SERI KESADARAN NUSANTARA — 2
Penulis: Brigjen TNI (Purn.) MJP Hutagaol
Jakarta, 28 Agustus 2026
PENGANTAR
Pada Seri 1 kita menemukan tiga fungsi kesadaran:
Jayabaya — membaca zaman.
Sabdo Palon — menjaga arah.
Ranggawarsita — eling lan waspada.
Sekarang kita bergerak dari khazanah Jawa menuju khazanah Sunda.
Dalam tradisi yang kemudian dikenal sebagai Uga atau Wangsit Siliwangi, muncul satu simbol yang menarik:
BUDAK ANGON.
Kita tidak sedang mencari siapa manusia yang diramalkan akan datang.
Pertanyaan kita lebih dalam:
APAKAH SEBUAH PERADABAN MASIH MAMPU
MENCARI KEMBALI APA YANG TERCECER
DALAM PERJALANAN ZAMANNYA?
WANGSIT SILIWANGI — SEJARAH DAN INGATAN
Prabu Siliwangi hidup kuat dalam ingatan kebudayaan Sunda dan lazim dikaitkan dengan Sri Baduga Maharaja dari Kerajaan Sunda-Pajajaran.
Namun berbagai teks yang kemudian disebut Uga atau Wangsit Siliwangi menempuh perjalanan panjang melalui tradisi.
Karena itu kita tidak boleh menganggap setiap kalimat yang beredar sekarang sebagai ucapan historis Prabu Siliwangi.
Sejarah tetap harus diperiksa sebagai sejarah.
Tradisi harus dipahami sebagai tradisi.
Tetapi tradisi dapat menyimpan sesuatu yang tidak kalah penting:
INGATAN PERADABAN.
BUDAK ANGON — JANGAN TERBURU-BURU MENCARI WAJAHNYA
Dalam salah satu versi tradisi tersebut muncul Budak Angon — anak penggembala.
Namun yang digembalakannya digambarkan bukan kerbau, bukan kambing, dan bukan hewan lainnya.
Muncul ungkapan:
“KALAKAY JEUNG TUTUNGGUL.”
Kita tidak perlu memaksakan setiap katanya menjadi kode rahasia dengan satu tafsir mutlak.
Justru simbol besarnya lebih menarik.
Ada sesuatu yang berserak.
Ada sesuatu yang tertinggal.
Ada sesuatu yang dianggap telah selesai.
Lalu muncul satu tindakan:
NGOREHAN.
NGOREHAN — KETIKA PERADABAN MENCARI INGATANNYA
Ngorehan dapat dipahami sebagai mencari, menelusuri, menggali kembali.
Di sinilah kedalamannya.
Ada sesuatu yang lebih berbahaya daripada kehilangan tanah:
KEHILANGAN INGATAN TENTANG TANAH ITU.
Ada sesuatu yang lebih dalam daripada kehilangan bahasa:
KETIKA GENERASI BERIKUTNYA TIDAK LAGI
MEMAHAMI MAKNA YANG PERNAH DITITIPKAN
MELALUI BAHASANYA.
Ada sesuatu yang lebih dalam daripada runtuhnya kerajaan:
KETIKA KETURUNANNYA MASIH HIDUP,
TETAPI TIDAK LAGI MENGETAHUI
NILAI APA YANG PERNAH MENJAGA
PERADABANNYA.
Maka ngorehan bukan menggali kuburan masa lalu.
Ia adalah kerja kesadaran.
Mencari kembali pengetahuan yang tercecer.
Menyambungkan ingatan yang terputus.
Memeriksa nilai yang terlupakan.
Memisahkan warisan dari tambahan-tambahan yang lahir kemudian.
Lalu bertanya:
MANA YANG MASIH BERNILAI
UNTUK DIBAWA MENUJU MASA DEPAN?
KALAKAY — YANG JATUH BELUM TENTU SELESAI
Kalakay dapat menunjuk pada daun yang telah tua, mengering, kemudian jatuh.
Manusia melihat daun jatuh dan menganggap hidupnya selesai.
Alam tidak selalu bekerja demikian.
Daun kembali kepada tanah.
Ia terurai.
Menjadi bagian dari kehidupan.
Kemudian sesuatu yang telah jatuh ikut memberi kehidupan kepada sesuatu yang akan tumbuh.
Di sinilah kita memperoleh pelajaran:
YANG LAMA TIDAK SELALU HARUS DIBUANG.
TETAPI YANG LAMA JUGA TIDAK SELALU
HARUS DIHIDUPKAN KEMBALI.
Ia harus dibaca.
Dipilah.
Diambil sarinya.
Kemudian dikembalikan kepada kehidupan.
Itulah perbedaan antara:
MEMUJA MASA LALU
dan
BELAJAR DARI MASA LALU.
ACAN WAYAH — KEBIJAKSANAAN MEMBACA WAKTU
Dalam tradisi tersebut juga dikenal ungkapan:
ACAN WAYAH.
Belum waktunya.
Orang yang mempunyai kekuatan bertanya:
“Bisakah saya melakukannya?”
Orang yang mempunyai pengetahuan bertanya:
“Bagaimana saya melakukannya?”
Tetapi kebijaksanaan menambahkan satu pertanyaan:
“APAKAH SUDAH WAKTUNYA?”
Sebab benih yang baik pun dapat gagal apabila ditanam pada musim yang salah.
Begitu pula gagasan.
Begitu pula perubahan.
Begitu pula kekuasaan.
Terlalu lambat, kita tertinggal.
Terlalu cepat tanpa kesiapan, kita dapat kehilangan keseimbangan.
Maka waktu bukan sekadar angka pada kalender.
WAKTU ADALAH PERTEMUAN ANTARA:
KESIAPAN,
KEADAAN,
DAN TINDAKAN.
PAJAJARAN ANYAR — YANG BANGKIT BUKAN SINGGASANANYA
Dalam berbagai pembacaan tradisi Siliwangi muncul pula gagasan mengenai bangkitnya Pajajaran.
Kita tidak perlu tergesa-gesa membacanya sebagai kembalinya sebuah kerajaan.
Dalam pembacaan filosofis kita, yang lebih penting untuk dibangkitkan bukan:
singgasananya,
mahkotanya,
atau batas wilayah kekuasaannya.
Yang perlu dibangkitkan adalah:
KESADARANNYA.
Hubungan manusia dengan alam.
Tanggung jawab pemimpin terhadap rakyat.
Ingatan masyarakat terhadap asalnya.
Kemampuan menerima zaman baru tanpa kehilangan dirinya.
Karuhun tidak mewariskan masa lalu agar anak cucunya tinggal di masa lalu.
Mereka mewariskan pengalaman agar generasi berikutnya tidak harus mengulangi seluruh kesalahan yang sama.
BUDAK ANGON ABAD KE-21
Maka jangan terburu-buru bertanya:
“SIAPA BUDAK ANGON?”
Pertanyaan itu dapat membuat kita menghabiskan waktu mencari seseorang.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“APAKAH MASIH ADA MANUSIA
YANG MAU NGOREHAN?”
Peneliti yang membuka arsip terlupakan sedang ngorehan.
Guru yang menyambungkan pengetahuan kepada generasi baru sedang ngorehan.
Petani yang mempertemukan pengalaman leluhur dengan ilmu modern sedang ngorehan.
Anak muda yang mempelajari bahasa dan budayanya tanpa menolak kemajuan sedang ngorehan.
Bangsa yang berani memeriksa kembali sejarahnya dengan jujur sedang ngorehan.
Budak Angon tidak harus mempunyai satu wajah.
IA DAPAT HIDUP SEBAGAI LAKU.
DARI SERI 1 MENUJU SERI 2
Sekarang benangnya mulai terlihat:
JAYABAYA
MEMBACA ZAMAN
↓
SABDO PALON
MENJAGA ARAH
↓
RANGGAWARSITA
ELING LAN WASPADA
↓
BUDAK ANGON
NGOREHAN — MENCARI YANG BERSERAK
↓
AKAL
MEMERIKSA
↓
BUDI
MENIMBANG
↓
LAKU
MEWUJUDKAN
Tetapi perjalanan kita belum selesai.
Sebab kita baru mendengar sebagian suara dari Jawa dan Sunda.
Nusantara jauh lebih luas.
PENUTUP
Karuhun tidak meminta kita menjadi mereka.
Zaman mereka telah selesai.
Kita pun tidak mungkin kembali menjadi manusia berabad-abad silam.
Tetapi zaman baru juga tidak memberi kita hak untuk menjadi manusia yang kehilangan ingatan.
Maka:
JANGAN TINGGAL DI MASA LALU.
JANGAN PULA MEMUTUS MASA LALU.
NGOREHAN.
TEMUKAN YANG BERSERAK.
PERIKSA DENGAN AKAL.
TIMBANG DENGAN BUDI.
HIDUPKAN YANG MASIH BERNILAI.
LALU BAWALAH IA BERJALAN
BERSAMA ZAMAN.
Sebab:
POHON TIDAK TUMBUH
DENGAN KEMBALI MENJADI AKAR.
TETAPI TANPA AKAR,
IA JUGA TIDAK AKAN PERNAH
MENJADI POHON.
Mungkin itulah suara Karuhun yang masih dapat kita dengar:
BUKAN MEMANGGIL KITA PULANG
KE MASA LALU,
TETAPI MENGINGATKAN KITA
AGAR JANGAN KEHILANGAN JALAN
MENUJU MASA DEPAN.
MJP Hutagaol ’86
Jakarta, 28 Agustus 2026
— BERSAMBUNG —
SERI 3
MENDENGAR NUSANTARA
APAKAH PESAN KESADARAN YANG SAMA
HIDUP DALAM BAHASA DAN KEBUDAYAAN
YANG BERBEDA?