Update Terbaru Gempa NTT, BNPB: Korban Meninggal Bertambah Jadi 100 Orang
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 100 orang.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 100 orang.
Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, kenaikan jumlah korban meninggal terjadi karena sejumlah korban yang sebelumnya mengalami luka berat dan menjalani perawatan intensif di fasilitas kesehatan akhirnya tidak dapat diselamatkan.
"Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan, bahwa yang meninggal seratus ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan," kata Suharyanto dalam konferensi pers daring dari Jakarta, Senin.
Menurut dia, pada hari pertama dan kedua pascagempa, jumlah korban meninggal tercatat sebanyak 48 orang. Namun, setelah sejumlah korban luka berat meninggal dunia dalam perawatan, total korban meninggal kini mencapai 100 orang.
Selain korban meninggal, BNPB mencatat sebanyak 1.603 orang mengalami luka-luka, sementara 180.327 jiwa mengungsi akibat bencana tersebut.
BNPB Bantah Isu Tsunami Susulan
Suharyanto menyayangkan kondisi darurat di NTT diperparah oleh beredarnya informasi palsu atau hoaks mengenai potensi tsunami susulan.
Informasi tersebut membuat sebagian warga panik dan memilih mendirikan lokasi pengungsian secara mandiri, termasuk di kawasan perbukitan yang jauh dari jangkauan petugas.
BNPB menegaskan informasi mengenai tsunami susulan tersebut tidak benar. Masyarakat diminta mengikuti perkembangan situasi hanya dari instansi resmi, khususnya BMKG.
"Ada isu tsunami susulan, semua itu tidak betul. Karena setiap pagi instansi yang berwenang, sekali lagi Kepala BMKG selalu meng-update, menginformasikan perkembangan gempa," ujar Suharyanto.
Dia mengatakan, selama delapan hari setelah gempa utama, tidak ada gempa susulan yang magnitudonya melampaui gempa utama. BNPB pun meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.
6.409 Gempa Susulan Tercatat
Terkait aktivitas kegempaan, BNPB menyebut data BMKG mencatat sebanyak 6.409 kali gempa hingga pukul 05.00 WIB pada hari kedelapan pascabencana.
Dari ribuan gempa tersebut, gempa susulan terbesar tercatat bermagnitudo 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,1. Sebanyak 33 gempa susulan tercatat memiliki magnitudo 5 atau lebih. Sementara itu, dari total 6.409 gempa, sebanyak 139 gempa dirasakan oleh masyarakat.
"Susulan yang terbesar ada 6,2 magnitudo. Kemudian, yang terkecil 1,1. Yang sama dengan atau lebih besar dari 5 magnitudo ada 33 kali," kata Suharyanto.
BNPB memproyeksikan aktivitas gempa susulan masih dapat berlangsung selama tiga hingga empat minggu ke depan hingga kondisi lempeng bumi kembali stabil. Meski demikian, intensitas gempa susulan diperkirakan terus mengalami penurunan.
Pengungsi Mandiri Tetap Dilayani
Sementara itu, pemerintah masih berupaya memenuhi kebutuhan warga yang memilih bertahan di lokasi pengungsian mandiri. Suharyanto mengakui distribusi bantuan ke sejumlah titik pengungsian mandiri yang berada jauh dari lokasi pengungsian terpusat belum sepenuhnya optimal.
"Apakah semuanya sudah ter-cover, apakah semuanya sudah dapat, apakah semuanya sudah cukup, kami jawab belum cukup," ujarnya.
Meski demikian, pemerintah daerah bersama petugas terus berupaya menyalurkan bantuan logistik ke lokasi-lokasi tersebut. Distribusi dilakukan menggunakan kendaraan berukuran kecil hingga berjalan kaki untuk menjangkau warga yang berada di kawasan perbukitan.
BNPB memastikan kebutuhan dasar masyarakat di lokasi pengungsian mandiri tetap menjadi perhatian meski akses menuju sejumlah wilayah terdampak masih menjadi tantangan.