indonews

indonews.id

Jembatan Krimea Kembali Diserang, Ukraina Tanam 1 Ton Bahan Peledak Bawah Air

Ukraina kembali mengguncang Moskow dengan melancarkan serangan terhadap Jembatan Krimea, infrastruktur strategis yang menghubungkan daratan Rusia dengan Semenanjung Krimea, pada Selasa pagi, 3 Juni 2025 pukul 04.44 waktu setempat. Serangan dilakukan dengan menanam 1.100 kilogram bahan peledak di bawah air, merusak parah bagian pilar penyangga jembatan tersebut.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Ukraina kembali mengguncang Moskow dengan melancarkan serangan terhadap Jembatan Krimea, infrastruktur strategis yang menghubungkan daratan Rusia dengan Semenanjung Krimea, pada Selasa pagi, 3 Juni 2025 pukul 04.44 waktu setempat. Serangan dilakukan dengan menanam 1.100 kilogram bahan peledak di bawah air, merusak parah bagian pilar penyangga jembatan tersebut.

Melansir CNN, Dinas Keamanan Ukraina (SBU) mengonfirmasi keterlibatan mereka dalam operasi ini. Kepala SBU Vasyl Malyuk menyebut serangan tersebut sebagai bagian dari kampanye tekanan terhadap Moskow yang tak hanya bersifat simbolis, tetapi juga strategis.

“Tuhan mencintai Tritunggal Mahakudus, dan SBU tidak pernah mengulang cara yang sama dua kali. Kami pernah menyerang Jembatan Krimea pada 2022 dan 2023. Hari ini kami melanjutkan tradisi itu, kali ini dari bawah air,” ujar Malyuk.

Akibat ledakan tersebut, lalu lintas di Jembatan Krimea sempat dihentikan dua kali pada hari yang sama — pagi dan sore — sebelum akhirnya dibuka kembali menjelang pukul 18.00 waktu setempat.

Meski skala kerusakan belum diumumkan secara resmi, jembatan ini selama ini menjadi jalur logistik utama militer Rusia dan simbol dominasi Rusia atas Krimea sejak aneksasi pada 2014.

Sebagai respons, Rusia melancarkan serangan balasan besar-besaran ke kota Kharkiv, Ukraina timur laut, pada Kamis, 5 Juni 2025. Menurut laporan Kyiv Independent, 17 warga sipil terluka, termasuk dua gadis berusia 13 tahun, seorang wanita hamil, dan seorang nenek berusia 93 tahun.

Serangan udara ini merupakan bagian dari intensifikasi eskalasi militer oleh Moskow. Sejak awal tahun 2025, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyatakan bahwa Rusia telah meluncurkan lebih dari 48.600 serangan udara, dengan Kharkiv menjadi salah satu target utama.

Serangan terhadap Jembatan Krimea bukan satu-satunya pukulan telak yang dilancarkan Ukraina pekan ini. Pada Minggu, 1 Juni 2025, SBU juga melancarkan serangan drone ke sejumlah lapangan udara Rusia yang menyimpan armada pengebom strategis berkemampuan nuklir.

Kepala SBU menyebut serangan itu menghancurkan sekitar 34% pembawa rudal jelajah strategis Rusia dan menimbulkan kerugian sekitar US$ 7 miliar.

Menurut SBU, langkah-langkah ini adalah bagian dari strategi menyampaikan pesan ke Kremlin bahwa perang ini akan memiliki biaya sangat besar.

Menanggapi eskalasi ini, Menteri Luar Negeri Norwegia Espen Barth Eide memperingatkan bahwa Presiden Vladimir Putin belum menunjukkan minat serius pada perdamaian.

“Selama Putin belum merasa bahwa melanjutkan perang lebih mahal daripada mengakhirinya, saya tidak melihat ia akan terbuka terhadap solusi damai. Ia mungkin berpura-pura bernegosiasi, tapi sebenarnya hanya mengulang keinginannya sendiri,” ujar Eide dikutip dari NHK.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas