Gunakan Bom Tersembuyi, Rusia Klaim Gagalkan Rencana Ukraina Bunuh Perwira Militer Senior
Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengumumkan telah menggagalkan rencana dinas intelijen Ukraina untuk membunuh beberapa perwira tinggi militer Rusia dan keluarga mereka. Rencana itu disebut melibatkan bom yang disamarkan sebagai pengisi daya portabel dan map dokumen.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) mengumumkan telah menggagalkan rencana dinas intelijen Ukraina untuk membunuh beberapa perwira tinggi militer Rusia dan keluarga mereka. Rencana itu disebut melibatkan bom yang disamarkan sebagai pengisi daya portabel dan map dokumen.
Serangan ini mengikuti pembunuhan Letnan Jenderal Kirillov, kepala Pasukan Perlindungan Nuklir, Biologi, dan Kimia Rusia, yang tewas pada 17 Desember akibat bom yang dipasang pada skuter listrik di luar gedung apartemennya di Moskwa.
Dilansir Reuters, sumber intelijen Ukraina (SBU) mengkonfirmasi bahwa pihaknya berada di balik pembunuhan tersebut, meskipun FSB menyebut tindakan itu sebagai serangan teroris dan bersumpah untuk membalasnya. FSB mengatakan pihaknya telah menangkap empat warga negara Rusia yang diduga terlibat dalam persiapan serangkaian serangan ini.
Mereka dilaporkan direkrut oleh dinas intelijen Ukraina untuk menargetkan pejabat tinggi Kementerian Pertahanan Rusia. Menurut FSB, salah satu tersangka menemukan bom yang disamarkan sebagai pengisi daya portabel di Moskwa, yang rencananya akan ditempelkan dengan magnet ke bawah mobil pejabat kementerian.
Tersangka lain bertugas melakukan pengintaian terhadap target, sementara skenario lain melibatkan pengiriman bom yang disamarkan sebagai map dokumen ke salah satu target. Rekaman pengakuan tersangka ditayangkan oleh televisi pemerintah Rusia.
Salah satu tersangka mengungkapkan bahwa ia telah mengambil bom tersebut pada 23 Desember, meskipun tanggal pasti serangan belum dikonfirmasi.
Moskwa menuduh Ukraina bertanggung jawab atas serangkaian pembunuhan berprofil tinggi di Rusia. Pemerintah Rusia mengeklaim tindakan ini dirancang untuk melemahkan moral bangsa, dengan dukungan negara-negara Barat terhadap Kyiv.
Ukraina, di sisi lain, menyatakan bahwa pembunuhan terarah adalah strategi yang sah dalam menghadapi invasi Rusia yang mengancam eksistensinya.