Akui Jadi Bumper Jokowi, Ali Ngabalin: Ya, Saya Juga Adalah `Sang Penghancur`
Tenaga Ahli Utama Bidang Komunikasi Politik KSP Ali Mochtar Ngabalin bukan saja menjadi bumper pemerintah melainkan juga "the destroyer".
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Tenaga Ahli Utama Bidang Komunikasi Politik KSP Ali Mochtar Ngabalin membenarkan berbagai anggapan dan komentar terkait dirinya yang dijadikan bumper Istana untuk mengcounter berbagai isu dan program yang dicanangkan pemerintah. Ia menilai, dirinya bukan saja menjadi bumper pemerintah melainkan juga "the destroyer".
Hal itu dikatakannya merespon tulisan tentang dirinya yang dimuat dalam buku berjudul "Cerita dari Sudut Istana", di mana, dalam buku yang ditulis Jojo dan Alois ini, Ali Ngabalin diibaratkan sebagai bumper Jokowi untuk bisa mengcounter isu-isu, menjelaskan atau mengklarifikasi program-program pemerintah di berbagai media.
"Ya, saya bilang, bukan lagi bumper. Tapi saya memang `the destroyer" Kalau coba-coba anda mau melakukan apa-apa terhadap Jokowi, maka kau langkahi mayat Ali Mochtar Ngabalin," kata Ngabalin dalam acara peluncuran buku karya Aloisius Wisnuhardana dan Jojo Raharjo di Wisma Antara, Jakarta Pusat, Kamis (12/12/19).
Dalam ilmu komunikasi, Ali meneruskan, kita diajarkan tentang apa yang disebut dengan content analysis. Artinya, ia menambahkan, dalam hidup bernegara yang berdasarkan hukum, bila ada orang yang memanfaatkan firman Tuhan dan memutarbalikan ayat serta mencederai orang lain, ia pantas dilawan.
"Jika ada orang yang menyebarkan kebencian menggunakan firman-firman Tuhan, memutarbalikan ayat, mencederai, mencaci maki orang, mengkafir-kafirkan orang, meneraka-rakan orang, kau pasang badanmu untuk kematianmu. saya lawan, siapaun dia. Mau kyiai, mau nenek moyang dari manapun, saya akan melakukan perlawannan dengan anda," tegas Ali Mochtar yang kembali dipilih Jokowi jadi KSP ini.
Sehingga, Ali mengatakan, dirinya merasa tidak ada yang perlu dikhwatirkan dalam hal membangun satu narasi dan diksi sebagai seorang communicator. Apalagi dalam negara hukum seperti Indonesia ini.
Namun, melihat situasi politik Indonesia pasca pemilu yang kondusif, Ali menilai, perannya sebagai the destroyer tidak diperlukan lagi. Sebab, lanjutnya, sudah tidak ada lagi kubu 01 dan kubu 02, keduanya sudah bersatu.
"Maka saya bilang ke Jokowi, jika bapak terpilih lagi, saya berhenti, the destroyer tidak lagi harus diperlukan," tutupnya. *Rikardo).