Iran Gempur 2 Pangkalan Militer AS di Kuwait dengan Drone
Iran kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait. Militer Iran pada Minggu (19/7) mengklaim telah mengerahkan serangan drone berskala besar ke dua instalasi militer AS di negara tersebut.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID – Iran kembali melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait. Militer Iran pada Minggu (19/7) mengklaim telah mengerahkan serangan drone berskala besar ke dua instalasi militer AS di negara tersebut.
Klaim serangan itu disampaikan militer Iran melalui pernyataan yang disiarkan media pemerintah Iran, IRIB.
Dalam pernyataannya, militer Iran menyebut serangan menyasar gudang amunisi di Camp Al Adiri. Selain itu, serangan juga ditujukan ke sistem rudal Patriot dan instalasi radar pertahanan udara di Pangkalan Udara Ali Al Salem.
Di tengah laporan serangan tersebut, militer Kuwait menyatakan angkatan bersenjata negara itu tengah merespons ancaman rudal dan drone yang berlangsung dalam beberapa hari terakhir.
"Ledakan apa pun yang mungkin terdengar adalah hasil dari sistem pertahanan udara yang mencegat target musuh," kata militer Kuwait melalui media sosial X.
Militer Kuwait juga mengimbau masyarakat mematuhi seluruh arahan keamanan yang dikeluarkan otoritas setempat.
Serangan terbaru ini terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan terhadap sejumlah lokasi di Iran selama hampir sepekan terakhir.
Iran kemudian membalas dengan menargetkan fasilitas dan pangkalan yang diklaim digunakan oleh militer AS di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah, termasuk Kuwait.
Eskalasi konflik AS-Iran tersebut terjadi meski kedua negara sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada Juni lalu. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan itu dimaksudkan untuk mengakhiri konflik dan membuka jalan menuju perjanjian perdamaian jangka panjang.
Namun, serangkaian serangan terbaru menunjukkan ketegangan antara Washington dan Teheran kembali meningkat dan berpotensi memperluas konflik ke negara-negara lain di kawasan.
