indonews

indonews.id

Mengenang Entrepreneur Grup Djarum, Michael Bambang Hartono

Didik mengatakan, meskipun Bambang Hartono telah wafat tetapi generasi selanjutnya siap meneruskan bisnis keluarga.

Reporter: very
Redaktur: very
zoom-in Mengenang Entrepreneur Grup Djarum, Michael Bambang Hartono
Keluarga besar Grup Djarum berduka atas wafatnya pemilik perusahaan tersebut, Michael Bambang Hartono, di Singapura, Kamis (19/3/2026). (Foto: Wikipedia)

 

Jakarta, INDONEWS.ID – Keluarga besar Grup Djarum berduka atas wafatnya pemilik perusahaan tersebut, Michael Bambang Hartono, di Singapura, Kamis (19/3/2026). Pria kelahiran Kudus, 2 Oktober 1939, ini mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.15 waktu setempat. 

Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini mengungkapkan rasa duka yang mendalam atas wafatnya tokoh yang memulai bisnisnya dari berdagang mercon tersebut.

Didik mengatakan, sebelum  Bambang Hartono wafat, beberapa bulan yang lalu Universitas Paramadina mengundang entreprenuer Victor Hartono untuk memberi kuliah umum. Victor Hartono adalah pemimpin Group Jarum yang sangat besar dan sekaligus pewaris bisnis dari Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono.

Narasi ceramahnya yang luar biasa itu mengungkap kisah perjalanan panjang Group Jarum yang jatuh bangun sejak tahun 1927 dengan berbisnis mercon atau petasan untuk hari-hari besar.  

”Saya sebagai rektor (Unversitas Paramadina, red.) menilai bahwa pengalaman pelaku bisnis sekaliber Victor Hartono penting untuk dibagikan kepada bagi generasi muda. Pemahaman tentang dunia usaha yang kompleks, suksesi dan proses regenerasinya dalam bisnis keluarga patut menjadi pelajaran berharga bagi calon pemimpin masa depan,” ujar Didik dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Jumat (20/3/2026). 

Menghadirkan sosok seperti Victor Hartono, kata Didik yang merupakan alumnus Institut Pertanian Bogor (kini bernama IPB University), merupakan langkah strategis untuk membagikan kisah nyata tentang keberlangsungan bisnis lintas generasi.

Sejarah bisnis yang berlangsung sejak 1927 melahirkan konglomerasi, yang banyak menyerap tenaga kerja dan jaringan bisnis yang sangat luas. Tenaga kerja langsung dari group ini paling tidak mencapai ratusan ribu (100 ribu - 120 ribu orang.

Bank BCA menyerap tenaga kerja tidak kurang dari 25 ribu - 30 ribu karyawan. Industri rokok bisa mencapai 70 ribu tenaga kerja. Yang lain seperti industri elektonik, jasa-jasa, e-commerce bisa mencapai 10 ribu karyawan. Sementara itu, tenaga kerja tidak langsung bisa mencapai jutaan tenaga kerja mulai dari rantai pasok tembakau  dan cengkeh (petani tembakau, petani cengkeh, pengepul dan distributor bahan baku dan lainnya). Jaringan Group Jarum juga meluas mulai dari distribusi ritel, warung, toko, agen rokok, pedagang kecil dan lainnya. 

Setelah generasi Bambang Hartono dan Budi Hartono, Victor Hartono adalah generasi ke-9 keluarga besar Hartono Jarum Group.

Alumnus S3 dari Central Luzon State University, Filipina (1991) itu mengatakan, dalam kuliah umum tersebut, Victor menjelaskan sejak tahun 1927, bisnis keluarga ini belasan kali jatuh bangun dengan pengalaman pahit yang sangat panjang. Namun, yang menjadi menjadi pelajaran penting adalah perusahaan tersebut terus berubah dan berinovasi. 

”Industri lama yang  yang digeluti hilang berganti yang baru, industri saat ini belum tentu relevan dan bisa terus berjalan  di masa mendatang. Kondisi politik dan ego internasional biasanya menjadi faktor yang menentukan jatuh dan bangun dunia usaha atau secara khusus keberlangsungn group ini,” kata Didik. 

Victor menjelaskan bahwa bisnis awal berdagang mercon mati karena faktor politik labil pada masa peralihan dari pemerintahan Belanda ke Jepang dan masa kemerdekaan. Praktis bisnis keluarga pada masa awal tahun 1930-an dan 1940-an hancur karena perubahan politik. 

Victor mengatakan bahwa sejarah sang kakek, Oei Wie Gwan yang merintis usaha pabrik mercon dengan merek dagang Cap Leo bangkrut berkali-kali karena kecelakaan ledakan, perampokan, hingga larangan produksi saat pendudukan Jepang pada 1942.  Setelah itu bisnis keluarga Hartono beralih masuk perdagangan minyak kacang. Namun, dengan hadirnya kelapa sawit yang lebih efisien, usaha itu pun bangkrut oleh dinamika pasar sawit yang efisien dan berkembang pesat.

Didik yang merupakan salah satu tokoh pendiri Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengatakan, selain tantangan eksternal (di luar keluarga), bisnis keluarga Djarum Grup juga memiliki tantangan internal yaitu berasal dari dalam keluarga. Tali temali keluarga yang banyak jumlahnya tidak mungkin bisa menjalankan bisnis semuanya. Hambatai kritis terhadap bisnis acap kali datang dari dalam keluarga.

Anggota DPR RI periode 2004-2009 mengatakan, beragam perselisihan mulai dari masalah arus kas, kepemimpinan, hingga pembagian dividen yang tidak adil disebutnya sebagai bom waktu yang bisa menggoyahkan bisnis keluarga. 

”Tetapi pada saat ini ada semacam ’dewan syuro’ di dalam group Jarum yang memilih pemimpin secara selektif sehingga menemukan pemimpin bisnis yang bagus dan pintar menjalankan bisnis. Di sinilah bisnis warisan Bambang Hartono dan Budi Hartono terus berjalan dan berkembang,” imbuhnya. 

Dalam rangka menjaga keberlanjutan bisnis keluarga, calon Wakil Gubernur DKI Jakarta itu mengatakan, Victor menjelaskan fungsi “dewan Syuro” tersebut. Bambang Hartono, jelasnya, tidak boleh mengajukan anaknya untuk memimpin, begitu juga Budi Hartono.

Anggota Dewan Syuro yang lain yang harus mengajukan calon agar benar-benar objektif dan bisa memimpin. Di dalam group ada struktur kepemimpinan yang jelas, bahwa pemimpin utama sebaiknya hanya satu agar arah bisnis tetap terjaga dan konflik dapat diminimalisasi.

”Dengan cara itu, pembagian peran antar anggota keluarga terbagi secara adil. Kekompakan internal bisa terjaga dengan semangat keterbukaan bersama. Itulah strategi memperkuat daya saing jangka panjang dari group ini,” ujar Rektor Universitas Paramadina sejak 20 Mei 2021 tersebut.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) (1995-2000) ini mengatakan, meskipun Bambang Hartono telah wafat tetapi generasi selanjutnya siap meneruskan bisnis keluarga.

”Regenerasi yang solid adalah kunci sukses dalam bisnis keluarga. Menurut Victor, regenerasi tidak boleh berhenti pada pewarisan nama, tetapi harus menghasilkan pelaku bisnis sejati yang mampu membaca zaman dan terus berjalan ke generasi berikutnya,” pungkasnya. *

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas