Ukraina Ledakkan Jembatan Crimea dari Bawah Laut, Balasan Spektakuler Usai Hancurkan 41 Jet Tempur Rusia
Ketegangan di kawasan Laut Hitam kembali memanas setelah Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengonfirmasi keberhasilan operasi bawah laut yang menargetkan Jembatan Crimea, Selasa (3/6/2025). Aksi ini disebut sebagai lanjutan dari strategi Kyiv untuk melumpuhkan jalur logistik vital milik Rusia.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Ketegangan di kawasan Laut Hitam kembali memanas setelah Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengonfirmasi keberhasilan operasi bawah laut yang menargetkan Jembatan Crimea, Selasa (3/6/2025). Aksi ini disebut sebagai lanjutan dari strategi Kyiv untuk melumpuhkan jalur logistik vital milik Rusia.
“Untuk ketiga kalinya, kami melakukan operasi khusus yang menghantam Jembatan Crimea — kali ini dari bawah laut,” demikian pernyataan resmi SBU. Ledakan kuat berasal dari 1.100 kilogram bahan peledak yang ditanam pada salah satu pilar bawah air jembatan sepanjang 19 kilometer itu.
Rekaman video yang dirilis SBU menunjukkan ledakan dahsyat dari bawah permukaan laut, disusul semburan air dan puing beterbangan di sekitar struktur. Meskipun tingkat kerusakan belum dipastikan sepenuhnya, foto-foto awal memperlihatkan sisi jembatan yang mengalami keretakan signifikan.
SBU menyebut serangan ini telah direncanakan selama berbulan-bulan sebagai bagian dari strategi menghancurkan infrastruktur logistik militer Rusia. Sebelumnya, Jembatan Crimea juga pernah dihantam pada 2022 dan 2023.
Jembatan ini merupakan satu-satunya jalur penghubung darat antara wilayah Rusia dan Semenanjung Crimea — wilayah yang dianeksasi oleh Moskwa sejak 2014 — serta menjadi rute utama pengiriman logistik militer selama perang.
Media pemerintah Rusia melaporkan bahwa jembatan sempat ditutup selama tiga jam antara pukul 04.00 dan 07.00 waktu setempat. Namun, tidak ada penjelasan resmi mengenai alasan penutupan tersebut, dan jembatan kini telah kembali beroperasi.
Sementara itu, beberapa blogger militer Rusia meremehkan dampak serangan, menyebut kerusakan tidak besar dan berspekulasi bahwa Ukraina menggunakan drone laut dalam eksekusi operasi ini.
Serangan bawah laut ini terjadi hanya beberapa hari setelah Ukraina melancarkan Operasi “Jaring Laba-laba”, yang diklaim telah menghancurkan 41 jet tempur dan pembom strategis Rusia di berbagai pangkalan udara.
Aksi-aksi ini menunjukkan bahwa Ukraina semakin agresif dan inovatif dalam melemahkan dominasi Rusia, terutama di medan logistik dan udara, sebagai bagian dari strategi jangka panjang menghadapi invasi yang telah berlangsung lebih dari tiga tahun.*