Home › Nasional

Apresiasi Aksi Salib Merah, PEKAT: Kritik Pigai Justru Bentuk Pembangkangan terhadap Presiden Prabowo

Oleh : indonews - Jum'at, 30/10/2026 21:25 WIB


Apresiasi Aksi Salib Merah, PEKAT: Kritik Pigai Justru Bentuk Pembangkangan terhadap Presiden Prabowo

Jakarta, INDONEWS.ID – Pemuda Katolik Timur (PEKAT) mengapresiasi aksi “Salib Merah Raksasa” yang dibawa kader Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) dalam demonstrasi peringatan Sumpah Pemuda di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Rabu (28/10/2026). PEKAT menilai aksi tersebut sebagai bentuk kepedulian publik sekaligus simbolisasi kegelisahan mendalam Presiden Prabowo Subianto atas kondisi riil perekonomian dan tata kelola negara saat ini.

Wakil Sekretaris Jenderal PEKAT, Rikard Djegadut, mengatakan aksi itu patut dibaca sebagai suara kepedulian dan luapan protes atas kondisi bangsa sebagai akibat dari tata kelola negara yang buruk oleh elit negeri dewasa ini. Bagi PEKAT, kata Rikard, pesan yang dibawa massa aksi sejalan dengan agenda Presiden untuk menghentikan pengikisan sumber daya negara yang telah berlangsung secara sistemik.

“Aksi Salib Merah ini harus kita baca sebagai suara kepedulian. Publik sedang mengingatkan bahwa ada yang bocor dari tubuh bangsa ini, dan kebocoran itu harus segera dihentikan,” ujar Rikard di Jakarta, Rabu (30/10/26).

Rikard menjelaskan, secara visual aksi Salib Merah juga dapat dimaknai sebagai simbol Palang Merah, lambang pertolongan dalam keadaan darurat. Dimana kebocoran anggaran diibaratkan sebagai pendarahan hebat yang menguras darah bangsa, maka tubuh butuh pertolongan segera di IGD.

“Aksi Salib Merah ini secara visual bisa juga dibaca sebagai simbol Palang Merah. Ketika kebocoran anggaran diibaratkan sebagai pendarahan hebat yang menguras darah bangsa, tubuh Indonesia memang sudah berada dalam kondisi gawat darurat dan butuh pertolongan segera di IGD,” katanya.

Ia menambahkan, salib sama sisi pada simbol tersebut memuat filosofi pertolongan universal tanpa memandang perbedaan, sekaligus panggilan moral untuk melakukan pemulihan yang nyata.

“Secara filosofis, empat lengan simetris pada simbol tersebut melambangkan keseimbangan, perlindungan, dan kesetaraan dalam menyelamatkan kehidupan. Gerakan menghentikan kebocoran uang negara bukan sekadar agenda politik, melainkan imperatif moral untuk memulihkan dan menyelamatkan kelangsungan hidup bangsa,” jelasnya.

Kritik Pigai Dinilai Bertentangan dengan Seruan Presiden

Rikard juga menanggapi pernyataan Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai yang mengkritik aksi tersebut. Melalui akun X miliknya, Pigai menyatakan salib dilarang untuk kepentingan politik dan menilai membawa salib dalam aksi itu seperti menentang program pemerintah.

Menurut Rikard, sikap Pigai justru merupakan bentuk pembangkangan terhadap Presiden Prabowo. Pasalnya, pesan yang disuarakan massa aksi adalah pesan yang selama ini diserukan Presiden sendiri.

“Presiden sudah berulang kali mengingatkan bahwa kekayaan bangsa ini bocor dan harus diselamatkan. Ketika mahasiswa menyuarakan hal yang sama, seorang menteri malah menyerangnya. Itu bukan membela Presiden, melainkan pembangkangan terhadap seruan Presiden sendiri,” tegas Rikard.

Ia menambahkan, seorang pembantu Presiden semestinya menangkap pesan moral di balik aksi, bukan mempersoalkan simbolnya. Salib itu dibawa untuk membela rakyat yang dirugikan oleh kebocoran kekayaan negara.

"Itu sejalan dengan semangat membela kaum papa yang disebut Pak Pigai sendiri. Yang perlu dibenahi adalah kebocorannya, bukan suara yang mengingatkannya,” ujarnya.

Atas dasar itu, Rikard berharap aksi Salib Merah Raksasa diapresiasi sebagai bentuk partisipasi publik untuk menyelamatkan Indonesia dari kerugian yang lebih besar.

“Kepedulian publik seperti ini harus dibaca sebagai dukungan, bukan ancaman. Bangsa yang sedang berdarah butuh banyak tangan untuk menghentikan pendarahannya,” katanya.

Seruan Lama Prabowo dalam Paradoks Indonesia

Rikard mengingatkan, kegelisahan serupa telah lama dituliskan Presiden Prabowo. Dalam buku Paradoks Indonesia dan Solusinya (Media Pandu Bangsa, cetakan ketiga, 2022), Prabowo menyebut mengalirnya kekayaan nasional ke luar negeri sebagai penyakit paling mendesak dalam tubuh ekonomi Indonesia.

“Uang bagi suatu negara, kekayaan bagi suatu bangsa, adalah sama dengan darah,” tulis Prabowo di halaman 45 buku tersebut. Ia menambahkan, ekonomi Indonesia sudah berdarah selama puluhan tahun, bahkan ratusan tahun bila dihitung sejak zaman penjajahan.

Seruan itu kembali ditegaskan Prabowo dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Rabu (21/10/2026), sepekan sebelum aksi berlangsung.

“Kalau darah kita bocor terus, tidak mungkin badan kita selamat,” kata Prabowo.

Pemuda Katolik Timur (PEKAT) adalah sebuah organisasi kemasyarakatan yang didirikan oleh sekelompok generasi muda Katolik asal wilayah Timur Indonesia yang berdomisili di Jakarta. Ini merupakan wadah independen bagi anak-anak muda Katolik Timur untuk bersuara, mengadvokasi isu-isu sosial, budaya, keagamaan, serta dinamika kemasyarakatan.


Artikel Lainnya