Asri Hadi dan Saat IndoNews Memilih Regenerasi
Di ruang redaksi yang riuh oleh percakapan, sebuah pengumuman datang bak petir di siang bolong.
Reporter: indonews
Redaktur: donatus nador
Jakarta, INDONEWS.ID– Di ruang redaksi yang riuh oleh percakapan, sebuah pengumuman datang bak petir di siang bolong.
Asri Hadi, pria 68 tahun yang selama satu dekade terakhir menjadi denyut nadi www.IndoNews.id, memutuskan untuk menepi.
Ia menyerahkan tongkat estafet Pemimpin Redaksi kepada Rikard Djegadut, sosok muda berusia 38 tahun asal Manggarai Barat.
Bagi banyak orang, keputusan ini mengejutkan. Selama sepuluh tahun, nama Asri Hadi telah melekat begitu erat dengan IndoNews, hingga muncul adagium di internal redaksi: Asri Hadi adalah IndoNews, dan IndoNews adalah Asri Hadi.
Asri Hadi adalah sang bidan yang melahirkan media ini, sosok yang membesarkan dan menuntunnya melewati badai persaingan industri media yang semakin brutal.
Namun, di balik riuh rendah keterkejutan publik, Asri Hadi tetap tenang. Baginya, dunia ini hanyalah persinggahan sementara, dan lembaga - seperti halnya indonews – saatnya memiliki siklusnya sendiri.
"Ini bukan sikap dadakan. Saya sudah lama memikirkan ini. Sebuah media harus terus direvitalisasi. Ia harus mengalami transformasi agar tidak kehilangan relevansi di tengah riuhnya hoaks, ujaran kebencian, dan berita yang partisan," ujar Asri Hadi saat ditemui di sela-sela kesibukannya.
Asri Hadi menegaskan, IndoNews harus tetap berdiri tegak sebagai benteng independensi. Media ini, menurutnya, tidak boleh terseret arus kepentingan yang sempit; ia harus tetap setia pada khittah sebagai media yang berpihak sepenuhnya kepada kepentingan publik.
"Sepuluh tahun adalah waktu yang cukup bagi saya untuk menahkodai media ini. Saya tahu diri, dan saya percaya organisasi ini membutuhkan darah segar, inovasi baru, dan energi yang lebih fresh untuk menjawab tantangan zaman," ujarnya lagi.
Keputusan memberikan "kursi panas" kepada Rikard - yang bergabung dengan IndoNews sejak 2018 – juga bukanlah langkah instan. Asri Hadi melihat ada kebutuhan akan "darah segar".
Ia menyadari bahwa generasi milenial seperti Rikard memiliki kepekaan yang lebih tajam dalam memahami psikologi pembaca masa kini. Di tangan sosok yang lebih muda, IndoNews diharapkan lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan perubahan selera konsumsi informasi.
"Yang tua-tua harus ikhlas. Kita tidak bisa terus-menerus memegang kemudi. Harus ada regenerasi agar media ini memiliki napas yang lebih panjang dan inovasi yang lebih segar," tutur Asri Hadi dengan senyum tipis, menyiratkan kelegaan seorang mentor yang melihat kader didikannya siap terbang.
Asri Hadi tidak memilih Rikard hanya karena rekam jejaknya di ruang redaksi, melainkan karena karakter dan integritas yang ditunjukkan Rikard jauh melampaui usia kronologisnya. Rikard dikenal bukan hanya sebagai jurnalis, tetapi juga pegiat sosial yang aktif di wilayah Nusa Tenggara Timur.
Keterlibatannya dalam gerakan melek aksara dan berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat di akar rumput menjadi bukti bahwa ia memiliki "hati" yang tertambat pada kesejahteraan masyarakat, sebuah nilai inti yang selalu diusung IndoNews sejak awal berdiri.
Sementara Bagi Rikard, transisi ini bukan sekadar kenaikan jabatan, melainkan sebuah kehormatan yang memikul tanggung jawab besar. Ia menyadari sepenuhnya bahwa media memiliki fungsi mulia sebagai pengawal akal sehat bangsa.
Ia menyambut amanah ini dengan kerendahan hati. Baginya, transisi ini adalah sebuah kehormatan. Ia sadar, menggantikan sosok pendiri bukanlah pekerjaan mudah, namun ia berkomitmen menjaga api independensi yang telah dinyalakan Asri Hadi.
"Pak Asri Hadi telah meletakkan fondasi yang sangat kuat," ujar Rikard. "Tugas saya bukan hanya mempertahankan, tetapi memastikan IndoNews tetap menjadi oase di tengah gempuran informasi yang mencerahkan dan memberdayakan masyarakat."
Asri Hadi kini mengambil jarak – dengan jabatan redaktur senior - namun jejaknya sebagai pemimpin redaksi tetap abadi dalam visi yang ia titipkan.
Di IndoNews, proses perpindahan generasi ini menjadi pelajaran berharga tentang integritas: bahwa menjadi pemimpin besar bukan berarti harus memegang kekuasaan selamanya, melainkan tentang keberanian untuk melepaskan pada waktu yang tepat, demi keberlangsungan sebuah idealisme.
Sebuah era telah berganti, namun semangat yang sama - semangat untuk menjadi media yang independen dan mencerdaskan - tetap menjadi kompas bagi IndoNews dalam menapaki jalan ke depan.