, masih terdapat titik-titik tegangan di sekitar bidang patahan yang mengalami pergeseran. Tegangan tersebut kemudian memicu pergerakan batuan di sekitarnya secara bertahap.
Fenomena ini dikenal dalam kajian kegempaan melalui Hukum Omori-Utsu. Hukum tersebut menjelaskan bahwa frekuensi gempa susulan biasanya sangat tinggi pada periode awal setelah gempa utama, kemudian berangsur-angsur menurun seiring waktu.
Dengan demikian, banyaknya gempa susulan tidak berarti gempa utama kembali terjadi berkali-kali. Rangkaian tersebut merupakan respons kerak bumi terhadap perubahan tegangan yang terjadi setelah gempa besar.
Daryono mengatakan, meski jumlah gempa susulan cenderung menurun, satu atau dua gempa susulan masih dapat memiliki magnitudo cukup besar.
Kondisi ini perlu diwaspadai karena bangunan yang telah mengalami kerusakan akibat gempa utama dapat menjadi lebih rentan terhadap guncangan berikutnya.
Dari perspektif redistribusi tegangan atau Coulomb stress change, gempa utama juga mengubah distribusi tekanan pada batuan di sekitar patahan.
"Pelepasan tekanan masif tersebut justru memindahkan sebagian tegangan sisa (Coulomb stress) ke area batuan di sekitarnya," ujar Daryono.
Perpindahan tegangan tersebut kemudian dapat memicu gempa-gempa baru di sekitar zona patahan.
Karena itu, rangkaian gempa susulan bukan menunjukkan bahwa tekanan di satu wilayah terus bertambah. Sebaliknya, gempa susulan menjadi bagian dari mekanisme kerak bumi untuk mengurai sisa tegangan dan bergerak menuju kondisi yang lebih stabil.
Bisa Berlangsung Berminggu-minggu
Daryono menjelaskan, gempa pembuka atau foreshock, gempa utama (mainshock), dan gempa susulan (aftershock) ditentukan berdasarkan urutan waktu, lokasi, serta magnitudo relatif dalam satu kluster patahan.
Status sebuah gempa bahkan dapat berubah setelah terjadi gempa berikutnya.
Gempa yang semula disebut sebagai gempa utama, misalnya, dapat dikategorikan sebagai foreshock apabila kemudian terjadi gempa yang lebih besar di kawasan patahan yang sama.
"Penentuan status ini selalu bersifat retrospektif atau hanya bisa dipastikan setelah peristiwa berlalu," kata Daryono.
Untuk menentukan apakah suatu gempa merupakan aftershock, seismolog antara lain melihat lokasi gempa yang masih berada di zona patahan gempa utama serta pola kemunculannya yang mengikuti proses peluruhan energi.
Selain Hukum Omori-Utsu, terdapat pula Hukum Båth yang menyebutkan bahwa gempa susulan terbesar umumnya memiliki magnitudo sekitar 1,2 lebih kecil dibandingkan gempa utama.
Daryono menegaskan, rangkaian gempa susulan merupakan konsekuensi mekanis yang lazim terjadi setelah gempa kuat. Fenomena tersebut dapat berlangsung selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, seiring batuan secara bertahap mencapai keseimbangan baru.
"Rangkaian gempa susulan adalah bagian alami dari proses pemulihan bumi," ujarnya.
BMKG: Gempa Susulan Bisa Berlangsung 3-4 Minggu
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto sebelumnya mengatakan gempa susulan di Flores masih berpotensi terjadi dalam beberapa waktu ke depan.
"Berdasarkan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3-4 minggu ke depan," kata Wijayanto dalam keterangan tertulis, Selasa (18/8/2026).
Gempa utama mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8) pukul 04.58 WIB. Setelah pemutakhiran parameter, BMKG mencatat kekuatan gempa tersebut mencapai magnitudo 7,7 dan memicu peringatan dini tsunami.
Gempa tersebut merupakan gempa dangkal yang disebabkan aktivitas tektonik di zona Flores Back-Arc, dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault).
Saat gempa M7,7 terjadi, BMKG mengeluarkan Peringatan Dini Tsunami pertama dua menit 16 detik setelah gempa. Status ancaman yang disampaikan saat itu berada pada kategori Siaga dengan potensi ketinggian tsunami 0,5 hingga 3 meter dan Waspada untuk tsunami kurang dari 0,5 meter.
Dengan masih berlangsungnya ribuan gempa susulan, masyarakat di wilayah terdampak diminta tetap waspada, terutama terhadap bangunan yang telah mengalami kerusakan. Guncangan susulan dengan magnitudo cukup besar tetap berpotensi menimbulkan kerusakan tambahan.