Ini Rahasia SMPN 33 Semarang menjadi Sekolah Ramah Anak
Tidak hanya Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), fasilitas lain juga dapat memperoleh status serupa dengan sebutan Ramah Anak. Salah satu yang sudah pasti harus Ramah Anak adalah tempat anak menghabiskan waktunya yakni sekolah. Kunjungan Media Trip KLA 2019 di Semarang menargetkan SMPN 33 Semarang yang masuk predikat Sekolah Ramah Anak (SRA).
Reporter: Tirto.p
Redaktur: indonews
Semarang, indonews.id – Tidak hanya Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA), fasilitas lain juga dapat memperoleh status serupa dengan sebutan Ramah Anak. Salah satu yang sudah pasti harus Ramah Anak adalah tempat anak menghabiskan waktunya yakni sekolah. Kunjungan Media Trip KLA 2019 di Semarang menargetkan SMPN 33 Semarang yang masuk predikat Sekolah Ramah Anak (SRA).
Sekolah ini tidak hanya SRA namun juga memiliki terobosan yang diakui dunia, yakni Agen Perubahan. Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi yang ikut mengunjungi SMPN 33 Semarang bertanya kepada salah satu anak yang menjadi Agen Perubahan, "Mas Alfiansyah, apa sih tugas kamu sebagai agen perubahan di sekolah ini?" tanya Wali Kota Semarang yang akrab disapa Hendi.
Alfiansyah menjawab bahwa tugas utamanya sebagai agen perubahan mencegah dan mengingatkan teman - teman mereka agar tidak melakukan perundungan.
Agen Perubahan dan citra "Sekolahku Rumah Keduaku" adalah kunci dan komitmen bagi SMPN 33 Semarang dalam meningkatkan dan mempertahankan predikat SRA.
"Sekolah ini dulunya termasuk sekolah terpencil, namun mengalami perkembangan yang cepat. Oleh karenanya, kami juga memilih kepala sekolah yang memiliki visi dan misi yang maju dan mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak. Saya juga orang tua yang memiliki 2 anak yang masih bersekolah. Saya tahu betul, jika mereka tidak nyaman di sekolah, maka mereka tidak akan maksimal dalam menyerap ilmu. Oleh karenanya, citra sekolahku rumah keduaku menjadi penting untuk diwujudkan demi menciptakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman bagi anak - anak kita," ujar Hendi di tengah kegiatan Media Trip Kota Layak Anak (KLA) 2019.
Elvi Hendrani, Asisten Deputi Pemenuhan Hak Anak atas Pendidikan, Kreativitas, dan Budaya KPPPA mengatakan bahwa menuju SRA adalah sebuah hijrah hati. Mengapa demikian? Para orang dewasa harus mengubah paradigma mereka untuk kepentingan terbaik anak. Semua orang dewasa di SRA menjadi orang tua dan sahabat anak dan bergerak dengan prinsip kepentingan terbaik bagi anak, mendidik dengan kasih sayang dan mendekatkan dirinya dengan anak - anak, atau contoh lain adalah penjaga perpustakaan yang harus menyediakan dan menyeleksi buku yang tidak mengandung informasi yang tidak layak bagi anak seperti pornografi, SARA, kekerasan, radikalisme dan lainnya bagi anak - anak.
Penjaga kantin juga harus sadar dengan hanya menyediakan makanan sehat untuk anak - anak dan warga sekolah lainnya. Intinya, sekolah harus bergerak melakukan upaya perlindungan terhadap semua hal yang membahayakan anak di sekolah. Elvi melanjutkan, melindungi anak harus dilakukan 24 jam. Adanya SRA menunjukkan komitmen Kota Semarang sebagai kategori Nindya KLA dalam melindungi sepertiga hidup anak, karena 8 jam seharinya bahkan bisa lebih lama anak berada di sekolah, sehingga sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak. Selama ini, anak tidak pernah ditanya apakah mereka merasa nyaman atau tidak di sekolah. Di SRA, justru keamanan dan kenyamanan anak menjadi tujuan.
Kepala sekolah SMPN 33 Semarang, Didik Teguh Prihanto mengatakan bahwa Agen Perubahan adalah ikon SMPN 33 Semarang yang telah didukung oleh United Nations Children`s Fund (UNICEF) untuk mencegah perundungan. Agen Perubahan dipilih oleh seluruh murid dan menghasilkan komitmen untuk mencegah perundungan dan menerapkan disiplin positif. Para guru juga mendorong murid agar selalu mengkomunikasikan permasalahan yang terjadi kepada guru.
Didik melanjutkan, citra Sekolahku Rumah Keduaku merupakan ruh bagi SMPN 33 Semarang agar bisa menjadi wadah bagi murid, guru, pegawai sekolah, orang tua murid dan komunitas lainnya terkait sekolah untuk saling berinteraksi.