Dikhwatirkan Jadi Kota Hantu, Ini Respon Kepala Otorita IKN
Sejumlah kalangan mengkhawatirkan ibu kota baru bakal menjadi kota hantu (ghost city) seperti Naypyidaw, Myanmar. Atas kekhawatiran ini, Kepala Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara Bambang Susantono pun angkat bicara.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: very
Jakarta, INDONEWS.ID - Sejumlah kalangan mengkhawatirkan ibu kota baru bakal menjadi kota hantu (ghost city) seperti Naypyidaw, Myanmar. Atas kekhawatiran ini, Kepala Otorita Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara Bambang Susantono pun angkat bicara.
Bambang menilai cara ampuh dalam menghindari Nusantara sebagai kota hantu adalah dengan melibatkan partisipasi masyarakat sejak tahap awal, misalnya memberikan ruang aspirasi bagi warga bagaimana IKN akan dibangun.
Dalam bahasa dia, Bambang menyebut IKN harus memiliki `roh` atau ciri khas agar punya nuansa berbeda dari kota-kota lainnya di Indonesia.
"Saya kira kita ingin agar masyarakat terlibat di awal, memberikan ruang bagi mereka memberikan aspirasinya dalam pembangunan kota ini," jelasnya dalam interview eksklusif dengan sebuah stasiun TV swasta di Indonesia, Jumat (11/3).
Menurut Bambang pembangunan IKN tidak melulu soal infrastruktur atau bangunannya saja, tapi juga soal penduduk dan kehangatan kota itu sendiri.
Ia pun mengklaim punya pengalaman membangun ibu kota baru di beberapa negara lewat perannya di Asian Development Bank (ADB). Kala menjabat sebagai Vice-President for Knowledge Management and Sustainable Development ADB dulu, ia sempat mensupervisi pembangunan Naypyidaw hingga Nur-Sultan di Kazakhstan.
"ADB itu memiliki pengetahuan bagaimana melakukan pembangunan di kota-kota tersebut, itu mungkin complement (melengkapi) dengan apa yang dimiliki oleh Pak Dhony (wakil otorita) sehingga diharapkan kita bisa membangun Kota Nusantara seperti yang diharapkan," jelas dia.
Terkait dengan `roh` seperti apa yang ingin dicapai, ia menyebut kedekatan dan warna IKN bakal tumbuh seiring dengan waktu. Tapi itu memang ditentukan oleh penduduk di dalamnya.
Itu pun, sambung dia, bakal terbentuk secara bertahap dan tidak bisa dilihat dalam beberapa tahun saja karena ada proses pendekatan hingga menuju kota jadi.
Namun yang pasti ia mendapat mandat dari Presiden Jokowi untuk mewujudkan kota yang cerdas, hijau, inklusif, dan berkelanjutan.
"Banyak kota yang memang modern kelihatannya, gedung-gedungnya modern dan semacamnya, tapi tidak ada kehangatan. Itu istilahnya the soul of the city engga dapat," imbuhnya.*