Home › Nasional

Buka IES, Menag: Masjid Harus Jadi Pusat Pemberdayaan Ekonomi Umat

Oleh : rio apricianditho - Jum'at, 30/10/2026 19:53 WIB


Buka IES, Menag: Masjid Harus Jadi Pusat Pemberdayaan Ekonomi Umat

Jakarta, INDONEWS.ID - Menteri Agama Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar mendorong penguatan ekonomi syariah melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ekonomi produktif umat. Menurutnya, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga dapat menjadi ruang pengembangan pendidikan, keterampilan, olahraga, hingga kegiatan ekonomi masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Nasaruddin Umar saat membuka Indonesia Ekonomi Syariah (IES). Dalam kesempatan itu, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem ekonomi syariah yang mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Ia mencontohkan, masjid dapat dikembangkan menjadi pusat berbagai aktivitas pemberdayaan. Mulai dari penyediaan pendidikan, perpustakaan publik, fasilitas olahraga, pembelajaran bahasa Arab dan Inggris, hingga pusat kuliner dan minimarket yang terjamin kehalalannya.

"Masjid juga bisa menjadi salah satu pusat pemberdayaan umat," menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan Menag.

Menurut Nasaruddin, pengembangan ekonomi umat perlu dilakukan secara nyata dengan memberikan ruang bagi para pelaku usaha, termasuk pengrajin dan pengusaha mikro, untuk menampilkan sekaligus memasarkan produk mereka. Dengan demikian, potensi ekonomi masyarakat dapat berkembang dan memberikan nilai tambah.

Ia juga menyoroti ketahanan ekonomi Indonesia yang salah satunya ditopang oleh kekuatan pasar domestik. Di tengah berbagai gejolak ekonomi dunia, pasar dalam negeri menjadi salah satu faktor penting yang membuat Indonesia mampu mempertahankan aktivitas ekonominya.

Karena itu, penguatan ekonomi mikro dan koperasi perlu terus didorong agar masyarakat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga mampu menghasilkan produk yang memiliki daya saing.

Nasaruddin turut mengaitkan pemberdayaan ekonomi dengan peran pesantren dan para santri. Menurutnya, santri ke depan diharapkan tidak hanya memiliki kemampuan membaca dan memahami kitab kuning, tetapi juga dibekali keterampilan menghasilkan karya produktif yang memiliki nilai ekonomi.

Momentum Hari Santri yang diperingati setiap 22 Oktober, menurutnya, dapat menjadi pengingat pentingnya membangun kemandirian ekonomi umat melalui pendidikan, keterampilan, dan kewirausahaan.

Melalui penguatan ekonomi syariah, pemberdayaan masjid, pesantren, koperasi, serta usaha mikro, diharapkan umat Islam dapat mengambil peran lebih besar dalam menggerakkan perekonomian nasional.

Ekonomi syariah pun tidak semata-mata berbicara tentang sistem keuangan, tetapi juga tentang bagaimana menciptakan kesejahteraan, membuka kesempatan usaha, dan menghadirkan manfaat ekonomi yang dapat dirasakan masyarakat luas.

Artikel Lainnya