Pameran Seni Instalasi, Angkat Peran Wanita dalam Perlawanan Sosial
Reporter: rio apricianditho
Redaktur: indonews
Jakarta, INDONEWS.ID - Masih ada sesuatu yang terjadi di lingkungan kita, sesuatu itu bukan mengusik 3 seniman perempuan dalam berkarya. Pameran seni instalasi di galeri Cemara, Toeti Herawati museum hasil riset 3 perupa yang dituangkan dalam karya mereka. Dan seni ini merupakan kolaborasi antara seniman dan masyarakat yang menjadi penelitian mereka.
Galeri yang berlokasi di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (12/07) menggelora berkat pameran yang diadakan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan Galeri Cemara 6. Puluhan orang silih berganti hadir di galeri tersebut, tampak hadir Pemred indonews.id, Asri Hadi yang turut menyaksikan pameran insalasi karya Alexandra Karyn, Anisa Nabilla Khairo, dan Kae Oktorina.
Lewat karyanya mereka ingin mengugah masyarakat, masih ada persoalan di negeri ini. Potret itu didapat 3 perupa perempuan yang ikut program lab prespektif perempuan perupa dari komitek seni DKJ.
Menurut Ketua Harian DKJ, Bambang Prihadi awalnya ingin memotret masalah sosial di Jakarta, namun karena seni luas dan tak terpaku di satu kota, maka komite seni menawarkan program lab mereka yang dekat dengan peran perempuan.
Seni yang ditampilkan merupakan riset yang telah dijalankan 3 perupa tersebut, yaitu di kampung Dadap, Tangerang, Banten, Padang Paniang, Sumatera Barat, dan Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Ketiga perupa mengangkat peran perempuan sebagai perawat budaya dan kehidupan yang berlanjut. Dari hasil riset mereka, ternyata masih ada persoalan di kehidupan sosial negeri yang telah merdeka lebih dari 70 tahun.
Ayu Maulani sebagai kurator pameran menjelaskan, di kampung Dadap masih ada perlawanan dari masyarakat sana, meski mereka terus melawan ketidakadilan namun kaum perempuan harus terus berupaya menjalani kehidupan mereka dan keluarganya.
Hal itu dituangkan dalam seni instalasi, ribuan kulit kerang dan tenda menghiasi karya instalasi. Pengunjung bisa merasakan bagaimana kehidupan kaum perempuan di kampung Dadap yang sehari-hari menjadi pekerja pengupas kerang.
Sementara Kae Oktarina meneliti suku yang terpinggirankan baik sosial maupun agama di Sulawesi. Tenun hasil suku tersebut dengan warna khas yaitu hitam dengan sentuhan garis lurus di motifnya. Kain ini merefleksikan hubungan dengan sang pencipta dan nilai-nilai-nilai luhur yang terus dirawat oleh kaum perempuan sebagai darah penerus budaya lokal.
Sedangkan Anissa, menjadi meja makan sebagai tempat berkomunikasi tentang segalanya. Dan di daerah Padang Paniang sebagai ruang berbagi informasi dan pembelajaran di keluarga.
Pameran instalasi karya 3 perupa di galeri Cemara 6 berlangsung dari 12-20 Juli 2025, bagi pengunjung yang ingin merasakan ada gejolak apa di 3 kawasan itu bisa datang ke galeri itu yang juga dikenal dengan Toeti Herawati, dan tidak dipungut bayaran alias gratis.