Seminar 400 Tahun Warisan Syekh Yusuf Al-Makassari, Momentum Menguatkan Jejak Peradaban Islam Nusantara
Ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari dinilai penting untuk terus diperingati sebagai bagian dari upaya mengenang perjalanan, pemikiran, perjuangan, dan warisannya dalam perkembangan peradaban Islam di Nusantara.
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari dinilai penting untuk terus diperingati sebagai bagian dari upaya mengenang perjalanan, pemikiran, perjuangan, dan warisannya dalam perkembangan peradaban Islam di Nusantara.
Hal tersebut disampaikan Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D., Rektor Universitas YARSI, dalam seminar memperingati 400 Tahun Warisan Syekh Yusuf Al-Makassari yang digelar di Gedung Balai Jakarta, Rabu (26/8/2026).
Seminar mengangkat tema “Jalur Sutra Maritim dan Peradaban Islam Nusantara”. Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang perjalanan dan warisan Syekh Yusuf Al-Makassari sekaligus mengkaji hubungan Jalur Sutra Maritim dengan perkembangan peradaban Islam di Nusantara.
Menurut Fasli Jalal, ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari memiliki makna penting dalam melihat sejarah perjalanan Islam di Nusantara. Perjalanan hidupnya memperlihatkan adanya hubungan antardaerah dan antarbangsa yang terbangun melalui jalur perdagangan, pendidikan, dakwah, serta pertukaran pengetahuan.
“Ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari perlu kita peringati sebagai momentum mengenang perjalanan dan warisan beliau sekaligus mengkaji hubungan Jalur Sutra Maritim dengan perkembangan peradaban Islam di Nusantara,” ujar Fasli Jalal.
Pembahasan mengenai Jalur Sutra Maritim menjadi penting karena jalur tersebut tidak hanya berfungsi sebagai lintasan perdagangan, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai budaya, gagasan, ilmu pengetahuan, dan tradisi keagamaan. Mobilitas masyarakat melalui jalur maritim turut membentuk jaringan intelektual dan keagamaan yang menghubungkan berbagai wilayah Nusantara dengan dunia Islam yang lebih luas.
Dalam konteks tersebut, perjalanan Syekh Yusuf Al-Makassari menjadi salah satu gambaran penting mengenai luasnya jaringan peradaban Islam pada masa lalu. Jejak perjalanan dan perjuangannya menunjukkan bahwa hubungan antarmasyarakat di Nusantara tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung dengan jaringan dunia yang lebih luas melalui jalur maritim.
Bagi masyarakat Sumatera Barat, ketokohan Syekh Yusuf Al-Makassari juga memiliki relevansi dengan budaya merantau yang telah dilakukan masyarakat Minangkabau sejak dahulu. Tradisi merantau tidak hanya dimaknai sebagai perpindahan dari satu daerah ke daerah lain, tetapi juga menjadi sarana untuk menuntut ilmu, membangun jaringan, berdagang, serta menyebarkan pengetahuan dan nilai-nilai keagamaan.
Semangat merantau tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat Nusantara sejak dahulu memiliki mobilitas yang tinggi dan membangun hubungan antardaerah melalui jalur darat maupun maritim. Pertemuan berbagai komunitas dalam perjalanan tersebut turut memperkaya pertukaran ilmu, budaya, dan pemikiran Islam yang kemudian menjadi bagian penting dalam terbentuknya peradaban Islam di Nusantara.
Ketua Rangkayo Minang, Usie Sofyan, menyampaikan terima kasih atas terselenggaranya seminar yang mengangkat perjalanan dan warisan Syekh Yusuf Al-Makassari tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang untuk mengenang ketokohan ulama besar Nusantara, tetapi juga membuka kesempatan untuk memperkuat pemahaman mengenai hubungan sejarah dan budaya antardaerah di Indonesia.
“Di samping kehadiran para tokoh yang hadir sebagai narasumber, kami juga mengapresiasi antusiasme peserta seminar yang mencapai sebanyak 250 orang. Kehadiran dan partisipasi yang begitu besar tentu memberikan semangat bagi kami sebagai penyelenggara untuk terus menghadirkan kegiatan yang mengangkat sejarah, budaya, serta warisan tokoh-tokoh besar Nusantara,” ujar Usie Sofyan.
Ia menilai pembahasan mengenai Jalur Sutra Maritim memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan masyarakat Nusantara, termasuk masyarakat Minangkabau yang sejak dahulu dikenal memiliki tradisi merantau. Tradisi tersebut telah melahirkan jaringan sosial, ekonomi, pendidikan, dan keagamaan yang menghubungkan masyarakat Minang dengan berbagai daerah di Nusantara.
Menurut Usie Sofyan, semangat merantau yang diwariskan masyarakat Minangkabau pada hakikatnya juga mencerminkan keterbukaan untuk belajar, membangun hubungan, dan membawa nilai-nilai kebaikan ke berbagai tempat. Karena itu, kajian mengenai perjalanan tokoh seperti Syekh Yusuf Al-Makassari dapat menjadi inspirasi untuk memperkuat kembali hubungan antardaerah dan antargenerasi.
Seminar ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan mengenang sejarah, tetapi juga menjadi ruang untuk menggali nilai-nilai keteladanan, keilmuan, perjuangan, dan kontribusi para tokoh Nusantara. Dengan demikian, warisan Syekh Yusuf Al-Makassari dapat terus dipahami dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari kekayaan sejarah dan peradaban Indonesia.(M.Datuk)