Budaya sepakbola kita, adalah sepakbola tarkam. Seharusnya, PSSI mengadopsi budaya tarkam, sebagai simbol simpul karakter orang Indonesia. PSSI seharusnya wajib mewadahi ikon-ikon tarkam, untuk dijadikan filosofi sepakbola, dengan cara-cara modern.
Demikian, gagasan dan ide Iwan Fals, ketika mampir ke wadah kompetisi youth development – grassroot Liga Jakarta U-15 dan U-17, yang dioperatori mBah Coco, sejak 2025 lalu. Kini, di Liga Jakarta U-15 dan U-16 musim 2026, sudah memasuki putaran kedua, dalam format kompetisi home and away (bukan turnamen).
“Apa yang dimaksud dengan Liga Tarkam, Wan” tanya mBah Coco.
“Ada ekosistem yang langsung dibangun, jika dilakukan Liga Tarkam. Semua unsur keluarga ikut langsung terlibat. Ada Liga Anak, ada Liga Remaja, dan Liga Orang Dewasa,” tutur Virgiawan Listianto.
Organisasi PSSI, jika bisa menggelar liga-liga tarkam dari usia anak-anak hingga dewasa di desa-desa, kelurahan, kecamatan hingga provinsi. Ekosistemnya secara otomatis bisa berjalan.
“Bahkan, semua warga saling gotong royong, ada yang bermain bola, atau semua cabang olahraga, dan ada yang membidani masalah disiplin mental, disiplin gisi, dan disiplin kesehatan, menjadi saling tumbuh membantu,” lanjutnya.
Saat ini, menurut Iwan Fals, PSSI sepertinya suka-suka pemimpinnya. Bahkan, kalau melihat berita-berita di luar negeri, Iwan nggak pernah mengenal atau membaca siapa saja para pemimpin PSSInya negara Jerman, Brasil, Argentina, Inggris, atau Jepang.
“Di Indonesia, yang terkenal bukan pemainnya, tapi ketua umumnya, aneh bin ajaib?” tuturnya.
Harusnya, dari penjelasan Iwan Fals, menurut presepsi mBah Coco, dari contoh yang diceritakan baru-baru ini (6 – 7 Oktober 2026). “Perpisahan Lionel Messi, bisa mendatangkan dan disaksikan hampir satu atau dua juta penduduk Buenos Aires.
“Bahkan berlangsung dua hari. Di Jakarta, apa bisa nanti Marselino Ferdinan saat gantung sepatu, bisa seperti Messi?” tanya Iwan Fals, yang pernah menelorkan lagu tentang sepakbola, berjudul “Mereka Ada Di Jalan” dari album “Belum Ada Judul.”
“Wan, coba lanjut penjelasan soal Liga Tarkam tadi,” lanjut mBah Coco.
Iwan Fals menjelaskan, bahwa skuad tim Indonesia U-17, U-19 atau U-20, yang dipantaunya dari baca-baca di medsos, tidak ada pemain yang berasal dari Papua, Maluku atau Indonesia Timur. “Emang di Papua sudah tidak ada lagi pemain bola?” tanya Iwan
Sejak jaman Pak Harto hingga Pak Prabowo, ada pertanyaan klasik. Jaman Pak Harto, yang jadi pertanyaan. Mengapa penduduk Indonesia berjumlah 150 juta, tak bisa melahirkan 11 pemain nasional Indonesia? Sekarang, di jaman Pak Prabowo, pertanyaan berulang. Mengapa dengan 280 juta penduduk Indonesia, masih bertanya tentang hal yang sama?
Sementara, Tanjung Verde atau Cape Verde, hanya dengan penduduk 500 ribu, dan mungkin hanya punya sekitar 500-an pemain bola, bisa meloloskan Cape Verde ke putaran final FIFA World Cup 2026.
“Makanya, jika semua penduduk Indonesia, yang punya budaya akut, yaitu bola tarkam digalakkan sampai ke ujug desa, sepertinya ekosistem sepakbola modern bisa tercapai. Saat ini, PSSI hanya doyan ngurus pemain bule, tapi tak mengenal budaya bola Indonesia,” jawab Iwan Fals.
Sebentar lagi, Sumpah Pemuda, memasuki 98 tahun, atau tahun 2028 mendatang, usia Sumpah Pemuda, memasuki 100 tahun atau satu abad. “Kira-kira Erick Thohir dan kawan-kawan bisa berbuat apa dengan tagline Sumpah Pemuda, yang sebenar-benarnya. Bisakah buat warisan untuk bangsa sendiri?”
Saran Iwan Fals kepada PSSI, sebaliknya konsep pembinaan sepakbola Indonesia, cukup menyontek sistem pembinaan dari negara-negara maju, termasuk dari Belanda. Bukan, seperti orang frustasi. Yaitu, gunakan jalan pintas, nyomot pemain Belanda. Kemudian, deklarasi, bahwa mereka anak Indonesia juga.
“Liga Tarkam, jika dikelola dengan manajemen modern, dengan taktik strategi modern, sesuai ekosistem budaya orang Indonesia. Sepertinya, untuk menuju industri sepakbola yang sebenarnya, bisa terlaksana. Saat ini, menurut Iwan Fals, industri sepakbola, hanya sebatas di Jakarta saja.
“Di kota-kota lain tak ada namanya industri dan ekosistem sepakbola,”
Warga di desa, diminta menanam tanaman bergizi, untuk kebutuhan atlet Liga Tarkam. Warga masyarakat di desa, bisa beternak ayam, kambing dan sapi, untuk kebutuhan warganya yang membutuhkan menu protein kebutuhan para atlet. Semuanya, bisa dilakukan dari desa ke desa. Anak-anak sekolah kesehatan, bisa diajarkan membuat vitamin di desa-desa.
Pelatih, wasit dan pengurus PSSI, jangan hanya duduk-duduk di ruangan berAC. Mereka, bisa disubsidi negara dan pemerintah, untuk bisa turun ke desa-desa, agar merasa memiliki sepakbola, bergaya tarkam. “Itulah sejatinya filososi sepakbola Indonesia,” tegasnya.
“Apa yang perlu ditanyakan ke PSSI, untuk terakhir kalinya, Wan” tanya mBah Coco.
“Erick Thohir, tidak selamanya ada di PSSI. Jika nanti mundur atau dimundurkan, apakah penggantinya bisa menyambung konsepnya Erick? Kalau tidak bisa, apa solusinya? Karena, sepakbola Indonesia, masih mengikuti kemauan rezim politik. Kalau terus menerus berpolitik, sepakbola Indonesia, apa bisa maju, modern dan profesional?”
Catatan:
Seusai nonton lanjutan kompetisi home and away Liga Jakarta U-17, Iwan Fals tidak beranjak dari tempat duduk. “Gue mau nonton anak-anak cara latihan,” jawabnya.
Pukul 14.00 Wib, ada 90 menit sekolah sepakbola bernama French Football Academy Jakarta, lembaga sekolah sepakbola, yang dimiliki resmi federasi sepakbola Perancis (FFF), dipimpin Direktur Teknik, Nicolas Possetti, yang diawasi langsung Jean-Claude Lafargue, mantan direktur INF.
INF Clairefontaine, adalah sekolah sepakbola Perancis kelas satu yang melahirkan William Gallas, Louis Saha, Blaise Mutuidi, Nicolas Anelka, Thierry Henry, dan Kylian Mbappe.
“Mereka anak-anak bayar berapa di situ,” tanya Iwan
“Sebulan, ada yang bayar Rp 1.5 sampai 3 juta,’ jawab mBah Coco.
“Mahal juga ya, belum lagi orang tuanya ikutan nganter,” celetuk Iwan."
Bagaimana, dengan lirik-lirik lagu “Mereka Ada Di Jalan” Wan, sepertinya bertolak belakang? Sepakbola pada jaman “now” dan jaman “rikiblik”, sambil mengutip liriknya, sbb:
Pukul tiga sore hari
Di jalan yang belum jadi
Aku melihat anak-anak kecil
Telanjang dada, telanjang kaki
Asyik mengejar bola
Kuhampiri, kudekati
Lalu duduk di tanah yang lebih tinggi
Agar lebih jelas lihat dan rasakan
Semangat mereka, keringat mereka
Dalam memenangkan permainan
Ramang kecil, Kadir kecil
Menggiring bola di jalanan
Ruli kecil, Riki kecil
Lika-liku jebolkan gawang
Tiang gawang puing-puing
Sisa bangunan yang tergusur
Tanah lapang hanya tinggal cerita
Yang nampak mata hanya
Para pembual saja
Anak kota tak mampu beli sepatu
Anak kota tak punya tanah lapang
Sepak bola menjadi barang yang mahal
Milik mereka yang punya uang saja
Dan sementara kita di sini di jalan ini
Bola kaki dari plastik
Ditendang mampir ke langit
Pecahlah sudah kaca jendela hati
Sebab terkena bola
Tentu bukan salah mereka
Roni kecil, Heri kecil
Gaya samba sodorkan bola
Nobon kecil, Juki kecil
Jegal lawan amankan gawang
Cipto kecil, Suwadi kecil
Tak-tik tik-tak terinjak paku
Yudo kecil, Paslah kecil
Terkam bola jatuh menangis
Ilustrasi gambar dipersembahkan Tjandra Moh Amin