Jakarta, INDONEWS.ID – Gencatan senjata lokal di sekitar kota Oleshky, wilayah Kherson, Ukraina, berakhir pada Minggu (1/11/2026) tengah malam waktu setempat. Rusia dilaporkan menolak tawaran Ukraina untuk memperpanjang jeda tembak yang dimediasi Ibu Negara Amerika Serikat (AS) Melania Trump tersebut, sementara Kyiv khawatir pertempuran justru akan lebih sengit setelahnya.
Seorang pejabat senior Kyiv menyatakan Kementerian Luar Negeri Ukraina telah menawarkan perpanjangan gencatan senjata, tetapi Moskwa tidak menghendakinya, sebagaimana dilansir Kumparan dari AFP. Hingga gencatan berakhir, tidak ada pihak yang melaporkan pelanggaran.
Seorang anggota parlemen Ukraina menyebut jeda tembak itu sebagai "de-eskalasi terbesar sejak 2022".
Dimediasi Melania Trump
Gencatan senjata ini terbatas di sekitar Oleshky, kota di tepi timur Sungai Dnipro yang diduduki Rusia. Gedung Putih menyebut Melania Trump dan perwakilannya bekerja langsung dengan pimpinan Rusia dan Ukraina selama berpekan-pekan untuk menyusun ketentuannya.
Tujuan utamanya adalah membuka jalur aman bagi misi kemanusiaan. Kementerian Pertahanan Rusia melalui Telegram menyatakan pasukannya menghentikan tembakan di arah Kherson untuk operasi kemanusiaan tersebut. Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov memberikan apresiasi atas kontribusi Melania Trump.
Selama gencatan berlaku, warga Oleshky dievakuasi menggunakan bus melalui wilayah Belarus sebelum masuk kembali ke Ukraina di Oblast Chernihiv. Melania Trump menyebut konvoi dapat mengevakuasi lebih dari 750 orang, meski angka akhir belum dikonfirmasi kedua pihak. Otoritas setempat memperkirakan sekitar 2.000 orang masih bertahan di Oleshky.
Jeda yang Dimanfaatkan Warga
Bagi warga Kherson, jeda singkat itu menjadi kesempatan langka untuk beraktivitas tanpa ancaman serangan. Volodymyr Omeltchenko, tukang kebun berusia 38 tahun, menyebutnya sebagai napas segar.
"Kami harus memanfaatkan waktu ini untuk menyelesaikan berbagai hal," kata Omeltchenko.
Menjelang berakhirnya gencatan senjata, Gubernur Kherson Oleksandr Prokudin meminta warga tetap waspada dan segera merespons peringatan serangan Rusia.
Kekhawatiran di Balik Jeda Tembak
Di sisi lain, jeda tembak itu menyisakan kekhawatiran. Seorang perwira militer Ukraina yang tidak disebutkan namanya menilai pasukan Rusia di seberang Sungai Dnipro memanfaatkan masa tenang untuk menambah personel, memindahkan amunisi, dan mengumpulkan data posisi Ukraina dengan drone pengintai.
Komisioner Hak Asasi Manusia Parlemen Ukraina Dmytro Lubinets juga mengingatkan, misi kemanusiaan yang berulang dapat dimanfaatkan Rusia untuk memusatkan pasukan dan sumber daya.
Kesepakatan Oleshky sebelumnya disebut membuka peluang pengiriman bantuan kemanusiaan rutin dan upaya pemulangan warga di komunitas lain di wilayah Kherson. Paus Leo juga berharap jeda tersebut mendorong dialog dan inisiatif perdamaian baru.
Namun, dengan penolakan Moskwa untuk memperpanjang gencatan senjata, nasib ribuan warga yang masih tertahan di Oleshky kembali bergantung pada dinamika medan perang di tepi Sungai Dnipro.