indonews

indonews.id

DAMAI atau PERANG BERLANJUT di IRAN

DAMAI atau PERANG BERLANJUT di IRAN

Reporter: luska
Redaktur: Rikard Djegadut

Oleh: JIMMY H SIAHAAN

Dalam "Understanding Iran", Green, Wehrey and Wolf Jr, melihat soal ini sebagai kasus sangat kompleksitas dan sulit karenanya telah menghasilkan pandangan yang aneh. 

Pandangan yang ditandai oleh mistik dan pembacaan dangkal yang terlalu menekankan pada 'ketidaknormalan' dan 'karakteristik luar biasa' Iran.

Karena ribetnya soal Iran di telaah dimulai dengan judul  dari "Evil Empire" (kerajaan jahat ) ke "Axis of Evil" ( poros jahat). Namun dalam kenyataan kesepakatan pernah terjadi.

Disepakatinya JCPOA antara P5 + 1 ( AS, Inggeris, Prancis, Russia dan China, ditambah Jerman/UE dan Iran pada 14 Juli 2015, setelah proses panjang negosiasi selama10 tahun, merupakan pencapaian luarbiasa. Peran Barrack Obama. 

Kemudian dunia tersentak pada 8 Mei 2018. Presiden Trump resmi mengumumkan penarikan diri. Saat periode kedua kembali untuk kedua kalinya dunia tersentak kembali dimulai perang.

Selanjut akhir Febuari 2026 perang berlanjut hingga empat bulan dan saat ini berakhirnya gencatan senjata. Kini MOU Juni 2026 gencatan senjata berakhir.

Soal Nuklir & Selat Hormuz

Negosiasi untuk mencapai kesepakatan akhir dijadwalkan akan dimulai minggu depan karena pemakaman Khamenei telah selesai. 

Pembicaraan tersebut dimaksudkan untuk berfokus pada isu-isu paling sulit, termasuk pembukaan kembali selat secara penuh dan penghentian program nuklir Teheran yang kontroversial.

Namun Trump mengatakan pada Rabu (8/7) bahwa perjanjian gencatan senjata sementara telah berakhir. Ia mengatakan negosiasi akan terus berlanjut, tetapi menganggap para negosiator membuang-buang waktu.

Sementara media digital AS, Axios, menyebut serangan-serangan terbaru Iran di selat yang penting bagi perdagangan global minyak, gas, dan pupuk tersebut diprakarsai pihak-pihak di dalam kepemimpinan Iran yang menentang perjanjian AS-Iran. Selat Hormuz telah terbukti menjadi alat tekanan ekonomi dan militer terkuat bagi Iran dalam konflik ini.

Pembukaan kembali selat tersebut merupakan elemen sentral dari perjanjian tersebut. Pimpinan militer Iran bersikeras, sesuai perjanjian, bahwa mereka bertanggung jawab penuh atas pengelolaan selat tersebut. Dari sudut pandang Teheran, menyerah bukanlah "pilihan yang realistis," tulis pakar Iran asal Israel, Danny Citrinowicz, di platform X.

Para pembuat kebijakan Iran berasumsi bahwa mereka masih memiliki peluang untuk melakukan eskalasi, termasuk kemampuan untuk meningkatkan tekanan di Laut Merah dan di sekitar Selat Bab al-Mandab yang strategis di pintu masuk Laut Merah, tulis pakar tersebut. Gangguan terhadap lalu lintas kapal regional telah menyebabkan kenaikan harga minyak. Dari sudut pandang Teheran, pasar energi dapat terus menjadi alat tekanan. Teheran tampaknya tidak akan bersedia melepaskan alat ini secara sukarela.

Dengan demikian, AS "berada di hadapan keputusan strategis yang sulit," tulis Citrinowicz. Pilihannya adalah melanjutkan kebijakan mereka dan dengan demikian berisiko memicu eskalasi lebih lanjut di kawasan serta tekanan baru pada pasar energi global atau Washington kembali ke meja perundingan dan menangani isu-isu keamanan tertentu melalui saluran diplomatik terpisah.

Menurut Axios, para mediator berpendapat bahwa kedua pihak yang bertikai terlepas dari eskalasi terbaru telah mencapai kemajuan dalam putaran pembicaraan sebelumnya menuju kesepakatan nuklir. Negara-negara mediator pun ingin mencegah agar kesepakatan tersebut tidak gagal.

Kepada kantor berita dpa, pejabat AS tersebut menegaskan, pembicaraan teknis masih berlangsung: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

Iran Tak Akan Menyerah

Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah kedua belah pihak terlibat aksi saling serang. 

Ketua Parlemen yang juga negosiator utama Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa perang ini tidak akan pernah berakhir dengan penyerahan diri pihak Teheran.

"Mengakhiri perang adalah prioritas bagi negara-negara di dunia, namun setiap orang harus tahu bahwa konfrontasi ini tidak akan pernah berakhir dengan penyerahan diri Iran," ujar Ghalibaf sebagaimana dilaporkan kantor berita ISNA dan dilansir AFP, Jumat (10/7/2026).

"Setiap kali pihak Amerika mengkhianati pemahaman (perjanjian), kami sepenuhnya siap untuk mempertahankan diri. Kami akan berdiri teguh melawan mereka dan mengamankan hak-hak rakyat Iran,"

Diketahui, AS dan Iran telah terlibat aksi saling tembak dalam beberapa kesempatan sepanjang pekan ini.

Washington menuduh Teheran sengaja menargetkan kapal-kapal komersial di perairan internasional sebelum akhirnya meluncurkan serangan balasan. Di sisi lain, Iran menyatakan telah menyerang sejumlah aset militer AS di kawasan Timur Tengah dengan menggunakan pesawat nirawak (drone) dan rudal.

Padahal, baru berselang tiga minggu setelah Washington dan Teheran menandatangani perjanjian yang bertujuan mengubah gencatan senjata menjadi perdamaian berkelanjutan. Namun, aksi saling serang selama dua hari berturut-turut hingga Kamis kemarin justru mengancam kembalinya perang regional skala penuh.

Ghalibaf mengungkapkan bahwa selama proses negosiasi dengan Washington, ia sempat menegaskan langsung kepada Wakil Presiden AS JD Vance mengenai ketidakpercayaan negaranya.

"Kami tidak memiliki kepercayaan kepada Anda," cetus Ghalibaf mengulang pernyataannya kepada JD Vance.

"Dari sudut pandang saya, mereka yang bisa bernegosiasi dengan Amerika adalah mereka yang memang sudah siap untuk berperang," lanjutnya.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump pada Jumat menyatakan bahwa dirinya telah menyetujui adanya negosiasi lebih lanjut dengan Iran. Kendati demikian, Trump kembali mengulangi pernyataannya bahwa masa gencatan senjata di antara kedua negara saat ini sudah berakhir.

Sebagai langkah mediasi, delegasi dari pihak mediator Qatar dilaporkan telah tiba di Iran pada Jumat untuk melakukan pembicaraan intensif menyusul eskalasi terbaru yang terjadi di antara kedua negara tersebut.

Dalam soal Selat Hormuz kembali ditegaskan Menlu Abbas Araghchi bahwa masa depan Selat Hormuz ada ditangan Iran dan Oman.

Perang tersebut, menurut para analis, semakin menegaskan posisi strategis Iran di Selat Hormuz, jalur laut yang menjadi salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.

Teheran kini menuntut agar setiap kesepakatan mengenai program nuklirnya dimulai dengan pengakuan bahwa pengaruh Iran atas Selat Hormuz merupakan kenyataan yang harus diterima dunia.

Dalam persaingan tersebut, posisi geografis Iran dinilai lebih berharga daripada cadangan uranium yang dimilikinya.

Teheran ingin mengubah keuntungan strategis selama perang menjadi keunggulan permanen dengan memperoleh pengakuan atas dominasinya di sekitar Selat Hormuz.

Alex Vatanka dari Middle East Institute mengatakan, meskipun Iran berpotensi memperoleh pemasukan besar dari biaya pelayaran di Selat Hormuz, Teheran lebih memandang selat tersebut sebagai simbol legitimasi politik dibanding sumber pendapatan ekonomi.

"Bagi Iran, nilai simboliknya jauh lebih penting daripada pendapatannya. Mereka menginginkan semacam pengakuan simbolis bahwa Selat Hormuz adalah milik Iran. Intinya adalah pengakuan bahwa Iran merupakan kekuatan berdaulat atas selat tersebut," ujarnya, kepada Reuters.

Vatanka kemudian mengutip pepatah Persia:

Why give away a diamond for a lollipop

"Mengapa menukar berlian dengan permen?"

"Cherâ almâs râ bâ yek âb-nabât avaz konim? {Jangan melepaskan sesuatu yang sangat berharga demi imbalan yang nilainya jauh lebih kecil)"

Dalam pandangan Iran, Selat Hormuz adalah berlian, sedangkan pencabutan sanksi ekonomi dan pencairan aset yang dibekukan hanyalah "permen".

"Anugerah Ilahi"
Pandangan tersebut juga ditegaskan oleh pimpinan Iran.  Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menyebut Selat Hormuz sebagai alat kekuatan terbesar Iran sekaligus "anugerah ilahi" yang harus dijaga.

Trump Dinilai Lebih Terdesak

Teheran meyakini Presiden AS Donald Trump lebih membutuhkan kesepakatan dibanding Iran. Menurut mantan diplomat AS Alan Eyre, tekanan politik domestik dan pemilu paruh waktu Kongres membuat Trump ingin segera mengakhiri konflik.

"Iran tahu Trump ingin segera keluar dari situasi ini. Mereka yakin waktu berada di pihak mereka," ujarnya, dikutip dari Reuters.

Mantan negosiator Timur Tengah AS Aaron David Miller menilai operasi militer Washington gagal mengurangi daya tawar Iran. Karena itu, Teheran tidak terburu-buru membahas program nuklir sebelum dunia mengakui posisi barunya di Selat Hormuz dan ada kemajuan pencairan aset yang dibekukan.

"Batas waktu 60 hari hanyalah ilusi. Iran ingin memastikan tidak ada jalan kembali ke situasi sebelum 27 Februari," kata Miller.

Miller menilai perang justru memperkuat posisi Iran di Selat Hormuz. 

"Mereka tidak akan pernah melepaskannya." ujar Miller.

"Setelah menemukan 'harta karun' bernama Hormuz, mereka tidak akan meninggalkannya."

Sejumlah analis menilai AS pada akhirnya kemungkinan harus menerima pembukaan kembali Selat Hormuz dengan syarat yang sebagian besar ditentukan Teheran.

Diplomasi Berlanjut

Kedua negara dalam waktu dekat akan memulai kembali perundingan.

Jalur Selat Hormuz telah beroperasi kembali. Walaupun belum kembali normal. Harga minyak dunia kembali turun diangka sekitar usd 90an rata2 per/barel.

Namun usulan dari Negara Besar dan Timur Tengah semua mengusulkan agar perairan diutamakan bagi keselamatan disamping adanya usulan tol setiap melewati jalur selat Hormuz, padahal yang sebelum perang tidak pernah ada. 

Disamping persoalan pengayakkan Nuklir yang terus di tentang oleh Amerika.

Mengingat kompleksitas dan rawannya kasus ini yang telah menciptakan dunia global tergoncang.

Krisis Energi Global yang belum terjadi sebelumnya. Hal ini menjelaskan betapa besar dampak yang terjadi.

Dapat dikatakan masalah terbesar setelah perang dunia kedua dan setelah masa perang dingin. 

Jika demikian hanya upaya diplomasi dan akal sehat yang dapat membuat perdamaian terjadi. Karena Diplomasi adalah The Art of restraining power (seni menahan kekuasaan).

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas