indonews

indonews.id

Pemuda Adat dari Empat Hutan Tropis Dunia Serukan Deklarasi Sira: Hentikan Deforestasi dan Ekspansi Industri Ekstraktif


Pemuda Adat dari Empat Hutan Tropis Dunia Serukan Deklarasi Sira: Hentikan Deforestasi dan Ekspansi Industri Ekstraktif

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
zoom-in  Pemuda Adat dari Empat Hutan Tropis Dunia Serukan Deklarasi Sira: Hentikan Deforestasi dan Ekspansi Industri Ekstraktif
Seratusan anak muda dari 17 wilayah adat di Papua, Afrika, Amerika Latin, dan Asia mengikuti Forest Defender Camp 2025 di hutan masyarakat adat Tehit-Knasaimos di Kampung Manggroholo-Sira, Distrik Saifi, Sorong Selatan, Papua Barat Daya, 23 September 2025. Tempo/Nur Hadi

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Lebih dari seratus perwakilan pemuda adat dari empat kawasan hutan tropis terbesar di dunia—Cekungan Kongo, Amazon, Borneo, dan Papua—menutup kegiatan Forest Defender Camp (FDC) 2025 dengan meluncurkan Deklarasi Sira. Seruan ini disampaikan di hutan masyarakat adat Tehit-Knasaimos, Sorong Selatan, Papua Barat Daya, pada Jumat, 26 September 2025.

Deklarasi Sira menuntut penghentian praktik deforestasi, ekspansi industri bahan bakar fosil, pertambangan, serta berbagai aktivitas merusak lainnya di wilayah adat.

“Kami berbicara hari ini dalam satu suara,” ujar Rossyana Zine Kogoya, pemuda adat dari Suku Lani, Papua Pegunungan, yang memimpin pembacaan deklarasi.

Rossyana menegaskan, lahirnya Deklarasi Sira tidak terlepas dari minimnya regulasi yang benar-benar melindungi hak-hak masyarakat adat. Komunitas adat, kata dia, kerap menjadi korban eksploitasi, perampasan tanah ulayat, intimidasi, hingga kriminalisasi saat mempertahankan wilayah leluhur.

Deklarasi itu juga menyoroti definisi hutan yang digunakan Badan Pangan Dunia (FAO). Para pemuda adat mendesak agar kebun tanaman monokultur dikeluarkan dari kategori hutan.

Selain itu, isi deklarasi mencakup penolakan terhadap keberadaan operasi militer di wilayah adat serta desakan penghentian penangkapan paksa terhadap masyarakat adat maupun aktivis hak asasi manusia dan lingkungan hidup.

Kepala Kampanye Global Greenpeace untuk Hutan Indonesia, Kiki Taufik, menyambut deklarasi tersebut sebagai langkah penting. Ia berharap suara masyarakat adat yang digalang melalui Deklarasi Sira dapat menggema hingga forum Conference of the Parties ke-30 (COP30) di Belem, Brazil, pada November mendatang.

“Suara yang akan sampai ke telinga para pemimpin dunia nanti adalah suara para pemuda adat yang menjadi kunci masa depan Bumi,” ujarnya.

Dengan Deklarasi Sira, para pemuda adat menegaskan tekad mereka menjaga hutan tropis sebagai paru-paru dunia sekaligus rumah bagi identitas, budaya, dan kelangsungan hidup masyarakat adat.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas