indonews

indonews.id

Duh! Selain Soleimani, AS Juga Ternyata Berencana Bunuh Pejabat Militer Iran

Duh! Selain Soleimani, AS Juga Ternyata Berencana Bunuh Pejabat Militer Iran

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very
zoom-in Duh! Selain Soleimani, AS Juga Ternyata Berencana Bunuh Pejabat Militer Iran
Foto: Jenderal Iran Qassem Soleimani dan Presiden AS Donuld Trump, Abdul Reza Shahlai

Jakarta, INDONEWS.ID - Setelah kematian Qassem Soleimani, AS juga ternyata memiliki target pembunuhan pejabat militer Iran lain. Pejabat militer yang dimaksud adalah Abdul Reza Shahlai, seorang pemodal dan komandan kunci Pasukan Quds elit Iran di Yaman.

AS berencana membunuh pejabat tersebut bersamaan dengan pembunuhan Qassem Soleimani. Tapi, mereka gagal. Informasi soal rencana operasi pembunuhan tersebut pertama kali diungkap oleh Washington Post.

Mengutip CNN.com, sumber yang tidak mau disebutkan namanya, tak mau memberikan perincian tentang misi atau bagaimana AS berencana membunuh targetnya tersebut.

Sumber tersebut hanya menjelaskan sebelum operasi dilakukan, pada Desember lalu, Perwakilan Khusus Departemen Luar Negeri AS untuk Iran Brian Hook mengumumkan negaranya menawarkan imbalan hingga US$ 15 juta jika ada yang mau memberikan informasi tentang kegiatan keuangan, jaringan, dan rekanan Abdul Reza Shahlai.

Kemunculan informasi tersebut menimbulkan reaksi dari Kongres AS. Maklum, sebelum berita tersebut muncul, mereka memang sudah mempertanyakan keputusan tentara AS membunuh Qassem Soleimani.

"Kongres membutuhkan jawaban. Apa yang sepenuhnya direncanakan oleh administrasi Trump untuk membunuh para pejabat Iran? Bagaimana upaya pembunuhan di Yaman ada hubungannya dengan ancaman yang akan segera terjadi?" Republik Demokrat Ro Khanna dari California tweeted Jumat bereaksi terhadap berita.

Sementara itu, juru bicara Pentagon. Cmdr. Rebecca Rebarich menolak berkomentar mengenai tuduhan tersebut.

"Kami telah melihat laporan serangan udara 2 Januari di Yaman, yang telah lama dipahami sebagai tempat yang aman bagi teroris dan musuh lainnya ke Amerika Serikat. Departemen Pertahanan tidak membahas operasi yang diduga di kawasan itu," katanya.*

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas