indonews

indonews.id

Ukraina Mulai Gunakan Robot Humanoid di Medan Perang, Dikerahkan untuk Pengintaian

Penggunaan teknologi robotika di medan tempur semakin berkembang setelah Ukraina mulai mengerahkan robot humanoid untuk mendukung operasi militer dalam perang melawan Rusia.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Penggunaan teknologi robotika di medan tempur semakin berkembang setelah Ukraina mulai mengerahkan robot humanoid untuk mendukung operasi militer dalam perang melawan Rusia.

Perusahaan robotika Foundation dilaporkan telah mengirimkan robot humanoid ke Ukraina. Dua unit robot Phantom Mk‑I yang dikirim pada Februari digunakan untuk melakukan pengintaian di garis depan medan perang.

Langkah ini disebut sebagai pengerahan pertama robot humanoid secara langsung di garis depan perang Ukraina–Rusia. Salah satu pendiri Foundation, Mike LeBlanc, mengatakan penggunaan robot di medan tempur merupakan langkah yang memiliki alasan moral.

“Kami pikir ada keharusan moral untuk menempatkan robot-robot ini ke medan perang sebagai pengganti tentara,” kata LeBlanc kepada majalah Time, seperti dikutip dari Futurism, akhir pekan lalu.

Ia menjelaskan tujuan pengembangan Phantom adalah menciptakan robot yang mampu menggunakan berbagai jenis senjata yang biasa digunakan manusia. Konsep tersebut bahkan kerap dibandingkan dengan robot pembunuh dalam film The Terminator.

Berdasarkan laporan Time setelah mengunjungi fasilitas Foundation di San Francisco, California, Amerika Serikat, pada Februari lalu, robot Phantom Mk-I disebut mampu mengoperasikan berbagai senjata seperti revolver, pistol semi-otomatis, senapan, hingga senapan M-16 tiruan.

Sementara itu, laporan terbaru dari kantor berita negara Ukraina United24 menyebutkan Ukraina telah memulai sekitar 7.495 operasi robotika sepanjang Januari. Sebagian besar operasi tersebut digunakan untuk keperluan logistik, seperti mengirimkan senjata, amunisi, dan makanan kepada pasukan darat.

Namun beberapa unit robot juga dilaporkan membawa senapan mesin Kalashnikov serta bahan peledak untuk mendukung operasi militer.

Di sisi lain, Rusia juga memanfaatkan teknologi robotika untuk berbagai tugas di medan perang, meskipun hingga saat ini belum diketahui adanya pengerahan robot humanoid oleh pihak Moskow.

Di luar Ukraina, Foundation juga diketahui menjalin kerja sama dengan Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat terkait pengembangan robot patroli untuk perbatasan Amerika Serikat–Meksiko.

Penggunaan robot humanoid ini menandai meningkatnya pemanfaatan teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan (AI), dalam konflik bersenjata modern. Amerika Serikat sendiri disebut telah menggunakan sistem AI terintegrasi dari perusahaan seperti Palantir Technologies dan Anthropic dalam operasi militernya, termasuk dalam konflik dengan Iran.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas