Olivia Rodrigo: Putri Patah Hati yang Masih Percaya Cinta
Hujan turun seperti ditumpahkan dari langit yang bocor di Hampstead Heath, London Utara. Bukan hujan biasa—derasnya seperti mengirim seluruh makhluk air turun ke bumi. Lampu syuting buru-buru dipindahkan, kamera diselamatkan dari amukan cuaca, sementara kru tergopoh mencari perlindungan menuju dapur bergaya Victoria di Kenwood House.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Hujan turun seperti ditumpahkan dari langit yang bocor di Hampstead Heath, London Utara. Bukan hujan biasa—derasnya seperti mengirim seluruh air turun ke bumi.
Lampu syuting buru-buru dipindahkan, kamera diselamatkan dari amukan cuaca, sementara kru tergopoh mencari perlindungan menuju dapur bergaya Victoria di Kenwood House.
Di tengah kekacauan kecil itu, Olivia Rodrigo datang nyaris tanpa cacat. Rambutnya tetap rapi meski baru berjalan singkat diterpa angin London. Pagi masih terlalu muda bagi sebagian orang, tetapi penyanyi 23 tahun itu rupanya telah menyelesaikan pekerjaan bahkan sebelum wawancara dimulai.
Di perjalanan menuju lokasi, ia masih mengutak-atik detail lagu barunya, Maggots For Brains, yang akan dirilis hanya dalam hitungan hari.
“Aku sampai meminta vokal latarnya dinaikkan satu desibel saja,” katanya sambil tertawa kecil, mengakui obsesinya pada detail yang mungkin bahkan tak akan disadari orang lain.
Pilihan lokasi wawancara itu bukan kebetulan. Hampstead Heath adalah salah satu tempat favorit Rodrigo di London—ruang hijau luas tempat ia merasa bisa menjadi manusia biasa. Tidak seperti Los Angeles atau New York, ketenaran tampaknya tidak terlalu membebaninya di sini.
“Tempat ini paling enak untuk nongkrong,” ujarnya. “Tak ada yang aneh atau mengganggu.”
Pernah suatu kali, saat duduk di bangku taman, ia menyaksikan seseorang melamar pasangannya. Teman-teman pasangan itu berkumpul, riuh kecil penuh kejutan.
“Itu manis sekali,” katanya.
Mungkin karena itulah ia diam-diam sudah membayangkan lamaran versinya sendiri. Tempat idealnya? Bukan restoran mewah atau pesta glamor, melainkan taman terbuka di New York, Central Park. Ia bahkan punya skenario detail: seseorang memasang plakat kecil di bangku taman bertuliskan Will you marry me?
“Lalu aku duduk dan berpikir, ‘Ya Tuhan!’” katanya sembari tertawa.
Bahkan, jauh sebelum ada calon suami, Rodrigo rupanya sudah menentukan lagu pernikahannya: I Melt with You milik band new wave Inggris, Modern English.
“Bayangkan habis berciuman lalu berjalan keluar altar dengan lagu itu,” katanya, bersenandung pelan intro lagu tersebut. “Aku suka sekali.”
Pilihan itu terdengar sedikit ironis untuk seseorang yang selama beberapa tahun terakhir menjadi putri patah hati generasinya. Dua album awal Rodrigo—Sour dan Guts—dipenuhi luka, kemarahan, kecemasan, dan rasa kehilangan. Lagu-lagunya menjadi semacam terapi kolektif bagi generasi muda yang akrab dengan cinta berumur pendek dan perpisahan tak selesai.
Namun cinta sempat mengubah nadanya.
Pada 2024, Rodrigo menulis lagu cinta pertamanya yang benar-benar utuh, So American, tentang jatuh cinta pada aktor Inggris, Louis Partridge. Media sosialnya kala itu dipenuhi foto Wimbledon, bus tingkat merah London, dan potongan kebahagiaan yang terlihat sederhana.
Saat tampil di Festival Glastonbury tahun lalu, ia bahkan mengganti lirik dari “I think I’m in love” menjadi “’Cause I’m in love”. Di sisi panggung, Partridge menyaksikan.
Maka ketika mulai menggarap album ketiganya, Rodrigo sempat berpikir prosesnya akan mudah. Ia ingin menulis tentang kegembiraan jatuh cinta.
“Aku ingin menangkap rasa bahagia romantis untuk pertama kali,” katanya.
Namun judul albumnya berbicara lain: You Seem Pretty Sad for a Girl So in Love. Kedengarannya seperti paradoks.
“Ini kisah cinta yang runtuh,” katanya singkat.
Album itu menjadi kapsul waktu dari beberapa tahun hidupnya—dimulai dari mabuk asmara di sebuah pub London, lalu perlahan digerogoti kecemasan dan keraguan.
Di lagu ketujuh, Purple, kebahagiaan masih terdengar, tetapi progresi nadanya sengaja dibuat menggantung, tak pernah benar-benar menemukan rumah harmoninya. Sebuah metafora musikal tentang hubungan yang mulai retak.
Awalnya, kata Rodrigo, lagu itu manis sekali.
“Tapi beberapa bulan kemudian kami revisi. Kami ubah akornya, ubah liriknya,” katanya.
Hasilnya: cinta yang mulai terasa pahit.
Luka serupa juga hadir dalam lagu What’s Wrong With Me, duet bersama idolanya, Robert Smith. Semula lagu itu tentang rindu yang menyiksa. Namun setelah hubungan berakhir, Rodrigo sadar bahwa sumber kesedihannya mungkin bukan jarak—melainkan hubungan itu sendiri.
Panggung besar tetap menjadi ruang yang paradoks baginya: tempat takut sekaligus rumah.
Di belakang panggung Glastonbury musim panas lalu, Rodrigo nyaris mengalami serangan kecemasan.
“Aku seperti panik di kamar mandi, berpikir: apa aku siap?” katanya.
Tetapi semuanya berubah begitu kaki melangkah ke panggung.
“Ada sesuatu yang mengambil alih. Aku langsung tenang.”
Mungkin itu sebabnya, meski tumbuh sebagai mantan bintang Disney dan kini memiliki lebih dari 40 juta pengikut Instagram, Rodrigo tetap terasa membumi. Ia bicara soal telur rebus dengan roti celup—makanan Inggris favoritnya—dengan semangat yang sama seperti saat membahas musik. Teman-temannya bahkan menghadiahkannya tempat telur dari berbagai negara.
Di Inggris, katanya, ia merasa lebih “normal”. Bisa berjalan ke pub, bertemu teman, spontan tanpa terlalu dipandangi.
Namun Rodrigo bukan hanya tentang lagu galau dan kisah cinta. Ia juga vokal soal isu sosial: hak reproduksi perempuan di Amerika Serikat, krisis kemanusiaan di Gaza, hingga kritik terhadap penggunaan musiknya oleh pemerintahan Trump untuk video deportasi imigran.
“Aku tak pernah ingin tujuan utamaku adalah disukai semua orang,” katanya. “Kalau itu bukan motivasi utama, hidup terasa lebih menyenangkan.”
Menjelang akhir percakapan, Rodrigo menjawab beberapa pertanyaan ringan.
Ia ternyata mengalami kehilangan pendengaran 60 persen di telinga kiri. Saat kecil, cita-citanya menjadi dokter kandungan karena menyukai bayi. Jika hidupnya dijadikan film, ia ingin judul yang kelewat optimistis: Olivia Rodrigo Lives the Happiest, Most Joyful Life Any Singer Songwriter Ever Lived.
Dan jika suatu hari kembali berakting, satu peran yang ingin ia mainkan adalah Juliet dalam Romeo and Juliet.
Pilihan yang terasa pas—putri patah hati musik pop memerankan tokoh cinta paling tragis dalam sejarah sastra.
Bedanya, tidak seperti Juliet yang dikurung takdir, Rodrigo tampak sedang menulis naskah hidupnya sendiri. Bahkan sebelum album baru dirilis, ia telah berpisah dengan para manajernya untuk mengambil alih kendali penuh atas kariernya.
Di usia yang masih sangat muda, Olivia Rodrigo tampaknya sudah memahami satu hal: cinta bisa runtuh, hujan bisa datang tiba-tiba, tetapi keputusan tentang hidup—dan bahkan lagu pernikahan—tetap bisa dipilih sendiri.