indonews

indonews.id

Presiden Putin Klaim BRICS Sumbang Lebih Besar PDB Global Ketimbang G7

Presiden Rusia Vladimir Putin mengucapkan pidato di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-16 di Kazan, Rusia, Rabu (23/10).

Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador
zoom-in Presiden Putin Klaim BRICS Sumbang Lebih Besar PDB Global Ketimbang G7
Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS (Brasil, Rusia, India, Cina, dan Afrika Selata) ke-16 berlangsung selama tiga hari di kota Kazan, Rusia, dimulai pada Selasa (22/10). Foto ilustrsi

Jakarta, INDONEWS.ID--Presiden Rusia Vladimir Putin mengucapkan pidato di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS ke-16 di Kazan, Rusia, Rabu (23/10).

Dalam pidato itu, Putih menyebutkan bahwa negara-negara anggota BRICS punya andil dalam menyumbang PDB global.

"Hingga akhir 2024, negara-negara anggota BRICS akan menyumbang 36,7 persen dari PDB global dalam hal paritas daya beli, melampaui Kelompok Tujuh (Group of Seven/G7)," ucap Putin seraya menyebut kelompok negara-negara kompetitornya.

Putin menambahkan, dalam konteks tersebut, negara-negara anggota BRICS menunjukkan stabilitas berkat kebijakan makroekonomi dan keuangan yang bertanggung jawab.

"Tugas utamanya adalah mempromosikan penggunaan mata uang nasional untuk membiayai perdagangan dan investasi," ujar Putin.

Dia menekankan bahwa menggunakan dolar AS sebagai senjata politik pada umumnya mengikis kepercayaan terhadap mata uang itu dan melemahkan efektivitasnya.

Pemimpin Rusia tersebut menekankan peran utama BRICS dalam ekonomi global kemungkinan akan menguat.

Hal tersebut lantaran dipicu beberapa faktor seperti pertumbuhan populasi, akumulasi modal, urbanisasi, peningkatan produktivitas tenaga kerja, dan inovasi teknologi.

Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan bahwa BRICS mendorong pertumbuhan ekonomi global seiring dengan transformasi dunia menuju sistem multipolar.

"Perdagangan dunia dan ekonomi global secara keseluruhan sedang mengalami perubahan yang signifikan," ujar Putin.

Menurut dia, aktivitas bisnis saat ini sedang beralih ke emerging market. Namun, risiko tetap ada akibat ketegangan geopolitik serta pertumbuhan sanksi sepihak.

Selain itu, proteksionisme yang mengakibatkan fragmentasi perdagangan dan investasi internasional juga memicu risiko perdagangan.

"Pertumbuhan rata-rata ekonomi BRICS pada 2024-2025 akan mencapai 3,8 persen, menurut perkiraan awal, dengan peningkatan PDB global sebesar 3,2-3,3 persen," ungkapnya.

Ke depan, lanjut dia, BRICS perlu tingkatkan kerja sama dalam menangani proyek-proyek yang sedang berlangsung di sejumlah sektor, antara lain pertanian, kesehatan, energi, transportasi, dan kecerdasan buatan.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas