indonews

indonews.id

Mimpi Punya Pembalap F1, Ananda Mikola: Benahi dulu Fisik Pembalap

Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
zoom-in Mimpi Punya Pembalap F1, Ananda Mikola: Benahi dulu Fisik Pembalap
Ananda Mikola hadir di acara `Bukber Pembalap 3 Djaman`, di Balai Sarwono, Cilandak Timur, Jaksel.foto:jinny.

Jakarta, INDONEWS.ID - Mewujudkan mimpi memang tak semudah membalikan telapak tangan, perlu kerja keras dan tak mudah menyerah. Ingin punya pembalap Indonesia tarung di arena F1 bukan harapan yang sulit, asal kemampuan fisik yang harus diutamakan dan ada 'orang gila' yang ingin mewujudkan itu. Hal itu dikatakan eks pembalap F2 Ananda Mikola menyoroti kemampuan fisik pembalap Indonesia.

Lama sudah namanya menghilang di dunia otomotif, khususnya di lintasan sirkuit lokal maupun internasional, dirinya memang sudah tidak lagi 'kebut-kebutan' di sirkuit, ia kini fokus dengan bisnis propertinya.

Namun sebagai orang yang punya pengalaman di lintasan balap, ia miris melihat pembalap kita lebih mementingkan tunggangan daripada fisiknya sendiri. "Mobil yang banyak diomongin, tapi gak pernah bicara soal fisik, mampu gak melahap lintas dalam kondisi cuaca panas", tambahnya.

Diakui soal keberanian, orang Indonesia jelas berani tapi mereka lupa dengan kondisi fisiknya, padahal keberanian dan tunggangan itu nomer sekian, yang utama adalah fisik. Dan kemampuan fisik itu harus dilatih rutin bukan cuma sesekali dilakukan.

Lalu ia membandingkan dengan Mario Aji pembalap Moto2 yang punya fisik terlatih dengan pembalap lain. "Kenapa Mario bisa, iya karena kemampuan fisiknya bagus, apalagi sekarang tinggal di Eropa, asupannya juga pasti terjaga", ujarnya menambahkan.

Terkait asupan pembalap, Ananda setuju dengan program pemerintah yang memberi makan bergizi ke pelajar. Fisik yang mumpuni juga harus diimbangi dengan asupan yang bergizi dan sehat, ia pun kembali merujuk ke Mario Aji dimana fisik dan asupannya dijaga guna menunjang performa di lintasan balap.

Ananda pun mengingatkan kita untuk tidak terlalu berharap punya pembalap F1, tapi dukung saja pembalap di roda dua seperti Mario Aji yang sudah terjun ke Moto2. Lagi pula menurutnya, membentuk pembalap F1 terlalu jauh, karena pembalap kita belum dilirik pabrikan, beda dengan roda dua, ada pabrikan seperti Honda dan Yamaha yang jadi pengasuhnya.

Selain kemampuan fisik pembalap, Ananda juga menyinggung soal 'bapak asuh', terutama untuk pembalap roda empat. Menurutnya, nama-nama pembalap yang bertarung di kancah internasional itu karena orangtua mereka 'gila' dalam artian mensuport habis-habisan putera berlomba di level internasional. Namun cerita itu sudah terlalu lama, saat ini belum ada lagi penerus Tinton Suprapto, Helmy Sungkar atau pembalap senior lainnya yang mendukung habis anaknya terjun di level internasional.

"Kalau kita mau punya pembalap F1 harus ada 'orang gila', yang mau mendukung habis pembalap menuju F1. Jika itu tidak ada, jangan mimpi ada orang Indonesia di lintasan F1", ungkapnya.

Selain itu, Ananda juga ingin masyarakat dan pelaku olahraga harus diedukasi terkait balapan. Selama ini kita kebingungan mana pembalap mana perally, mana dirfter karena semua dipanggil pembalap.

Baginya pembagian atlet olahraga otomotif harus seperti pembagian di bidang keartisan, ada artis penyanyi, artis film, dan artis sinetron. Begitu pula di otomotif harus ada pemisahan seperti itu, ada pembalap, perally, dirfter, dan ada pengemudi slalom.

Ungkap itu tercetus, kala Ananda hadir di acara 'Bukber Pembalap 3 Djaman', dimana kendaraan yang dipamerkan adalah tunggangan khusus perally bukan pembalap di sirkuit. Kebingungan kita juga berimbas ke sponsor yang pusing mensuport atlet otomotif karena tak ada pembagian yang jelas.

Menurutnya induk organisasi otomotif sudah membagi kategori itu, namun di kalangan pelaku dan masyarakat belum, maka dirinya selaku generasi muda atlet otomotif mengusulkan ke sesama kaum di otomotif untuk tegas menentukan mana pembalap, perally, dirfter, dan atlet slalom.

Bila semua jelas dan paham tentang peran-peran itu, mungkin para 'bapak asuh' atau sponsor lebih mudah memberikan dukungan karena yang diasuh jelas ingin dibawa ke mana, entah itu ke F1, rally dunia, atau dirfter.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas