Rusia Bangun Kapal Perang Siluman Admiral Gromov, NATO dan AL Amerika Diminta Waspada
Rusia kembali mengirim sinyal kuat dalam persaingan militer global setelah memulai pembangunan fregat siluman terbaru Project 22350 bernama Admiral Gromov di Galangan Kapal Severnaya Verf, St. Petersburg.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Rusia kembali mengirim sinyal kuat dalam persaingan militer global setelah memulai pembangunan fregat siluman terbaru Project 22350 bernama Admiral Gromov di Galangan Kapal Severnaya Verf, St. Petersburg.
Kapal perang generasi baru tersebut disebut mampu membawa hampir seluruh jenis rudal utama Angkatan Laut Rusia, termasuk rudal hipersonik Zircon yang selama ini menjadi perhatian serius negara-negara Barat dan NATO.
Panglima Angkatan Laut Rusia, Alexander Moiseyev, mengatakan fregat Project 22350 telah membuktikan diri sebagai kapal perang modern dengan kemampuan serangan, pertahanan, dan pencarian yang kuat.
“Fregat-fregat ini dilengkapi untuk membawa seluruh jenis rudal yang saat ini digunakan Angkatan Laut Rusia,” kata Moiseyev dalam upacara peletakan lunas kapal tersebut.
Admiral Gromov merupakan kapal kesembilan dalam keluarga Admiral Gorshkov-class yang kini menjadi salah satu proyek modernisasi armada laut paling strategis Rusia di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik dengan Barat.
Berbeda dengan kapal perang era Soviet yang cenderung besar dan berfungsi spesifik, Project 22350 dirancang sebagai kapal tempur multirole modern. Kapal ini mampu menyerang target laut dan darat, menghadapi ancaman udara, memburu kapal selam, hingga mendukung operasi jarak jauh di samudra terbuka.
Secara spesifikasi, Admiral Gromov diperkirakan memiliki panjang sekitar 135 meter dengan bobot penuh mencapai 5.400 ton. Kapal tersebut menggunakan sistem propulsi CODAG gabungan mesin diesel dan turbin gas berkekuatan sekitar 65.000 shp, memungkinkan kecepatan hingga 30 knot dan operasi laut selama 30 hari tanpa kembali ke pangkalan.
Salah satu aspek paling menonjol dari kapal ini adalah desain stealth atau silumannya. Bentuk badan kapal dan superstruktur dirancang untuk mengurangi pantulan radar, sementara emisi panas dan sinyal elektronik ditekan agar sulit dideteksi sensor lawan.
Namun kekuatan utama Admiral Gromov terletak pada persenjataannya. Kapal ini dirancang mampu membawa rudal hipersonik 3M22 Zircon yang diklaim dapat melesat hingga Mach 8–9 dengan jangkauan sekitar 1.000 kilometer.
Kecepatan ekstrem tersebut dinilai menjadi tantangan besar bagi sistem pertahanan udara modern karena memperpendek waktu reaksi lawan hanya dalam hitungan menit.
Selain Zircon, kapal ini juga kompatibel dengan rudal jelajah Kalibr yang sebelumnya digunakan Rusia dalam operasi militer di Suriah dan Ukraina. Rudal tersebut mampu menghantam kapal perang, pangkalan militer, hingga infrastruktur darat melalui sistem peluncur vertikal.
Admiral Gromov juga dapat membawa rudal supersonik P-800 Oniks untuk peperangan anti-kapal. Rudal ini dirancang terbang rendah di atas permukaan laut guna menghindari radar sebelum menghantam target.
Di sektor pertahanan udara, kapal tersebut menggunakan sistem Poliment-Redut dengan radar phased-array modern yang dirancang menghadapi jet tempur, drone, hingga rudal jelajah.
Kapal ini juga dilengkapi meriam A-192M kaliber 130 mm, torpedo Paket-NK, sonar anti-kapal selam, serta hanggar helikopter Kamov Ka-27 untuk operasi pengintaian dan perang bawah laut.
Bagi Moskow, Project 22350 bukan sekadar program kapal perang baru. Kehadiran Admiral Gromov mencerminkan ambisi Rusia membangun kembali kekuatan lautnya pasca-era Soviet, sekaligus menunjukkan kemampuan Moskow mengembangkan platform tempur modern di tengah tekanan sanksi Barat dan perang Ukraina.
Saat ini, tiga fregat Project 22350 telah ditempatkan dalam armada Northern Fleet yang bermarkas di kawasan Arktik. Armada tersebut dianggap NATO sebagai salah satu elemen paling penting dalam doktrin nuklir Rusia.
Sebagian besar kapal selam nuklir strategis Rusia beroperasi dari kawasan Laut Barents dan Arktik Utara. Dari wilayah itu, kapal selam Rusia dapat bergerak menuju Atlantik Utara melalui jalur strategis GIUK Gap yang berada di antara Greenland, Islandia, dan Inggris.
Karena itu, NATO dalam beberapa tahun terakhir meningkatkan patroli anti-kapal selam, memperkuat sensor bawah laut, serta memperluas latihan militer di kawasan Arktik. Amerika Serikat, Inggris, dan Norwegia juga rutin mengerahkan pesawat pemburu kapal selam P-8 Poseidon untuk memantau aktivitas bawah laut Rusia.
Kehadiran Admiral Gromov dinilai penting bagi Rusia untuk melindungi jalur operasi kapal selam strategis mereka di Arktik dan Atlantik Utara. Selain menyerang kapal permukaan, fregat ini juga dirancang memburu kapal selam NATO dan mempertahankan armada Rusia dari ancaman udara.
Kemunculan rudal hipersonik Zircon juga mulai memunculkan kekhawatiran baru bagi Angkatan Laut Amerika Serikat. Selama puluhan tahun, kapal induk AS dianggap simbol supremasi militer global dengan perlindungan berlapis dari kapal perusak Aegis, pesawat tempur, hingga sistem anti-rudal.
Namun para analis menilai kombinasi kapal stealth dan rudal hipersonik seperti Zircon dapat mengubah keseimbangan perang laut modern. Semakin cepat rudal melaju, semakin kecil peluang sistem pertahanan untuk mendeteksi dan mencegatnya secara efektif.
Meski demikian, banyak pengamat menilai dominasi militer laut Amerika Serikat belum tergeser sepenuhnya karena Washington masih unggul dalam jumlah armada, pengalaman tempur global, satelit, sensor, dan integrasi jaringan perang modern.
Namun kemunculan Admiral Gromov dan Zircon memperlihatkan bahwa perang laut abad ke-21 kini tidak lagi hanya ditentukan oleh ukuran armada dan jumlah jet tempur, melainkan juga kecepatan rudal, teknologi stealth, serta kemampuan menyerang lebih dahulu dalam hitungan menit.