Iran Izinkan Kapal China Melintasi Selat Hormuz di Tengah Ketegangan Kawasan
Pemerintah Iran dilaporkan mengizinkan sejumlah kapal asal China melintasi Selat Hormuz setelah tercapai koordinasi diplomatik terkait aturan pengelolaan jalur laut strategis tersebut oleh Teheran.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Pemerintah Iran dilaporkan mengizinkan sejumlah kapal asal China melintasi Selat Hormuz setelah tercapai koordinasi diplomatik terkait aturan pengelolaan jalur laut strategis tersebut oleh Teheran.
Kantor berita Fars News Agency melaporkan keputusan itu diambil usai komunikasi intensif antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan duta besar Beijing di Teheran. Mengutip sumber yang mengetahui persoalan tersebut, Fars menyebut pejabat Iran dan China telah mencapai kesepahaman mengenai kerangka aturan lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
Sumber itu memastikan proses pelayaran kapal-kapal China yang telah mendapat izin mulai berlangsung sejak semalam. Pemerintah Iran memandang pengaturan tersebut sebagai bagian dari protokol internal Republik Islam untuk mencegah apa yang mereka sebut sebagai eksploitasi politik terhadap arti strategis Selat Hormuz.
Laporan tersebut juga menyebut langkah itu mencerminkan “pengelolaan cerdas dan presisi” Iran terhadap salah satu koridor energi paling vital di dunia.
Dalam perkembangan terkait, televisi pemerintah Iran melaporkan sebanyak 30 kapal telah melintasi Selat Hormuz sejak malam sebelumnya di bawah pengawasan angkatan laut Islamic Revolutionary Guard Corps atau IRGC.
Otoritas Iran berulang kali menegaskan hanya jalur pelayaran yang telah ditetapkan Teheran yang dianggap aman untuk dilintasi. Komando Angkatan Laut Iran juga memperingatkan kapal yang menyimpang dari rute yang disetujui dapat menghadapi “respons tegas”.
Peringatan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di kawasan Teluk setelah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran serta sengketa mengenai kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Perkembangan terbaru ini terjadi sehari setelah kapal tanker raksasa berbendera China terpantau melintasi Selat Hormuz. Data pelayaran MarineTraffic menunjukkan kapal tanker Yuan Hua Hu bergerak ke arah timur melalui selat itu pada Rabu dini hari sebelum sinyal pelacakannya menghilang beberapa jam kemudian.
Hilangnya sinyal tersebut memicu spekulasi bahwa sistem identifikasi otomatis kapal sengaja dimatikan di tengah meningkatnya risiko keamanan kawasan.
Catatan pelayaran menunjukkan kapal itu sebelumnya sempat berlabuh di pelabuhan Asaluyeh, Iran, pada 28 Februari lalu, hari pertama konflik pecah. Kapal tersebut juga tercatat tetap aktif beroperasi di kawasan Teluk selama perang berlangsung.
Pelabuhan terakhir yang tercatat disinggahi kapal tersebut sebelum pelayaran terbaru adalah Uni Emirat Arab pada Maret lalu.
China hingga kini tetap menjadi importir terbesar minyak mentah Iran meski Washington menjatuhkan sanksi besar terhadap sektor energi Teheran. Beijing berulang kali menolak sanksi sepihak Amerika Serikat terhadap Iran dan terus berupaya mencegah entitas China mematuhi pembatasan AS terhadap kilang yang membeli minyak Iran.
Perkembangan maritim itu juga bertepatan dengan kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke Beijing di tengah meningkatnya kekhawatiran global terhadap gangguan di Selat Hormuz dan lonjakan harga energi dunia.
Pejabat AS diperkirakan akan menekan China agar menggunakan pengaruh ekonominya terhadap Iran guna membantu membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz sekaligus mendukung kerangka gencatan senjata yang dapat diterima Washington.
Namun di sisi lain, China semakin keras mengkritik apa yang mereka sebut sebagai peran destabilisasi Amerika Serikat dalam konflik tersebut. Beijing juga terus mendorong deeskalasi kawasan dan menjaga stabilitas ekonomi global.
Meningkatnya kembali aktivitas maritim China di kawasan Teluk dinilai menunjukkan makin besarnya persinggungan antara krisis Timur Tengah dan rivalitas strategis Amerika Serikat-China, terutama dalam isu keamanan energi, penerapan sanksi, dan pengaruh geopolitik global.