Menlu Iran Abbas Araghchi: China Mitra Strategis, AS Masih Sulit Dipercaya
Iran membuka peluang lebih besar bagi keterlibatan China dalam upaya penyelesaian konflik di Timur Tengah di tengah memanasnya perang dengan Amerika Serikat. Sikap tersebut sekaligus memperlihatkan semakin menurunnya kepercayaan Teheran terhadap Washington dalam proses negosiasi damai.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Iran membuka peluang lebih besar bagi keterlibatan China dalam upaya penyelesaian konflik di Timur Tengah di tengah memanasnya perang dengan Amerika Serikat. Sikap tersebut sekaligus memperlihatkan semakin menurunnya kepercayaan Teheran terhadap Washington dalam proses negosiasi damai.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa pemerintah Iran menyambut baik setiap negara yang memiliki niat membantu meredakan konflik, terutama China yang disebut sebagai mitra strategis Teheran. Pernyataan itu disampaikan Araghchi saat menghadiri pertemuan negara-negara BRICS di India, Jumat (15/5).
“Kami memiliki hubungan yang sangat baik dengan China. Kami tahu China memiliki niat baik, dan apa pun yang dapat mereka lakukan untuk membantu jalur diplomasi akan disambut Republik Islam Iran,” ujar Araghchi.
Pernyataan tersebut muncul setelah adanya laporan mengenai pembicaraan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing terkait situasi Timur Tengah, termasuk isu pembukaan kembali Selat Hormuz yang hingga kini masih diblokade Iran akibat perang dengan AS sejak Februari lalu.
Meski membuka ruang diplomasi, Iran secara terbuka mengaku masih menaruh curiga terhadap niat Amerika Serikat. Araghchi menyebut “ketidakpercayaan” menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi dengan Washington.
Menurutnya, Iran baru akan melanjutkan pembicaraan jika AS benar-benar menunjukkan keseriusan untuk mencapai kesepakatan yang adil dan seimbang. Sikap tersebut mencerminkan ketegangan diplomatik yang masih tinggi meski berbagai upaya mediasi mulai bermunculan dari sejumlah negara besar.
Sementara itu, Trump mengungkapkan bahwa Xi Jinping menawarkan bantuan untuk membuka kembali Selat Hormuz demi menjaga stabilitas perdagangan global. Trump juga mengeklaim Xi menegaskan China tidak akan mengirim bantuan militer kepada Iran dalam konflik melawan AS dan Israel.
Namun hingga kini pemerintah China belum memberikan konfirmasi resmi terkait pernyataan Trump tersebut. Di sisi lain, pengamat internasional menilai langkah Iran yang semakin dekat dengan China menunjukkan pergeseran geopolitik baru di kawasan Timur Tengah, di mana Beijing mulai memainkan peran diplomatik yang lebih aktif di tengah menurunnya kepercayaan sejumlah negara terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat.