NTT Belum Tenang! BNPB: 9.278 Gempa Susulan Mengguncang, 111 Orang Meninggal
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 111 orang hingga Sabtu (29/8/2026).
Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut
Jakarta, INDONEWS.ID - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 111 orang hingga Sabtu (29/8/2026).
Data tersebut disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, dalam konferensi pers di Kantor BNPB, Jakarta, Sabtu.
"Jumlah yang meninggal tetap sebesar 111 orang, dan tetap kita mohon doa untuk seluruh yang meninggal akibat dari gempa ini untuk kiranya diberikan ketabahan buat keluarga, buat handai tolan, maupun untuk tetangga-tetangga yang bersama-sama selama ini terkait dengan warga yang meninggal tersebut," ujar Berton.
Selain korban jiwa, aktivitas kegempaan di wilayah NTT masih berlangsung. Sejak gempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 9.278 gempa susulan.
Dari ribuan gempa susulan tersebut, magnitudo terbesar tercatat mencapai 6,2, sedangkan yang terkecil bermagnitudo 1,0. Sebanyak 153 gempa susulan dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
"BMKG [Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika] mencatat ada 9.278 gempa susulan yang terjadi dengan magnitudo paling besar 6,2, paling kecil 1, dan yang dirasakan oleh masyarakat ada 153 kali," ucap Berton.
Jumlah Pengungsi Meningkat
BNPB juga mencatat adanya peningkatan jumlah warga yang mengungsi. Kenaikan tersebut, menurut Berton, tidak serta-merta menunjukkan kondisi di lapangan semakin buruk, melainkan dipengaruhi proses pembaruan dan validasi data korban terdampak.
Salah satu perubahan terbesar terjadi di Kabupaten Ngada. Setelah dilakukan verifikasi ulang terhadap data yang sebelumnya masuk, jumlah pengungsi di wilayah tersebut melonjak dari 3.259 orang menjadi 21.552 orang.
"Kenapa ini bertambah sedangkan dua hari yang lalu berkurang? Ini sebenarnya dikarenakan adanya pembaharuan data signifikansi yang terjadi di (Kabupaten) Ngada, di mana selama ini data-data yang hadir kepada kami itu kurang update, kurang valid, sehingga dilakukan validasi, sehingga kita lihat di Ngada yang tadinya hanya 3.259 orang, sekarang menjadi 21.552 orang pengungsi," ucap Berton.
Pembaruan tersebut menunjukkan bahwa pendataan menjadi salah satu tantangan penting dalam penanganan bencana. Validasi diperlukan agar distribusi bantuan dan kebutuhan pengungsi dapat disesuaikan dengan kondisi sebenarnya di lapangan.
Di sisi lain, BNPB terus mendistribusikan bantuan logistik ke sejumlah wilayah terdampak gempa di NTT. Berton menyebut terdapat tambahan bantuan sebanyak 5 ton yang diterima BNPB pada Sabtu.
Sementara itu, total bantuan yang telah dikirimkan ke wilayah terdampak disebut mencapai 22 ton pada periode tersebut.
Namun, secara keseluruhan, BNPB mencatat jumlah logistik yang telah dikirim selama periode 15-29 Agustus 2026 mencapai 1.916 ton.
"Secara kualitatif jumlah logistik yang terkirim itu ada sebesar 1.916 ton dalam periode tanggal 15 sampai 29 Agustus 2026. Nah, ini kita bisa lihat bahwa di Labuan Bajo itu ada 1.200 ton, di Maumere ada 598 ton, di Manggarai Barat sendiri ada 12 ton, Manggarai ada 25 ton, Manggarai Timur ada 30 ton, Ngada ada 8 ton, Nagekeo ada 16 ton, Ende ada 16 ton, dan Sikka ada 10 ton," tutur Berton.
Distribusi tersebut mencakup sejumlah daerah terdampak, antara lain Labuan Bajo, Maumere, Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.
Dengan aktivitas gempa susulan yang masih berlangsung dan proses pendataan yang terus diperbarui, pemerintah dan lembaga penanggulangan bencana masih melakukan pemantauan terhadap kondisi masyarakat terdampak sekaligus memastikan kebutuhan dasar pengungsi tetap terpenuhi.