Opini

NUSANTARA: JEJAK YANG MENEMBUS BINTANG FIKSI NUSANTARA FUTURISTIK

Oleh : luska - Kamis, 01/10/2026 14:23 WIB


NUSANTARA: JEJAK YANG MENEMBUS BINTANG FIKSI NUSANTARA FUTURISTIK

Oleh: MJP Hutagaol ’86


PROLOG


SEBELUM NUSANTARA MEMPUNYAI NAMA


Sebelum ada Indonesia.


Sebelum ada Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Maluku dan Papua.


Bahkan sebelum manusia mengenal kata Nusantara—


bumi sudah lebih dahulu menjadi rumah.


Daratan berubah.


Laut datang dan pergi.


Gunung lahir.


Sungai mencari jalannya sendiri.


Hutan tumbuh di atas tanah yang pernah menjadi dasar laut.


Dan manusia datang jauh kemudian, membawa api, bahasa, ingatan, dan pertanyaan.


Dari sanalah sebuah kisah dimulai.


Bukan di istana.


Bukan di medan perang.


Tetapi di sebuah pulau yang bahkan belum memiliki nama.


---


BAB I


ANAK YANG BERTANYA KEPADA LANGIT


Tahun 2126.


Namanya Raka.


Usianya enam belas tahun.


Ia tinggal di sebuah kota pesisir yang dibangun di atas daratan lama yang sebagian telah ditelan laut.


Pada malam ulang tahunnya, Raka bertanya kepada neneknya:


“Apakah benar dahulu pulau-pulau ini pernah tersambung?”


Neneknya tidak langsung menjawab.


Ia menunjuk layar kaca di ruang keluarga.


Di sana terbentang peta bumi dari ribuan tahun yang lalu.


Garis pantai berubah.


Laut menyusut.


Kemudian meluas kembali.


Sebuah daratan besar muncul di antara wilayah yang sekarang dikenal sebagai Asia Tenggara.


Raka mendekat.


“Ini apa?”


“Para ilmuwan menyebutnya Sundaland,” jawab neneknya.


“Berarti kita dulu satu daratan?”


“Jangan terlalu cepat menyimpulkan.”


Neneknya tersenyum.


“Ilmu pengetahuan boleh bertanya. Legenda juga boleh bercerita. Tetapi manusia harus belajar membedakan keduanya.”


Raka memandang peta itu.


Untuk pertama kalinya ia menyadari sesuatu.


Tanah yang sekarang tampak terpisah oleh laut mungkin pernah mempunyai sejarah yang jauh lebih panjang daripada nama-nama negara.


“Kalau begitu,” katanya, “siapa manusia pertama yang berjalan di sana?”


Neneknya menatapnya.


“Pertanyaan itu lebih tua daripada semua kerajaan yang pernah kamu pelajari.”


Malam itu Raka tidak tidur.


Ia membuka jaringan arsip dunia.


Tetapi bukan sejarah modern yang dicarinya.


Ia mencari kata:


NUSANTARA.


---


BAB II


PETA YANG TIDAK SEHARUSNYA ADA


Pagi berikutnya Raka pergi ke Perpustakaan Alam Nusantara.


Gedung itu tidak mempunyai rak buku sebanyak perpustakaan masa lalu.


Sebagian besar pengetahuan tersimpan sebagai arsip cahaya.


Raka memasukkan kata pencarian:


Sundaland.


Kemudian:


Nusantara purba.


Kemudian:


pelayaran kuno.


Sistem menampilkan ribuan dokumen.


Namun sebuah berkas tua muncul paling atas.


Tidak mempunyai nama penulis.


Tidak mempunyai tanggal.


Hanya satu judul:


PETA YANG MENUNGGU.


Raka mengerutkan dahi.


Ia membukanya.


Sebuah peta muncul.


Tetapi peta itu berbeda dengan semua peta yang pernah ia lihat.


Tidak hanya menunjukkan daratan.


Ia menunjukkan angin.


Arus laut.


Sungai.


Gunung.


Bintang.


Dan jalur perjalanan manusia.


Di tengah peta terdapat sebuah lingkaran besar.


Di bawahnya tertulis satu kata:


MANDALA.


Raka menyentuh layar.


Seketika sistem mati.


Semua cahaya perpustakaan padam.


Kemudian terdengar suara.


“Jangan mencari siapa yang memiliki Nusantara.”


Raka terkejut.


“Siapa?”


Suara itu kembali terdengar.


“Carilah siapa yang menjaga ingatannya.”


Lampu menyala.


Peta menghilang.


Tetapi satu titik merah masih tertinggal.


Gunung Tidar.


---


BAB III


PEREMPUAN DI BAWAH GUNUNG


Tiga hari kemudian Raka tiba di Magelang.


Di bawah Gunung Tidar berdiri sebuah pusat penelitian tua.


Di pintunya tertulis:


LABORATORIUM MANUSIA DAN INGATAN.


Raka menunjukkan kode dari peta.


Pintu terbuka.


Di dalamnya seorang perempuan tua sedang membaca manuskrip digital.


Namanya Dr. Anjani.


Raka menyerahkan salinan peta.


Anjani tidak bertanya dari mana ia mendapatkannya.


Ia hanya melihat peta itu selama beberapa detik.


Kemudian berkata:


“Jadi akhirnya peta itu menemukanmu.”


Raka terdiam.


“Peta ini milik siapa?”


“Tidak ada yang tahu.”


“Dibuat kapan?”


“Tidak ada yang tahu.”


“Lalu kenapa Ibu menyimpannya?”


Anjani berdiri.


“Karena kadang-kadang manusia menemukan sesuatu bukan untuk segera menjawabnya.”


Ia berjalan menuju sebuah ruang bawah tanah.


Raka mengikutinya.


Di sana terdapat ribuan arsip.


Sutasoma.


Nagarakretagama.


Prasasti.


Babad.


Catatan pelayaran.


Gambar kapal.


Peta sungai.


Catatan pertanian.


Rumah tradisional.


Dan rekaman lisan dari berbagai pelosok kepulauan.


Raka terpaku.


“Semua ini milik Indonesia?”


Anjani menggeleng.


“Lebih tua dari itu.”


“Lalu milik siapa?”


Anjani menatapnya.


“Pertanyaan yang lebih baik adalah: siapa yang bersedia mempelajarinya?”


---


BAB IV


KATA-KATA YANG MENJADI JALAN


Anjani membawa Raka ke sebuah ruangan.


Di sana sebuah naskah diproyeksikan dalam cahaya.


Kakawin Sutasoma.


“Baca,” kata Anjani.


Raka membaca.


Kemudian Anjani membuka arsip lain.


Nagarakretagama.


Kemudian peta pelayaran.


Kemudian gambar kapal Pinisi.


Kemudian sistem Subak.


Kemudian Borobudur.


Raka bingung.


“Apa hubungan semuanya?”


Anjani tersenyum.


“Itulah yang belum selesai kita pahami.”


Ia menunjuk kapal Pinisi.


“Yang satu mengajarkan manusia membaca laut.”


Ia menunjuk Subak.


“Yang lain mengajarkan manusia membagi air.”


Ia menunjuk Borobudur.


“Yang lain mengajarkan manusia membangun ruang.”


Ia menunjuk Sutasoma.


“Dan yang ini mengajarkan manusia hidup bersama dalam perbedaan.”


Kemudian ia menunjuk peta.


“Kalau semuanya bukan potongan-potongan yang terpisah?”


Raka mulai memahami.


“Berarti... semuanya bisa menjadi satu sistem?”


Anjani tidak menjawab.


Ia hanya berkata:


“Sekarang kamu mulai membaca.”


---


BAB V


TANAH BERU


Perjalanan pertama mereka membawa Raka ke Sulawesi Selatan.


Tanah Beru.


Di sana ia melihat Pinisi dibangun.


Tidak ada robot yang menggantikan semua pekerjaan.


Ada tangan manusia.


Ada kayu.


Ada suara palu.


Ada pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi.


Seorang pembuat kapal tua berkata:


“Anak muda, kapal tidak hanya dibuat dari kayu.”


Raka bertanya:


“Dari apa?”


“Dari pengetahuan.”


Ia menunjuk lambung kapal.


“Kayu harus tahu tempatnya.”


Ia menunjuk sambungan.


“Setiap bagian harus percaya kepada bagian lain.”


Raka tersenyum.


Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang pernah ia baca.


Berbeda-beda, tetapi menjadi satu.


Malamnya ia bertanya kepada Anjani:


“Apakah leluhur kita sudah memikirkan teknologi seperti ini?”


“Jangan mengarang sejarah,” jawab Anjani.


Raka terdiam.


Anjani kemudian tersenyum.


“Tapi kamu boleh mengarang masa depan.”


Kalimat itu mengubah semuanya.


---


BAB VI


KAPAL YANG BELUM ADA


Malam itu Raka membuka buku catatannya.


Ia menggambar sebuah kapal.


Bukan kapal laut.


Bukan pesawat.


Sebuah kapal berbentuk lingkaran.


Bertingkat.


Seperti mandala.


Di sekelilingnya ia menggambar stupa.


Kemudian ia menulis:


PINISI + MANDALA + AI + ENERGI + RUANG ANGKASA


Ia tertawa sendiri.


“Gila.”


Anjani melihat gambar itu.


“Tidak.”


“Tidak gila?”


“Belum tentu.”


Raka menatapnya.


Anjani menunjuk satu kata di bawah gambar.


NUSANTARA.


“Semua peradaban besar pernah berani membayangkan sesuatu yang belum ada.”


Ia mengambil pena.


Di bawah gambar Raka, ia menambahkan satu kalimat:


“Jangan membuat kapal untuk menaklukkan bintang. Buat kapal untuk membawa manusia mengenal kembali rumahnya.”


Raka membaca kalimat itu lama.


Di luar laboratorium, Gunung Tidar berdiri dalam gelap.


Di atasnya bintang-bintang menyala.


Tidak ada seorang pun di antara mereka yang tahu bahwa dua puluh tahun kemudian, gambar sederhana seorang anak enam belas tahun itu akan menjadi rancangan pertama sebuah kapal yang mengubah sejarah manusia.


Namanya belum ada.


Tetapi suatu hari nanti manusia akan menyebutnya:


ARMADA MANDALA.


Dan perjalanan itu akan dimulai bukan dari luar angkasa.


Melainkan dari ingatan.


BERSAMBUNG.

Artikel Lainnya