indonews

indonews.id

Terus Memanas! Negara Teluk Jadi Korban Terbesar Rudal dan Drone Iran, Israel Hanya Terima 17 Persen Serangan

Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah berlangsung hampir satu bulan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah eskalasi tersebut, negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah justru menjadi pihak yang paling terdampak.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID – Konflik antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran yang telah berlangsung hampir satu bulan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Di tengah eskalasi tersebut, negara-negara Arab di kawasan Timur Tengah justru menjadi pihak yang paling terdampak.

Laporan dari Stimson Center mengungkapkan bahwa sebagian besar serangan balasan Iran justru menghantam negara-negara Teluk Arab, khususnya anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yang merupakan sekutu Amerika Serikat di kawasan.

Sejak pecahnya perang pada 28 Februari lalu, negara-negara GCC dilaporkan menjadi sasaran sekitar 4.391 serangan drone dan rudal Iran, atau setara dengan 83 persen dari total serangan.

Serangan tersebut pada dasarnya ditujukan untuk menghantam aset militer Amerika Serikat di wilayah tersebut, namun berdampak luas karena banyak negara Arab menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Sebaliknya, Israel yang disebut sebagai pihak yang memicu serangan awal hanya menerima sekitar 930 serangan atau 17 persen dari total serangan Iran.

Dikutip dari Arab News, Uni Emirat Arab menjadi negara yang paling banyak terdampak dengan total 2.156 serangan. Sedikitnya 11 orang dilaporkan tewas, termasuk dua korban yang meninggal setelah tertimpa puing rudal yang berhasil dicegat.

Sementara itu, Arab Saudi menghadapi sekitar 723 serangan drone dan rudal, dengan dua korban jiwa serta sejumlah korban luka.

Meski sebagian besar serangan berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, intensitas serangan ini menjadi ujian nyata bagi kemampuan pertahanan negara-negara Teluk. Selain itu, serangan sporadis dari kelompok milisi pro-Iran seperti Houthi di Yaman turut memperkeruh situasi keamanan kawasan.

Yang memicu kekhawatiran lebih besar adalah pola serangan Iran yang dinilai mulai menyasar infrastruktur sipil dan fasilitas energi di negara-negara Arab. Hal ini memunculkan kemarahan sekaligus pertanyaan dari negara-negara tersebut terkait tujuan sebenarnya Teheran.

Direktur Council for Arab-British Understanding, Chris Doyle, menilai klaim Iran yang hanya menargetkan fasilitas militer tidak sepenuhnya dapat dipercaya.

“Meski mengklaim hanya menargetkan lokasi yang terkait dengan pasukan AS, sangat jelas bahwa Iran telah menyerang bagian penting dari infrastruktur sipil,” ujarnya.

Menurut Doyle, Iran berupaya memperluas front konflik ke berbagai negara untuk meningkatkan tekanan terhadap Amerika Serikat. Strategi ini bertujuan memaksa Washington mencari jalan keluar lebih cepat dan kembali ke meja perundingan.

Ia juga menilai Uni Emirat Arab menjadi target utama karena hubungan eratnya dengan Israel, yang telah dinormalisasi dalam beberapa tahun terakhir.

Pandangan serupa disampaikan analis dari New Lines Institute, Caroline Rose. Ia menyebut strategi Iran dirancang untuk menunjukkan kemampuan mengguncang stabilitas kawasan secara cepat, sekaligus mendorong negara-negara GCC menekan AS agar menghentikan serangan.

Namun demikian, strategi tersebut dinilai berpotensi berbalik merugikan Iran. Sejumlah negara, termasuk Arab Saudi, justru membuka kembali peluang bagi pasukan AS untuk beroperasi di wilayahnya, bahkan mempertimbangkan keterlibatan lebih jauh dalam konflik.

Situasi ini menegaskan bahwa perang yang awalnya dipicu oleh konfrontasi langsung antara AS, Israel, dan Iran kini telah meluas dampaknya, dengan negara-negara Arab menjadi pihak yang harus menanggung beban terbesar dari konflik yang tidak mereka mulai.*

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas