indonews

indonews.id

MPU Nusantara, Hikmat yang Terlupa di Negeri Kaya SDA

MPU Nusantara, Hikmat yang Terlupa di Negeri Kaya SDA

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Penulis: Brigjen Purn. MJP Hutagaol

Para MPU Nusantara tidak mendidik manusia agar sekadar pintar,
tetapi agar wicaksana:
berakal sekaligus berbudi,
cerdas sekaligus tahu batas.

Itulah sebabnya leluhur menaruh musyawarah, etika, dan laku hidup
di atas ambisi pribadi dan keserakahan.

Ironisnya, hari ini kita hidup di negeri dengan SDA melimpah:
tanah subur, laut luas, tambang berlimpah.

Namun kesejahteraan tidak otomatis hadir,
keadilan terasa timpang,
dan jeritan rakyat sering kalah oleh suara elite.

Di sisi lain, ada negara-negara kecil yang nyaris tanpa SDA:

Singapura — tidak punya tambang, tidak punya ladang luas.

Jepang — miskin SDA, rawan bencana.

Korea Selatan — hampir tanpa sumber alam strategis.

Israel — wilayah sempit, konflik berkepanjangan.

Finlandia — penduduk sedikit, SDA terbatas.

Anehnya, mereka justru maju, disiplin, dan berdaya saing tinggi.

Apa rahasianya?

Bukan karena mereka lebih suci,
bukan karena lebih religius secara simbolik.

Mereka mengejar SDM unggul,
menegakkan aturan,
menghargai profesionalisme,
dan menjalankan nilai — bukan sekadar mengucapkannya.

Mereka tidak banyak berteori agama,
tetapi ayat-ayat moral dijalankan dalam tindakan:
jujur, tepat waktu, bertanggung jawab, dan konsisten.

Inilah titik temu yang sering kita lupa:
nilai yang mereka praktikkan,
justru serupa dengan ajaran MPU Nusantara.

MPU mengajarkan:
ilmu harus menjadi laku,
kuasa harus dibatasi hikmat,
pintar tanpa budi adalah awal kerusakan.
Leluhur juga paham rwa bhinneda:
baik dan jahat selalu ada.

Namun mereka tidak pernah mengajarkan
agar kejahatan dimaklumi,
kemunafikan dinormalisasi,
atau kecerdikan mencuri dianggap kepintaran.

Hari ini, ketika:
SDA dikeruk tapi rakyat tertinggal,

hukum tajam ke bawah dan tumpul ke atas,
yang lurus dianggap naif —
itu bukan salah kekurangan teori.
Itu tanda nilai tidak dijalankan.

Maka pertanyaannya bukan lagi:
Mengapa negara kecil tanpa SDA bisa maju?

Tetapi:
Mengapa kita yang kaya SDA dan kaya warisan hikmat
justru miskin keteladanan?

Mungkin bukan Finlandia, Jepang, atau Singapura
yang harus kita kejar.

Mungkin yang perlu kita hidupkan kembali adalah
ajaran MPU Nusantara
yang sudah lama kita hafal,
tetapi jarang kita jalani.

Penutup 

Bangsa ini tidak kekurangan ajaran,
yang kita kekurangan adalah keberanian menjalankannya.

Ketika hikmat hanya tinggal teks,
dan nilai berhenti di pidato,
di situlah negeri kaya berubah menjadi bangsa yang kehilangan arah.

Jakarta, Februari 2026

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas