Abu Anak Krakatau Mulai Ganggu Aktivitas Warga, dari Pameran hingga Olahraga

Oleh : rio apricianditho - Minggu, 06/09/2026 22:50 WIB


Abu Anak Krakatau Mulai Ganggu Aktivitas Warga, dari Pameran hingga Olahraga

Jakarta, INDONEWS.ID - Erupsi Gunung Anak Krakatau mulai terasa dalam aktivitas masyarakat. Sebaran abu vulkanik membuat sebagian warga memilih mengurangi kegiatan di luar ruangan, bahkan mengurungkan niat menghadiri sejumlah acara yang sebelumnya sudah direncanakan, Minggu (06/09).

Aktivitas olahraga di ruang terbuka juga menjadi salah satu kegiatan yang ikut terdampak. Warga yang biasanya leluasa beraktivitas di luar ruangan kini harus mempertimbangkan kondisi udara sebelum keluar rumah.

Kondisi ini dinilai perlu mendapat perhatian karena abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikel tersebut merupakan campuran mineral, bebatuan, dan partikel kaca yang dapat masuk ke saluran pernapasan ketika terhirup.

Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan paparan abu vulkanik dapat menyebabkan batuk, iritasi tenggorokan hingga gangguan seperti bronkitis. Risiko tersebut juga lebih besar bagi masyarakat yang memiliki penyakit paru kronis seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK).

"Karena abu vulkanik ini terhisap masuk ke paru dan saluran napas maka secara langsung akan dapat menyebabkan keluhan batuk, iritasi tenggorok, gangguan seperti bronkitis dan juga perburukan pada mereka yang punya penyakit paru kronik", ucapnya

Karena itu, masyarakat yang tetap melakukan aktivitas di luar ruangan disarankan menggunakan masker, terutama ketika kadar abu di udara mulai mengkhawatirkan.

Tak hanya masker, masyarakat juga dapat menggunakan kacamata pelindung dan pakaian berlengan panjang jika paparan abu cukup banyak. Aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan juga sebaiknya dibatasi.

"Kalau memang kadar abu cukup mengkhawatirkan maka batasi aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan", ujarnya.

Tjandra mengingatkan masyarakat yang baru kembali dari luar rumah untuk segera membersihkan diri dan mencuci pakaian yang digunakan. Langkah tersebut penting untuk mengurangi kemungkinan abu vulkanik terbawa masuk ke dalam rumah.

Sementara itu, kondisi Jakarta dan sekitarnya pada Minggu pagi, 6 September 2026, menurut Tjandra belum memerlukan langkah menutup rumah secara rapat. Namun masyarakat tetap diminta mengikuti perkembangan kondisi erupsi dan sebaran abu dari BMKG maupun institusi resmi lainnya.

Ia juga meminta masyarakat tidak mengabaikan keluhan kesehatan yang muncul setelah terpapar abu vulkanik.

"Secara umum tentu mereka yang kini ada keluhan kesehatan maka segeralah konsultasi ke fasilitas kesehatan yang ada", kilahnya.

Di tengah terganggunya sejumlah aktivitas masyarakat, kewaspadaan menjadi langkah penting. Masker, membatasi aktivitas luar ruangan, serta mengikuti informasi resmi menjadi upaya sederhana untuk mengurangi risiko kesehatan selama kondisi erupsi masih berlangsung.

Artikel Lainnya