indonews

indonews.id

Trump Tegur Netanyahu: Israel Tak Bertahan Dua Jam Jika Iran Punya Nuklir

Di tengah panasnya konflik Timur Tengah yang belum benar-benar reda, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan yang bukan hanya mengejutkan, tetapi juga terasa seperti teguran terbuka kepada sekutu terdekat Washington: Israel.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Di tengah panasnya konflik Timur Tengah yang belum benar-benar reda, Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan pernyataan yang bukan hanya mengejutkan, tetapi juga terasa seperti teguran terbuka kepada sekutu terdekat Washington: Israel.

Kalimat itu pendek, tajam, dan segera menggema ke berbagai ruang diplomasi dunia. “Jika Iran punya senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan dalam dua jam.”

Ucapan Trump tersebut disampaikan dalam wawancara dengan The New York Times pada Minggu (14/6/2026), ketika ia berbicara mengenai upaya Amerika Serikat menghentikan perang dengan Iran—sebuah konflik yang dalam beberapa pekan terakhir mengubah wajah geopolitik kawasan.

Namun yang membuat pernyataan itu lebih mengguncang bukan hanya substansinya, melainkan arah kritik yang ditujukan Trump: Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Di mata Trump, Netanyahu terlalu keras kepala. “Dia orang yang sangat sulit,” kata Trump mengenai pemimpin Israel itu.

Nada pernyataan tersebut terdengar seperti seorang sekutu lama yang mulai kehilangan kesabaran. Trump bahkan menyebut Netanyahu seharusnya bersyukur kepada Amerika Serikat karena Washington berupaya keras menghentikan pertempuran dengan Iran melalui jalur diplomasi—khususnya dengan menekan isu program nuklir Teheran.

“Sejujurnya, dia harusnya bersyukur kepada kami karena melakukan ini. Karena jika Iran punya senjata nuklir, Israel tidak akan bertahan dalam dua jam,” lanjut Trump.

Pernyataan itu datang pada momen yang sensitif. Selama berbulan-bulan, Netanyahu dikenal sebagai salah satu pemimpin paling vokal yang mendorong pendekatan keras terhadap Iran.

Pemerintah Israel berulang kali menyatakan bahwa program nuklir Iran merupakan ancaman eksistensial dan tidak boleh dibiarkan berkembang. Namun Trump tampaknya memilih jalan berbeda: bukan perang berkepanjangan, melainkan kesepakatan.

Damai di Tengah Ancaman

Di balik pernyataan kerasnya terhadap Netanyahu, Trump sebenarnya sedang menjual narasi yang lebih besar—bahwa diplomasi dengan Iran adalah satu-satunya cara mencegah bencana regional.

Dalam wawancara yang sama, Trump menegaskan kesepakatan dengan Iran harus segera diwujudkan jika Teheran tidak ingin kembali menghadapi serangan dari Washington.

Pesannya sederhana namun penuh tekanan: damai adalah pilihan, tetapi perang masih ada di meja. Sehari sebelumnya, melalui platform Truth Social, Trump mengumumkan bahwa proses negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran akhirnya telah rampung.

Kesepakatan itu, menurut Trump, akan ditandatangani secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6/2026).

Pengumuman tersebut langsung memicu perhatian global. Sebab jika benar tercapai, ini akan menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar di Timur Tengah setelah bertahun-tahun hubungan Washington-Teheran diwarnai sanksi, ancaman militer, dan perang bayangan.

Trump bahkan memastikan satu poin yang disebut akan menjadi bagian penting kesepakatan: nol tarif bagi kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz.

Bagi dunia, ini bukan sekadar soal perdagangan laut. Selat Hormuz adalah urat nadi energi global—jalur sempit tempat sebagian besar ekspor minyak dunia melintas. Setiap ancaman terhadap kawasan itu hampir selalu mengguncang harga energi internasional. Jika jalur tersebut kembali stabil, pasar global bisa bernapas lebih lega.

Bayang-Bayang Iran Nuklir

Namun di balik optimisme diplomatik itu, kalimat Trump tentang “dua jam” tetap menggantung seperti peringatan. Pernyataan tersebut sekaligus menggarisbawahi satu ketakutan lama yang terus menghantui Timur Tengah: bagaimana jika Iran benar-benar mencapai kapasitas senjata nuklir?

Meski Teheran berulang kali menegaskan program nuklir mereka bersifat damai, kecurigaan Barat—terutama Israel—tak pernah benar-benar hilang.

Trump tampaknya menggunakan ketakutan itu sebagai alasan mengapa kesepakatan harus segera diselesaikan. Bukan hanya untuk Iran. Bukan hanya untuk Amerika Serikat.

Tetapi juga, ironisnya, untuk menyelamatkan Israel sendiri. Kini dunia menunggu satu tanggal penting: 19 Juni di Swiss. Di sana, jika semuanya berjalan sesuai rencana, pena diplomasi mungkin akan mencoba menghentikan sesuatu yang selama ini gagal dihentikan oleh misil dan ancaman perang.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas