Nasional

Luky A. Yusgiantoro Kembali Terpilih Sebagai Ketua Presidium PP ISKA Periode 2026-2030

Oleh : very - Sabtu, 12/09/2026 18:04 WIB


Luky A Yusgiantoro melaporkan kerja PP Iska periode 2022-2026 pada Munas di Balikpapan. (Foto: Ist)
Luky A Yusgiantoro melaporkan kerja PP Iska periode 2022-2026 pada Munas di Balikpapan. (Foto: Ist)

Balikpapan- INDONEWS.ID –Musyawarah Nasional Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA) XVII secara aklamasi kembali menetapkan Luky A. Yusgiantoro, B.Sc., M.Sc., Ph.D sebagai Ketum Presidium PP ISKA periode 2026 – 20230. Munas dilangsungkan di Hotel Novotel Balikpapan, Kalimantan Timur, Jumat (11/9/2026).

Dalam sidang yang dipimpin oleh Luky A. Yusgiantoro didampingi Arie Sulistiono dan Joni Sinatra Ginting, ISKA memaparkan Dokumen Pokok-Pokok Pikiran dan Rekomendasi Kemasyarakatan.

Dokumen ini menegaskan bahwa Indonesia tengah memasuki fase krusial dalam perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 di tengah pergeseran geopolitik, kemajuan kecerdasan artifisial (AI), krisis ekologis, hingga dinamika ekonomi global.

Luky menegaskan bahwa bonus demografi dan kekayaan alam tidak secara otomatis menjamin tercapainya cita-cita Indonesia Emas 2045 tanpa didasari keberanian moral dan kepastian hukum.

"Pertumbuhan ekonomi harus disertai pemerataan dan pekerjaan yang layak. Demokrasi harus berkembang menjadi demokrasi substantif yang menjunjung etika, kebebasan sipil, dan akuntabilitas. Kehadiran sarjana Katolik di ruang publik bukan untuk membangun eksklusivisme identitas, melainkan menghadirkan kompetensi, integritas, dan keberpihakan pada kebaikan bersama (bonum commune)," ujar Luky melalui pernyataan tertulis.

 

Paparkan Agenda Strategis ISKA ke Depan

Luky memaparkan 10 agenda strategis ISKA yang harus dijalankan ke depan. Agenda tersebut merupakan kontribusi konkret bagi pemerintah dan seluruh elemen masyarakat yang berakar pada nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, serta Ajaran Sosial Gereja.

Berikut, 10 Agenda Strategis ISKA:

1.      Pancasila sebagai Etika Publik: Menjadikan Pancasila sebagai titik temu kebangsaan dan panduan moral bernegara.

2.      Demokrasi Substantif dan Negara Hukum: Mewujudkan penegakan hukum yang berintegritas dan menjamin keadilan sosial.

3.      Ekonomi Inklusif dan Berkeadilan: Mendorong pertumbuhan ekonomi yang produktif, berkelanjutan, dan merata.

4.      Peningkatan SDM dan Pendidikan: Menguatkan riset, peran perempuan, serta kapasitas generasi muda.

5.      Penguatan Kohesi Sosial: Merawat toleransi, keberagaman budaya, dan peningkatkan literasi digital.

6.      Kedaulatan dan Ketahanan Nasional: Merespons dinamika geopolitik melalui ketahanan multidimensi.

7.      Perlindungan HAM dan Ruang Sipil: Menjamin kebebasan beragama dan menjaga martabat manusia.

8.      Transformasi Teknologi Etis: Mengembangkan kecerdasan artifisial (AI) dan teknologi digital yang berpusat pada kemanusiaan.

9.      Ekologi dan Keutuhan Ciptaan: Menjadikan kelestarian lingkungan sebagai arus utama kebijakan pembangunan.

10.    Penguatan Peran Intelektual ISKA: Menegaskan peran ISKA sebagai wadah pemikiran (think tank) dan pengabdi kebaikan bersama.

Perhelatan empat tahunan yang bertepatan dengan dinamika pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) ini menjadi panggung konsolidasi gagasan, evaluasi kepengurusan, serta perumusan arah strategis organisasi dalam merespons tantangan nasional dan global.

Munas XVII ISKA mengusung tema “Merawat Harapan, Menguatkan Persaudaraan Kebangsaan Menuju Indonesia Emas 2045: Mewujudkan Keadilan dan Kesejahteraan, Memperkuat Demokrasi, Kedaulatan Bangsa, Kemanusiaan, Persaudaraan, dan Keutuhan Ciptaan.”

Rangkaian pembukaan diawali dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Uskup Agung Samarinda, Mgr. Yustinus Hardjosusanto, MSF, bersama jajaran imam selebran, yang menegaskan dimensi spiritualitas serta komitmen pelayanan sarjana Katolik.

Pembukaan Munas ini turut dihadiri dan mendapat apresiasi secara virtual dari Menteri Agama Republik Indonesia serta Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia.

ISKA menegaskan bahwa identitas sebagai warga negara Indonesia dan umat Katolik adalah dua hal yang saling menguatkan. Kehadiran dokumen rekomendasi ini diharapkan menjadi peta jalan (roadmap) bagi kontribusi intelektual warga ISKA, sekaligus ajakan terbuka kepada pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat sipil untuk bersatu merawat harapan bangsa. (*)

Artikel Lainnya