indonews

indonews.id

Sumpah Presiden Palestina di KTT BRICS: Kami Tidak Akan Pernah Tinggalkan Gaza

Tentara Israel terus mengepung Gaza dan meminta warga agar meninggalkan tempat tinggal mereka jika ingin selamat.

Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador
zoom-in Sumpah Presiden Palestina di KTT BRICS: Kami Tidak Akan Pernah Tinggalkan Gaza
Presiden Palestina Mahmoud Abbas bersumpah tidak akan meninggalkan negaranya, Gaza maupun Tepi Barat. Foto dok istimewa

Jakarta, INDONEWS.ID- Tentara Israel terus mengepung Gaza dan meminta warga agar meninggalkan tempat tinggal mereka jika ingin selamat.

Alasan tentara Israel menggempur Gaza, termasuk Rumah Sakit Al-Awda di Gaza Utara, yakni mengejar musuh mereka Hamas yang bersembunyi di rumah-rumah warga dan rumah sakit.

Sisi lain, warga menilai gempuran tentara Israel itu upaya mengusir paksa warga dan pada akhirnya akan mencaplok Gaza menjadi milik Israel.

Presiden Palestina Mahmoud Abbas pun bersumpah tidak akan meninggalkan negaranya, Gaza maupun Tepi Barat. "Rakyatnya "tidak akan pernah meninggalkan Gaza" kata Abbas.

Presiden Palestina mengatakan hal itu saat mengadakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di sela-sela KTT BRICS ke-16 di Rusia dan selama pembicaraan pada hari ketiga di KTT di Kazan.

"Orang-orang Palestina tidak akan pernah meninggalkan Gaza, sama seperti mereka tidak akan pernah meninggalkan Tepi Barat. Ini adalah hal yang penting," kata Abbas

"Netanyahu, pada gilirannya, sedang mencoba melakukan ini, untuk mengusir orang-orang Palestina dari tanah air mereka, tetapi kami tidak akan pernah melakukan ini," tambahnya.

Abbas yakin bahwa apa yang dilakukan Israel bakal ditolak negara-negara di Timur Tengah seperti Mesir dan Yordania.

Kedua negara itu, Abbas yakin, tidak mendukung kebijakan Israel dan menegaskan bahwa Gaza adalah bagian integral dari negara Palestina.

"Oleh karena itu, kami bermaksud untuk bekerja untuk mengakhiri pendudukan, sehingga kami kemudian dapat hidup dalam satu negara Palestina -- bersama dengan Gaza, bersama dengan Tepi Barat," tegas Abbas.

Presiden Abbas mengatakan, rakyatnya hanya menginginkan gencatan senjata, yang menurutnya merupakan sesuatu yang dituntut oleh semua orang.

"Pada prinsipnya, lebih jauh mengungkapkan harapan bahwa Palestina akan mampu mencapainya dan mulai memberikan bantuan kemanusiaan yang semakin meningkat," katanya.

Abbas menambahkan bahwa pihaknya senang dengan "posisi kuat" Rusia dalam mendukung masalah Palestina dan hak kedaulatan rakyat Palestina untuk mencapai semua tujuan mendirikan negara Palestina.

Putin mengakui bahwa situasi di Gaza memburuk, dan ketegangan meningkat di Tepi Barat. Pemerintah Rusia, katanya, konsisten dan sama sekali tidak oportunistik.

"Kami dengan tegas menganjurkan diakhirinya pertumpahan darah lebih awal dan penyediaan akses kemanusiaan bagi semua yang membutuhkan. Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri," kata Putin.

Menurut Putin, perdamaian abadi hanya dapat dicapai melalui "penyelesaian politik dan diplomatik atas dasar hukum internasional.

" Atas dasar hukum internasional yang diketahui, yang menyediakan pembentukan negara Palestina berdaulat yang merdeka yang akan hidup berdampingan dalam damai dan aman dengan Israel," paparnya.

Diketahui, Israel terus melancarkan serangan brutal di Gaza sejak serangan tahun lalu oleh kelompok perlawanan Palestina, Hamas.

Meskipun ada resolusi Dewan Keamanan PBB yang menuntut gencatan senjata segera, hingga saat ini solusi tersebut belum membuahkan hasil.

Sejak itu, lebih dari 42.800 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, telah tewas, dan lebih dari 100.500 orang terluka, menurut otoritas kesehatan setempat.

Serangan Israel telah mengungsikan hampir seluruh penduduk wilayah tersebut di tengah blokade yang menyebabkan kekurangan makanan, air bersih dan obat-obatan

 

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas