Home › Gaya Hidup

HMVA UI Gelar INSPO 2.0, Tingkatkan Pemahaman Sejarah melalui Kunjungan Edukatif ke Museum Joang ’45

Oleh : rio apricianditho - Sabtu, 07/11/2026 20:45 WIB


HMVA UI Gelar INSPO 2.0, Tingkatkan Pemahaman Sejarah melalui Kunjungan Edukatif ke Museum Joang ’45

Jakarta, INDONEWS.ID - Himpunan Mahasiswa Vokasi Akuntansi Universitas Indonesia (HMVA UI) melalui program pengabdian kepada masyarakat INSPO 2.0 menyelenggarakan kegiatan pembelajaran sejarah bagi siswa/i Salsabil Homeschooling pada 30–31 Oktober 2026. Mengangkat tema “Merdeka: Dulu, Kini, dan Kita”, kegiatan ini mengajak peserta menelusuri perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui pembekalan materi dan kunjungan edukatif ke Museum Joang ’45, Jakarta Pusat.

INSPO 2.0 dirancang untuk menghadirkan pembelajaran sejarah yang lebih kontekstual melalui pengalaman langsung. Berdasarkan survei awal terhadap 19 siswa/i Salsabil Homeschooling, sebanyak 78,94% peserta belum pernah mengunjungi museum. Survei tersebut juga mencatat rata-rata pemahaman peserta mengenai peran tokoh nasional sebesar 2,73 dari skala 5 dan kemampuan menceritakan kembali sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia sebesar 2,63 dari skala 5. Sementara itu, keinginan peserta untuk mengikuti pembelajaran berbasis pengalaman mencapai rata-rata 4,79 dari skala 5.

Temuan tersebut menjadi dasar untuk menghadirkan metode pembelajaran yang tidak hanya mengandalkan penyampaian materi, tetapi juga melibatkan peserta dalam eksplorasi sejarah secara langsung. Dengan demikian, sejarah tidak berhenti sebagai informasi yang dihafalkan, melainkan menjadi pengetahuan yang dapat diamati, dipahami, dan direfleksikan melalui pengalaman.

Rangkaian kegiatan dimulai pada di Salsabil Homeschooling melalui pembekalan materi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Peserta mengikuti pre-test untuk mengukur pemahaman awal, kemudian mempelajari perjalanan bangsa menuju kemerdekaan, mulai dari pergerakan nasional, Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, hingga perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Peserta juga memperoleh pengenalan mengenai Museum Joang ’45 serta penjelasan teknis dan tata tertib kunjungan.

kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan edukatif ke Museum Joang ’45. Didampingi panitia dan pemandu museum, peserta mengikuti tur untuk mengenal koleksi dan dokumentasi sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kegiatan juga mencakup diskusi dan tanya jawab, eksplorasi koleksi, serta aktivitas museum mission yang mengajak peserta mengamati dan menggali informasi dari objek bersejarah. Melalui rangkaian ini, peserta memperoleh kesempatan untuk menghubungkan materi yang telah dipelajari dengan bukti sejarah yang ditemui secara langsung.

Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan nilai pada peserta yang memiliki data pre-test dan post-test yang dapat dicocokkan. Dari enam peserta tersebut, nilai rata-rata meningkat dari 78,33 menjadi 90 dari skala 100, atau naik sekitar 11,67 poin. Lima peserta mengalami peningkatan nilai, sedangkan satu peserta mempertahankan nilai yang sama. Hasil ini memberikan gambaran awal mengenai perubahan pemahaman peserta yang datanya dapat dibandingkan, meskipun belum mewakili keseluruhan peserta.

Pendekatan pembelajaran tersebut sejalan dengan kajian Marpelina, Sariyatun, dan Andayani (2024) dalam KnE Social Sciences, yang menggarisbawahi pentingnya transformasi pembelajaran sejarah melalui metode yang lebih interaktif, beragam, dan dekat dengan perkembangan cara belajar generasi masa kini. Kajian tersebut menyoroti pemanfaatan media dan teknologi untuk membuat pembelajaran sejarah lebih menarik serta mendorong keterlibatan peserta didik.

Studi Fozia Umar mengenai pembelajaran sejarah berbasis teknologi juga menekankan bahwa keterlibatan peserta dengan sumber sejarah, dokumen, artefak, dan materi pembelajaran yang beragam dapat mendukung pemahaman kontekstual serta kemampuan berpikir kritis. Dalam konteks INSPO 2.0, kunjungan museum menjadi salah satu bentuk pengalaman belajar yang mempertemukan peserta dengan sumber sejarah secara langsung.

Selain menambah pengetahuan sejarah, INSPO 2.0 mengajak peserta memahami nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan kontribusi berbagai pihak dalam perjalanan kemerdekaan Indonesia. Pembelajaran tersebut diharapkan membantu peserta melihat sejarah tidak hanya sebagai rangkaian peristiwa masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari pembentukan sikap, empati, dan tanggung jawab generasi muda dalam kehidupan sehari-hari.

Andhita Yukihana R., Kaprodi Akuntansi Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia, menilai bahwa pembelajaran yang bermakna perlu menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengalaman nyata peserta didik.

“Pendidikan tidak cukup hanya membuat peserta didik mengetahui sesuatu. Pendidikan perlu membantu mereka memahami mengapa pengetahuan itu penting dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan. Melalui pengalaman belajar seperti INSPO 2.0, peserta tidak hanya mengenal peristiwa sejarah, tetapi juga belajar mengamati, bertanya, menghubungkan informasi, dan menarik makna. Inilah esensi pembelajaran kontekstual: pengetahuan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi tumbuh menjadi cara berpikir dan sikap dalam kehidupan,” ujar Andhita.

Bagi HMVA UI, INSPO 2.0 merupakan bagian dari komitmen berkelanjutan dalam mendukung pemerataan akses pendidikan melalui program pengabdian kepada masyarakat. Sejak 2011, HMVA UI telah menginisiasi dan mengembangkan Salsabil Homeschooling sebagai sekolah gratis bagi anak-anak dari kelompok masyarakat kurang mampu, anak putus sekolah, dan anak jalanan, melalui kerja sama dengan Yayasan Rabbani Sufi Institut Indonesia. Selama 15 tahun, program ini terus dilanjutkan secara estafet oleh mahasiswa Vokasi Akuntansi Universitas Indonesia sebagai bentuk kontribusi dalam mendukung keberlanjutan pendidikan anak-anak. Melalui INSPO 2.0, HMVA UI menghadirkan pengembangan pembelajaran sejarah yang lebih interaktif dan kontekstual agar peserta memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna.

Mila Viendyasari, Ketua Yayasan Ruang Karya Berdampak (RKD), memandang inisiatif seperti INSPO 2.0 sebagai contoh pentingnya kolaborasi lintas generasi dan lintas lembaga dalam memperluas kesempatan belajar bagi anak-anak.

“Pendidikan yang inklusif bukan semata-mata tentang membuka akses agar anak-anak dapat belajar. Lebih dari itu, pendidikan perlu menghadirkan pengalaman yang membuat mereka merasa dilibatkan, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk berkembang. Ketika mahasiswa hadir di tengah masyarakat, berbagi pengetahuan, dan merancang pengalaman belajar yang relevan, mereka sesungguhnya sedang membangun jembatan antara dunia pendidikan tinggi dan kebutuhan sosial. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh peserta kegiatan, tetapi juga membentuk kepekaan sosial dan tanggung jawab generasi muda yang terlibat,” ungkap Mila.

Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan Yayasan RKD yang mendorong kolaborasi dan karya berdampak melalui pendidikan, pengembangan kapasitas, serta keterlibatan masyarakat. Melalui berbagai inisiatif, RKD berupaya mendorong agar pengetahuan dan keterampilan tidak berhenti sebagai capaian individual, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kontribusi yang bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Wiratri Anindhita, Pembina Jejak Baik, menambahkan bahwa pembelajaran sejarah juga memiliki dimensi kemanusiaan yang penting bagi pembentukan karakter anak dan generasi muda. Menurutnya, mengenal perjuangan masa lalu seharusnya mendorong peserta didik untuk lebih peka terhadap kehidupan orang lain dan berani mengambil bagian dalam kebaikan di masa kini.

“Anak-anak tidak hanya perlu mengetahui siapa yang berjuang untuk kemerdekaan, tetapi juga memahami nilai-nilai yang membuat perjuangan itu berarti: kepedulian, keberanian, persatuan, dan kesediaan untuk melakukan sesuatu bagi sesama. Nilai-nilai tersebut akan lebih mudah tumbuh ketika anak memperoleh ruang untuk mengalami, berdialog, bekerja sama, dan merefleksikan apa yang mereka pelajari. Bagi kami, kebaikan tidak cukup hanya dikenalkan sebagai konsep. Kebaikan perlu dibiasakan melalui pengalaman dan tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten,” ujar Wiratri.

Semangat tersebut sejalan dengan kerja Jejak Baik yang selama ini mengembangkan kegiatan pendidikan dan sosial melalui pendekatan partisipatif, kreatif, dan berbasis pengalaman. Dalam berbagai kegiatan bersama anak-anak dan komunitas, Jejak Baik mengintegrasikan pembelajaran, permainan edukatif, dialog, serta aktivitas praktis. Inisiatif seperti Act to Care yang mengangkat pendidikan dan kepedulian lingkungan, maupun kegiatan RIMBUN yang mengajak anak belajar melalui praktik dan pengalaman langsung, menunjukkan bahwa pendidikan dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan pengetahuan sekaligus kepedulian sosial dan lingkungan.

Pendekatan ini menempatkan anak bukan sekadar sebagai penerima materi, melainkan sebagai peserta aktif yang diajak mengamati, bertanya, berinteraksi, dan mengambil pelajaran dari pengalaman. Dalam konteks INSPO 2.0, pengalaman berkunjung ke museum menjadi kesempatan untuk membangun hubungan antara pemahaman sejarah, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab sebagai warga negara.

Kolaborasi antara HMVA UI, Program Vokasi UI, Salsabil Homeschooling, Yayasan RKD, dan Jejak Baik memperlihatkan bahwa pendidikan yang berdampak membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Perguruan tinggi menghadirkan pengetahuan dan kapasitas akademik, mahasiswa mengembangkan kepemimpinan serta kepedulian sosial, sementara komunitas dan yayasan memperkuat keberlanjutan serta relevansi kegiatan dengan kebutuhan masyarakat.

HMVA UI menyampaikan terima kasih kepada pihak Salsabil Homeschooling, Museum Joang ’45, dosen pembimbing, serta seluruh panitia dan pihak yang telah mendukung pelaksanaan INSPO 2.0. Diharapkan kegiatan ini dapat menjadi bagian dari upaya berkelanjutan dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Pada akhirnya, mengenal sejarah bukan hanya tentang mengingat apa yang telah terjadi, melainkan memahami nilai yang diwariskan dan menentukan apa yang dapat dilakukan generasi hari ini. Sebab kemerdekaan bukan hanya warisan untuk dikenang, tetapi tanggung jawab untuk diteruskan melalui pengetahuan, kepedulian, dan tindakan nyata.

Artikel Lainnya