indonews

indonews.id

Peneliti Senior Denny JA Ungkap Artificial Intelligence Dorong Tafsir Agama Pro- Hak Asasi

Peneliti senior Denny JA menjadi salah satu peserta dalam Workshop Esoterika Fellowship Program yang digelar tiga hari, dari 21-23 April 2025.

 

Reporter: donatus nador
Redaktur: donatus nador
zoom-in Peneliti Senior Denny JA Ungkap Artificial Intelligence Dorong Tafsir Agama  Pro- Hak Asasi
Peneliti senior Denny JA menjadi salah satu peserta dalam Workshop Esoterika Fellowship Program yang digelar tiga hari, dari 21-23 April 2025. Foto istimewa

Jakarta, INDONEWS.ID--Peneliti senior Denny JA menjadi salah satu peserta dalam Workshop Esoterika Fellowship Program yang digelar tiga hari, dari 21-23 April 2025.

Pada kesempatan tersebut, Denny mengungkapkan fakta menarik bahwa ternyata Artificial Intelligence (AI) merekomendasi agar tafsir agama peo-hak asasi manusia.

“Tafsir agama yang direkomendasikan AI cenderung pro-hak asasi," kata Denny JA dalam diskusi hari kedua workshop Esoterika Fellowship Masuk Kampus.

Esoterika Fellowship Masuk Kampus merupakan bagian dari gerakan Forum Esoterika. Program yang dipimpin oleh Ahmad Gaus AF dan Dr. Budhy Munawar Rachman ini membawa spirit untuk membawa agama kembali ke jantung kesadaran manusia, melampaui doktrin, menuju makna.

Workshop ini yang digelar di Jakarta dari 21-23 April 2025. Workshop menghadirkan ruang dialog lintas iman dan disiplin untuk menggali lapisan terdalam spiritualitas serta tantangan interpretasi agama di tengah dunia yang terus berubah. Spiritualitas di era AI menjadi salah satu tema.

Denny menyampaikan, tafsir agama yang cenderung pro-hak asasi itu karena AI difilter oleh para pengembangnya agar berdiri di atas nilai-nilai etika universal, menghindari ujaran kebencian, kekerasan, dan diskriminasi.

"Ini menciptakan sistem yang tak akan mendukung tafsir yang menindas sesama atas nama Tuhan," kata peneliti LSI Denny JA itu.

Lebih lanjut dia mengatakan, referensi AI sangat beragam, dari spektrum konservatif hingga progresif, dari teks klasik hingga refleksi kontemporer.

"Dalam keanekaragaman itu, rekomendasi AI justru cenderung moderat, mencari jalan tengah yang rasional, inklusif, dan selaras dengan prinsip keadilan," imbuhnya.

Diketahui sebanyak 25 dosen dari 9 kampus ternama di Indonesia berkumpul dalam workshop terkait program Esoterika Fellowship Masuk Kampus.

Kampus-kampus yang berpartisipasi meliputi UIN Bandung, Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Universitas Kristen Indonesia (UKI), IPMI International Business School, Universitas Hindu Negeri (UHN), IAIN Cirebon, STABN Sriwijaya, President University dan perwakilan dari Ambon.

Para peserta sendiri terdiri dari 17 doktor, 6 master dan 2 profesor, yang mewakili spektrum agama dan disiplin ilmu yang luas, dari filsafat, teologi, hingga sosiologi.

Workshop hari kedua dimulai dengan sesi yang membahas soal menggali kekayaan kultural agama-agama yang diisi oleh Dr. Halim Wiryadinata dari Universitas Kristen Indonesia. Halim menekankan soal agama sebagai dokumen peradaba.

Sidrotun Naim, Ph.D dari IPMI yang membahas bagaimana dokumen lama tentang toleransi dapat kembali dihidupkan dalam konteks modern.

Sesi diskusi berlanjut dengan topik perebutan tafsir agama yang disampaikan oleh Dr. Neng Hannah, M. Ag dari UIN Bandung dan tim pengajar dari IAIN Ambon.

Pembicara menyoroti bahwa tidak ada tafsir tunggal dalam agama, serta pentingnya keberanian dalam menghadirkan pendekatan-pendekatan baru terhadap kitab suci.

Kemudian sesi ketiga membahas soal agama di era Google yang menggambarkan dinamika pencarian spiritual dalam era digital.

Pengajar teologi Hindu Fakultas Brahma Widya dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa yakni Drs. I Ketut Donder, M.Ag., PhD.D. dan tim pengajar dari STABN Sriwijaya yang menampilkan data tentang 4.300 lebih agama dan kepercayaan yang tersebar di dunia, serta fakta-fakta Google yang memperlihatkan dua tren besar dalam moralitas publik.

Tema spiritualitas di era AI menjadi sorotan berikutnya, dengan pembicara yakni Abdullah Sumrahadi dari President University, Dr. Mohamad Shofan dari UIN Cirebon, dan Monica JR dari Esoterika.

Mereka membahas keterkaitan antara spiritualitas, filsafat, dan teknologi kecerdasan buatan, dari neuroscience hingga prinsip-prinsip universal tentang satu bumi, satu homo sapiens, satu spiritualitas.

Diskusi berlanjut di sesi selanjutnya dengan refleksi mendalam pada tema makna hidup dan algoritma yang diulas oleh tim pengajar dari UNPAR yang menekankan lima hukum hidup bermakna yang diilhami para sufi.

Sementara Elza Peldi Taher dari Esoterika yang membagikan pengalaman personalnya dalam forum spiritualitas Esoterika.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas