Ketika Kepemimpinan Diuji Oleh Zaman dan Lingkungan
Ketika Kepemimpinan Diuji Oleh Zaman dan Lingkungan
Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut
Oleh : Brigjen (Purn) MJP Hutagaol ’86
Setiap pemimpin besar pada akhirnya diuji — bukan oleh lawan di luar, melainkan oleh orang-orang di sekelilingnya. Mereka yang duduk dekat, berbicara manis, namun sering membawa kepentingan yang tak searah dengan visi besar bangsa.
Presiden Prabowo tengah berada di titik ujian itu.
Beliau datang dengan semangat menegakkan kedaulatan, menata ulang struktur ekonomi, dan menumbuhkan kembali rasa percaya diri bangsa. Namun di sekelilingnya, masih ada sosok-sosok yang belum utuh memahami makna pengabdian. Sebagian masih terjebak pada balas jasa dan kepentingan pribadi, bukan pengabdian tulus.
Sementara itu, di lapangan rakyat menanti perubahan nyata.
Para pengembang properti — bagian penting dari denyut ekonomi riil — mengeluhkan beban pajak yang berlapis: pajak penjual, pembeli, bea balik nama, hingga pungutan tahunan dan biaya tak resmi yang masih terjadi di lapangan.
Hal-hal seperti ini menciptakan kesan bahwa sistem masih belum berpihak pada mereka yang bekerja keras di sektor produktif.
Namun, di tengah kelesuan itu, muncul tanda-tanda segar.
Nama Purbaya mencuat membawa gagasan “revolusi keuangan” — bukan dalam arti gejolak, tetapi penataan menyeluruh yang menyentuh akar persoalan fiskal, perizinan, dan aliran modal.
Ia membawa semangat untuk menata ulang sistem agar lebih sederhana, transparan, dan berkeadilan.
Inilah angin baru yang, jika dikawal dengan kesadaran moral, bisa menjadi awal kebangkitan ekonomi nasional yang lebih sehat.
Karena sejatinya, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah halus: menata pikiran, memperbaiki cara kerja, dan menyentuh hati mereka yang memegang kebijakan.
Langkah-langkah halus itu — bukan perintah, melainkan ajakan moral — bisa dimulai dari:
Membangun kesadaran di lingkar dalam kekuasaan, bahwa loyalitas sejati bukan kepada individu, tapi kepada cita-cita bangsa.
Meneguhkan kembali rasa malu dan tanggung jawab, agar setiap jabatan dijalankan dengan hormat dan integritas.
Menyatukan langkah antara kementerian ekonomi, BPN, perpajakan, bea cukai, imigrasi, dan kepolisian, dengan semangat melayani, bukan menguasai.
Mendengar langsung suara lapangan, bukan hanya laporan yang disaring oleh kepentingan.
Bila langkah-langkah ini diambil dengan hati jernih, maka “revolusi keuangan” yang dibawa Purbaya dan semangat besar Presiden Prabowo akan menemukan bentuknya — bukan hanya dalam angka, tapi dalam keadilan yang dirasakan rakyat.
Bangsa ini tidak sedang mencari kesempurnaan. Yang dibutuhkan adalah ketulusan, keberanian, dan kemampuan menata diri sebelum menata negeri.
Dan mungkin, inilah saatnya kita semua belajar dari hikmah sederhana: bahwa di tengah kebisingan politik dan kepentingan, Tuhan masih bekerja lewat orang-orang yang tenang — yang tidak menonjolkan diri, tapi menyalakan terang di sekelilingnya.
Semoga Presiden Prabowo dikuatkan untuk menata lingkar kekuasaannya dengan kebijaksanaan, bukan kemarahan.
Dan semoga “revolusi keuangan” benar-benar menjadi gerakan nurani — langkah sunyi menuju Indonesia yang lebih adil, makmur, dan bermartabat.
---