Nasional

Gubernur Sumbar Ajak Perantau Minang Terus Berkontribusi untuk Daerah dan Kampung Halaman

Oleh : Rikard Djegadut - Kamis, 27/08/2026 15:50 WIB


Gubernur Sumbar Ajak Perantau Minang Terus Berkontribusi untuk Daerah dan Kampung Halaman

JAKARTA, INDONEWS.ID - Jarak antara rantau dan kampung halaman tidak seharusnya menjadi alasan bagi masyarakat Minangkabau untuk kehilangan ikatan dengan daerah asal. Justru, pengalaman, pengetahuan, dan jejaring yang dibangun di perantauan dapat menjadi kekuatan untuk ikut mendorong kemajuan Sumatera Barat.

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Barat (Sumbar) Mahyeldi Ansharullah saat menghadiri seminar bertajuk “Tokoh Minangkabau yang Mengubah Indonesia” di Gedung MH Thamrin, Blok G, Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (27/8/2026).

Di hadapan masyarakat Minangkabau yang hadir, Mahyeldi mengajak warga Minang di perantauan untuk terus menjaga persatuan, memperkuat silaturahmi, serta memperbesar kontribusi bagi pembangunan daerah dan kampung halaman.

Menurut Mahyeldi, masyarakat Minang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia merupakan bagian penting dari kekuatan Sumatera Barat. Karena itu, hubungan antara masyarakat yang berada di ranah dan mereka yang hidup di rantau perlu terus dipelihara.

“Kontribusi masyarakat Minang di rantau sangat berarti. Mari kita jaga persatuan, perkuat silaturahmi, dan terus memberikan manfaat bagi kampung halaman serta bangsa,” ujar Mahyeldi.

Mahyeldi menilai, kekuatan masyarakat Minangkabau salah satunya terletak pada tradisi merantau yang telah berlangsung lintas generasi. Perantauan tidak semestinya dimaknai sebagai keterpisahan dari kampung halaman, tetapi sebagai ruang untuk memperoleh pengalaman dan membangun jejaring yang pada waktunya dapat memberikan manfaat bagi daerah asal.

Karena itu, ia mengingatkan agar perbedaan pilihan, profesi, maupun tempat tinggal tidak menjadi penghalang bagi masyarakat Minang untuk terus menjaga persaudaraan. Semangat persatuan, kata dia, harus menjadi pijakan dalam berbagai kegiatan masyarakat.

Mahyeldi juga mengapresiasi seminar yang diselenggarakan Rangkayo Minang tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam itu tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang tokoh-tokoh Minangkabau yang memiliki kontribusi terhadap perjalanan bangsa, tetapi juga menjadi momentum memperkuat hubungan antarsesama perantau.

Lebih dari itu, forum tersebut dapat menjadi ruang refleksi mengenai bagaimana generasi saat ini meneruskan nilai-nilai dan kontribusi para pendahulu. Mahyeldi mengatakan, besarnya peran masyarakat Minang di perantauan juga ia rasakan ketika memberikan bantuan rendang Padang kepada masyarakat terdampak bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Dalam momentum tersebut, ia melihat langsung bagaimana masyarakat Minangkabau di perantauan ikut mengambil bagian dalam membantu masyarakat yang sedang menghadapi musibah.

“Hal itu saya rasakan ketika saya memberikan bantuan rendang Padang di NTT. Peran perantau kita sangat besar, ikut membantu korban bencana alam,” ujarnya.

Menurut Mahyeldi, kepedulian tersebut menunjukkan bahwa solidaritas masyarakat Minangkabau tidak berhenti pada batas geografis. Di tengah bencana dan persoalan kemanusiaan, rasa persaudaraan dapat melampaui identitas daerah. Kepedulian yang tumbuh dari masyarakat perantauan bahkan dapat menjadi kekuatan untuk meringankan beban sesama di daerah lain.

Mahyeldi menegaskan, kontribusi masyarakat Minang di rantau dapat dilakukan melalui berbagai cara. Investasi, pendidikan, kegiatan sosial, pengembangan kebudayaan, hingga berbagi pengalaman dan pengetahuan merupakan bagian dari kontribusi yang dapat diberikan untuk Sumatera Barat.

Dengan kemampuan dan pengalaman yang dimiliki, para perantau dapat menjadi jembatan yang menghubungkan potensi Sumbar dengan perkembangan di berbagai daerah maupun dunia usaha.

Karena itu, sinergi antara ranah dan rantau dinilai penting untuk terus diperkuat. Pemerintah daerah, masyarakat di kampung halaman, dan diaspora Minangkabau dapat saling melengkapi dalam mendorong pembangunan.

Bagi Mahyeldi, kekuatan tersebut akan semakin besar apabila dibangun dengan semangat kebersamaan, bukan dengan mempertajam perbedaan. Mahyeldi juga menitipkan pesan kepada generasi muda Minangkabau agar tidak kehilangan akar budaya meski berada jauh dari kampung halaman. Tradisi merantau, menurutnya, harus tetap diiringi dengan nilai persaudaraan, kepedulian dan tanggung jawab terhadap daerah asal.

“Di mana pun kita berada, kita tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga kebersamaan dan memberikan kontribusi terbaik,” katanya.

Ia berharap masyarakat Minangkabau di perantauan dapat terus berkembang dan berkontribusi di daerah tempat mereka tinggal, tanpa melupakan kampung halaman. Sebab, bagi Sumatera Barat, rantau bukan sekadar tempat masyarakat Minang mencari kehidupan. Rantau juga merupakan ruang tempat pengalaman, pengetahuan, jaringan, dan kepedulian tumbuh—untuk kemudian kembali memberi manfaat bagi ranah.

Ranah dan rantau, pada akhirnya, bukan dua dunia yang terpisah. Keduanya merupakan bagian dari satu ikatan yang dapat menjadi kekuatan untuk membangun Sumatera Barat dan Indonesia.

Artikel Lainnya