indonews

indonews.id

Diplomat China Ancam Penggal Kepala PM Jepang Sanae Takaichi, Tokyo Layangkan Protes Keras ke Beijing

Ketegangan diplomatik antara Jepang dan China kembali memanas. Seorang diplomat China di Jepang, Xue Jian, mengancam akan memenggal kepala Perdana Menteri (PM) baru Jepang, Sanae Takaichi. Ancaman tersebut dilontarkan sebagai respons atas pernyataan Takaichi mengenai situasi di Taiwan.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Ketegangan diplomatik antara Jepang dan China kembali memanas. Seorang diplomat China di Jepang, Xue Jian, mengancam akan memenggal kepala Perdana Menteri (PM) baru Jepang, Sanae Takaichi. Ancaman tersebut dilontarkan sebagai respons atas pernyataan Takaichi mengenai situasi di Taiwan.

Sanae Takaichi, yang baru dilantik sebagai perdana menteri pada Oktober lalu, dalam pidatonya di depan parlemen pada Jumat (7/11), menyinggung kemungkinan Jepang akan bertindak jika China terus melakukan blokade terhadap Taiwan. Ia menilai blokade semacam itu akan mengancam kehidupan rakyat Jepang, mengingat jarak antara Taiwan dan Jepang hanya sekitar 96 kilometer.

“Blokade China terhadap Taiwan akan menciptakan situasi berbahaya bagi keamanan nasional Jepang,” ujar Takaichi dalam pidatonya. Ia bahkan membuka peluang pengerahan Pasukan Bela Diri Jepang sebagai bentuk respons atas tindakan agresif Beijing.

Pernyataan tersebut memicu kemarahan Konsul Jenderal China di Osaka, Xue Jian. Melalui unggahan di media sosial pada Minggu (9/11), Xue menulis kalimat bernada ancaman yang kini telah dihapus.

“Leher kotor yang menerobos masuk itu, saya tidak punya pilihan selain memotongnya tanpa ragu sedikit pun. Apakah Anda siap untuk itu?” tulis Xue, seperti dikutip dari Fox News.

Pemerintah Jepang segera bereaksi keras terhadap ancaman itu. Kepala Sekretaris Kabinet Jepang, Minoru Kihara, menyebut pernyataan Xue sangat tidak pantas dan mengumumkan bahwa Tokyo telah melayangkan protes resmi kepada pemerintah China.

“Dia telah membuat banyak pernyataan yang menghasut di masa lalu, dan kami mendesak China untuk mengambil tindakan disipliner,” ujar Kihara kepada media.

Namun, Kementerian Luar Negeri China justru membela diplomatnya. Juru bicara Kemlu China, Li Jian, menilai reaksi Xue merupakan respons terhadap pernyataan Takaichi yang dianggap provokatif dan salah tafsir terhadap posisi Beijing mengenai Taiwan.

“Ia (Takaichi) salah mengartikan posisi China terhadap Taiwan,” kata Li dalam konferensi pers pada Senin (10/11). “Kami meminta Jepang untuk menghormati kedaulatan China dan tidak ikut campur dalam urusan internal kami.”

China di bawah pemerintahan Partai Komunis secara konsisten mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya. Namun, klaim tersebut ditolak tegas oleh Taipei yang menegaskan bahwa Taiwan adalah negara berdaulat dan berdiri independen.

Insiden ini menambah daftar panjang ketegangan diplomatik antara Tokyo dan Beijing, terutama terkait isu keamanan regional dan status Taiwan yang semakin sensitif di kawasan Asia Timur.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas