indonews

indonews.id

Kick Off Pelatihan Vokasi Nasional Batch IV 2026, Menko Airlangga Dorong Penguatan Kompetensi Tenaga Kerja Masa Depan

Pemerintah terus memperkuat pelatihan vokasi sebagai instrumen untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang. Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan angkatan kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Pemerintah terus memperkuat pelatihan vokasi sebagai instrumen untuk meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang. Penguatan tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan angkatan kerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan perubahan kebutuhan dunia kerja.

“Program ini merupakan arahan Bapak Presiden yang menjadi bagian dari stimulus di semester dua di tahun 2026 yang perlu dijalankan secara efektif, tepat sasaran, dan berdampak bagi masyarakat,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam Kick Off Program Pelatihan Vokasi Nasional Batch IV Tahun 2026, di Kota Serang, pada Selasa (1/09).

Pada kesempatan tersebut, Menko Airlangga menjelaskan bahwa penguatan pelatihan vokasi tidak terlepas dari kebutuhan untuk memastikan pertumbuhan investasi diikuti dengan kesiapan tenaga kerja. Hingga Semester I 2026, realisasi investasi mencapai Rp1.010,6 triliun atau tumbuh 7,2 persen (YoY) dan setara dengan 49,5 persen dari target. Investasi tersebut turut menciptakan sekitar 1,4 juta lapangan kerja secara nasional.

Di sisi ketenagakerjaan, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) nasional telah menurun menjadi 4,65 persen. Namun, tantangan struktural masih perlu menjadi perhatian karena sekitar 67 persen dari total pengangguran berasal dari kelompok generasi muda atau sekitar 4,8 juta orang. Kondisi tersebut semakin menunjukkan pentingnya pelatihan vokasi dalam mengurangi kesenjangan antara kompetensi tenaga kerja dan kebutuhan industri.

Selain kebutuhan industri secara umum, perubahan struktur ekonomi juga menciptakan kebutuhan kompetensi baru pada sektor digital dan ekonomi hijau. Sementara itu, transisi ekonomi hijau juga melahirkan kebutuhan terhadap profesi baru, antara lain teknisi panel surya, teknisi turbin, hingga tenaga yang memiliki keterampilan smart farming.

Pengembangan energi surya juga diproyeksikan membuka kebutuhan tenaga kerja dan industri pendukung dalam skala besar. Pemerintah mendorong program pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GW, sementara kapasitas listrik nasional saat ini berada di sekitar 88 GW. Di sisi industri, kapasitas produksi panel surya nasional telah mendekati 11 GW, sehingga peningkatan kebutuhan energi terbarukan akan turut membutuhkan kesiapan tenaga kerja dengan kompetensi yang relevan.

Program Pelatihan Vokasi Nasional Tahun 2026 menargetkan sekitar 340.000 peserta. Target tersebut terdiri atas 70.000 peserta melalui alokasi APBN existing yang telah dirancang sejak tahun sebelumnya dan tambahan 270.000 peserta melalui program stimulus ekonomi Semester II 2026. Hingga Agustus 2026, sebanyak 89.337 peserta telah mengikuti pelatihan, sementara Batch IV dilaksanakan secara serentak dengan jumlah 12.128 peserta.

Menko Airlangga menekankan bahwa pencapaian target tersebut membutuhkan pemanfaatan fasilitas pelatihan secara optimal dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

“Jadi Bapak Presiden ingin agar ini skalanya besar termasuk untuk vokasi ini, maka tentu ke depan kita harus memanfaatkan seluruh fasilitas yang dimiliki tidak hanya oleh Pemerintah pusat, Pemerintah daerah, tetapi juga kalangan industri,” pungkas Menko Airlangga.

Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menambahkan bahwa penguatan pelatihan vokasi perlu diarahkan pada kebutuhan nyata dunia kerja agar peningkatan kompetensi tenaga kerja dapat berjalan seiring dengan transformasi industri.

“Pelatihan vokasi perlu dirancang secara adaptif agar kompetensi yang diberikan benar-benar relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan jenis pekerjaan. Kolaborasi antara Pemerintah dan dunia usaha menjadi kunci untuk memastikan proses upskilling dan reskilling tidak hanya meningkatkan keterampilan tenaga kerja, tetapi juga memperkuat kesiapan mereka menghadapi perubahan teknologi dan transformasi industri,” ujar Jubir Haryo.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut di antaranya yakni Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Prof. Yassierli, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Sekretaris Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan (Sekjen Kemnaker) Cris Kuntadi, Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (Binalavotas) Kemnaker Darmawansyah, Bupati Kabupaten Serang Ratu Rachmatuzakiyah, serta Wakil Wali Kota Serang Nur Agis Aulia, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Banten Sofwan Kurnia, serta Asisten Deputi Peningkatan Produktivitas dan Pengembangan Ekosistem Ketenagakerjaan Kemnaker Chairul Saleh. 


© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas