indonews

indonews.id

Perkuat Sinergi Global, IPB University dan China Agricultural University Bedah Transformasi Perdesaan Tiongkok

Prof Sofyan menyebut Tiongkok sejauh ini berhasil mengentaskan kemiskinan, mencegah ketimpangan dan pengangguran, serta menggerakkan kaum muda melalui basis desa. 

Reporter: very
Redaktur: very
zoom-in Perkuat Sinergi Global, IPB University dan China Agricultural University Bedah Transformasi Perdesaan Tiongkok
Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University belum lama ini menggelar “IPB–CAU Rural Transformation Insights Series Vol 1” di Kampus IPB Dramaga. (Foto: Humas IPB University)

Bogor, INDONEWS.ID - Fakultas Ekologi Manusia (Fema) IPB University belum lama ini menggelar “IPB–CAU Rural Transformation Insights Series Vol 1” di Kampus IPB Dramaga. 

Mengangkat topik transformasi perdesaan di Tiongkok, kegiatan ini dilaksanakan sebagai ruang akademik untuk memperkaya pemahaman mengenai dinamika pembangunan dan transformasi perdesaan berdasarkan pengalaman Tiongkok.

Dekan Fema IPB University, Prof Sofyan Sjaf menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk kerja sama antara IPB University dan China Agricultural University (CAU). Kegiatan serupa akan terus dilaksanakan dengan topik transformasi perdesaan di Tiongkok. 

“⁠Bersama CAU, kami ada riset bersama mengenai transformasi desa yang membandingkan desa-desa di dua negara ini. Semangatnya adalah saling belajar untuk mengentaskan kemiskinan, ketimpangan, pengangguran, serta memperkuat kawasan selatan,” ujar Prof Sofyan melalui pernyataan tertulis. 

Guru Besar IPB University di bidang sosiologi pembangunan desa ini mengungkapkan alasan transformasi desa di Tiongkok menjadi topik utama dalam kegiatan tersebut.

Prof Sofyan menyebut Tiongkok sejauh ini berhasil mengentaskan kemiskinan, mencegah ketimpangan dan pengangguran, serta menggerakkan kaum muda melalui basis desa. 

“Contoh ini menarik bagi negara-negara di kawasan selatan. Ini juga seiring dengan agenda Indonesia dan IPB University yang akan memperkuat kawasan selatan (global south),” ungkap penggagas Data Desa Presisi (DDP) ini.

Kegiatan menghadirkan Prof Tang Lixia dari College of Humanities and Development Studies, China Agricultural University. Prof Tang Lixia dikenal memiliki bidang pengajaran yang mencakup public policy analysis, rural development policy, international development aid, dan comparative governance and politics. Adapun minat risetnya meliputi poverty reduction and social policy, China-Africa Cooperation, serta international development aid.

Dalam pemaparannya, Prof Tang Lixia menjelaskan bahwa transformasi perdesaan di Tiongkok tidak dapat dipahami hanya sebagai perubahan fisik desa, tetapi sebagai proses panjang yang mencakup perubahan kebijakan, relasi desa-kota, struktur pendapatan petani, sistem produksi pertanian, serta fungsi dan nilai baru kawasan perdesaan.

“Transformasi perdesaan di Tiongkok berkembang melalui beberapa tahapan penting, mulai dari household responsibility system, industrialisasi dan urbanisasi, pembangunan infrastruktur desa, hingga strategi rural revitalization menekankan lima aspek revitalisasi, yaitu bisnis berbasis pertanian, ekologi, budaya, dan tata kelola perdesaan,” kata Prof Tang Lixia.

Prof Tang Lixia menekankan bahwa hubungan desa-kota Tiongkok kini menggantikan struktur dualistik. Mata pencaharian petani beralih ke nonpertanian dengan pendapatan meningkat. Selain itu, produksi pertanian semakin mekanis dan bergerak dari pertanian skala kecil menuju operasi berskala menengah, sementara fungsi kawasan perdesaan menjadi semakin beragam.

Kegiatan IPB–CAU Rural Transformation Insights Series Vol 1 memperkuat pertukaran akademik lintas negara mengenai transformasi perdesaan sebagai strategi pembangunan untuk pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. 

Sebagai tindak lanjut, Fema IPB University membentuk IPB-China Agricultural and Rural Transformation Studies atau IPB-CHART guna mengorganisir hasil kerja sama strategis ini secara berkelanjutan. *

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas