Jakarta, INDONEWS.ID - Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengisyaratkan bahwa Israel tetap membuka kemungkinan mengambil tindakan militer terhadap Iran meski upaya diplomatik antara Teheran dan Washington dilaporkan memasuki tahap lanjutan.
Pernyataan tersebut disampaikan Netanyahu pada Rabu (5/8), ketika para mediator dari Qatar menyatakan perundingan antara Iran dan Amerika Serikat menunjukkan kemajuan, sementara Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan pemerintahannya berhasil menghadapi tekanan yang menurutnya bertujuan menggulingkan Republik Islam.
Dalam pernyataannya, Netanyahu menegaskan pemerintah Israel tetap berkomitmen mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Ia menyampaikan pernyataan itu dengan merujuk pada klaim mengenai pernyataan pejabat Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
"Hari ini kita mendengar komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi, menyatakan bahwa Iran berniat untuk terus mengembangkan senjata nuklir," kata Netanyahu.
Ia menambahkan bahwa sebagai perdana menteri Israel, dirinya bertekad mencegah Iran memiliki senjata nuklir dan siap mengambil langkah yang dinilai diperlukan untuk menjamin keamanan negaranya. Netanyahu juga menyebut Amerika Serikat sebagai "sekutu terbesar Israel".
Pernyataan tersebut muncul ketika jalur diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat masih berlangsung. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, sehari sebelumnya mengatakan proses mediasi telah memasuki "tahap lanjut", ditandai dengan pertukaran draf usulan antara kedua pihak sebagai bagian dari upaya mencapai kesepakatan yang lebih luas.
Menurut Al-Ansari, para mediator kawasan terus berkomunikasi dengan seluruh pihak guna mempertahankan momentum diplomasi dan mendorong penyelesaian melalui dialog.
Perundingan tersebut merupakan kelanjutan dari proses diplomatik setelah meningkatnya ketegangan antara Iran di satu sisi serta Amerika Serikat dan Israel di sisi lain dalam beberapa bulan terakhir. Qatar dan Pakistan disebut menjadi mediator utama dalam upaya tersebut, yang sempat menghasilkan nota kesepahaman pada Juni sebelum pembahasan kembali menghadapi sejumlah kendala, termasuk isu pelayaran di Selat Hormuz.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan tekanan militer dan politik terhadap negaranya gagal mencapai tujuan untuk menggulingkan pemerintahan Republik Islam.
Dalam pidatonya kepada publik, Pezeshkian mengatakan pihak-pihak yang memusuhi Iran meyakini negaranya dapat dilumpuhkan dalam waktu singkat, namun menurutnya perkiraan tersebut tidak terbukti.
"Musuh-musuh kita menyusun rencana dan beranggapan bahwa mereka bisa menguasai Iran dalam waktu 48 jam," ujar Pezeshkian.
Ia menegaskan Iran tetap bertahan menghadapi tekanan yang disebutnya sebagai periode paling sulit sejak Revolusi Islam 1979. Menurut Pezeshkian, persatuan nasional menjadi faktor utama yang menjaga stabilitas negara.
"Selama kita tetap bersatu dengan rakyat, tidak ada kekuatan yang mampu menggulingkan Republik Islam," katanya.
Pezeshkian juga menuduh pihak-pihak yang memusuhi Iran berupaya melemahkan negaranya melalui tekanan ekonomi, operasi militer, hingga serangan terhadap para pemimpin negara. Menurut dia, institusi pemerintahan tetap berjalan dan kepemimpinan negara mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan tersebut.
Hingga berita ini ditulis, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Amerika Serikat terkait pernyataan terbaru Netanyahu maupun pidato Presiden Pezeshkian.