indonews

indonews.id

Kala Mantan Atlet Menelajangi Kebijakan Olahraga

Ada yang menggelitik sekaligus menohok ketika membaca buku terbaru karya Sadik Algadri, Membangun Otot di Negeri Kertas. Buku ini langsung memantik memori kolektif tentang bagaimana sebuah realitas sosial seringkali berhenti sebatas wacana, dokumen perencanaan yang tebal, atau simbol-simbol administratif belaka—tanpa pernah benar-benar bertransformasi menjadi kekuatan yang nyata.

Reporter: Rikard Djegadut
Redaktur: Rikard Djegadut

Jakarta, INDONEWS.ID - Ada yang menggelitik sekaligus menohok ketika membaca buku terbaru karya Sadik Algadri, Membangun Otot di Negeri Kertas. Buku ini langsung memantik memori kolektif tentang bagaimana sebuah realitas sosial seringkali berhenti sebatas wacana, dokumen perencanaan yang tebal, atau simbol-simbol administratif belaka—tanpa pernah benar-benar bertransformasi menjadi kekuatan yang nyata.

Sadik, yang dikenal luas sebagai mantan atlet judo nasional, tidak sedang menulis memoar nostalgia di atas tatami. Melalui buku yang disunting oleh Asro Kamal Rokan dan Suryansyah ini, ia justru menelanjangi carut-marut ekosistem olahraga nasional dengan pisau bedah akademik yang tajam.

Buku ini menarik bukan hanya karena ditulis oleh figur berlatar belakang akademik kuat khas didikan Kampus UI, melainkan karena ia berani menerobos ruang steril olahraga dan membawanya ke gelanggang politik yang sesungguhnya: politik anggaran, kebijakan publik, dan komitmen para pemangku kepentingan.

Membuka Mata: Olahraga Bukan Sekadar Keringat

Kehadiran buku ini sontak memantik diskursus hangat di kalangan kawan-kawan Sadik di bangku kuliah FISIP UI. Bagi Asri Hadi, buku ini berhasil membuka mata kita bahwa prestasi di arena internasional tidak bisa lahir dari instrumen kebetulan.

"Buku ini membuka mata kita secara telanjang bahwa olahraga hari ini adalah soal management, soal persistent, soal politik, dan komitmen dari para pemangku kepentingan. Kita tidak bisa lagi berharap pada ‘keajaiban’ atau sekadar bakat alamiah atlet tanpa cetak biru tata kelola yang profesional," ujar Asri.

Senada dengan Asri, Otho H. Hadi melihat bahwa Sadik mampu meramu ketajaman analisis sosiologis dengan pengalaman praktisnya sebagai atlet. Menurut Otho, kelemahan mendasar keolahragaan Indonesia selama ini terletak pada ketidakmampuan menerjemahkan potensi fisik menjadi sebuah sistem industri dan pembinaan yang ajek.

"Sadik mengingatkan kita lewat riset dan refleksi mendalam bahwa membangun prestasi itu butuh persistensi sistemik, bukan proyek musiman. Olahraga adalah manifestasi dari politik kebudayaan dan komitmen negara," timpal Otho.

Politik, Ekosistem, dan Pertarungan Kebijakan

Di ruang kelas FISIP UI, Sadik tahu betul bahwa kekuasaan dan sumber daya selalu berkelindan. Hal inilah yang dikupas tuntas oleh Tungga Dewa. Ia menilai bahwa *Membangun Otot di Negeri Kertas* berhasil membongkar mitos bahwa urusan olahraga cukup diserahkan kepada pengurus cabang tanpa dukungan ekosistem makro.

"Buku ini menyadarkan kita bahwa ada politik olahraga yang bekerja di balik layar. Tanpa political will yang kuat dari pengambil kebijakan, serta manajemen modern yang transparan, atlet kita hanya akan jadi penonton di negeri orang atau sekadar penggembira tanpa daya tawar," tegas Tungga.

Pandangan tajam serupa juga datang dari Ahmed Kurnia. Sebagai sesama kawan sefakultas yang akrab dengan dinamika birokrasi, Ahmed melihat karya Sadik sebagai sebuah tamparan keras sekaligus manifesto kebangkitan tata kelola keolahragaan nasional.

"Sadik menuntun kita keluar dari ilusi birokrasi olahraga yang gemar memelihara proposal di atas kertas, namun kering dari eksekusi lapangan. Olahraga adalah pertarungan daya tahan, dan itu menuntut komitmen total dari hulu ke hilir," ulas Ahmed.

Keluar dari Jebakan "Penggembira"

Kegelisahan utama Sadik Algadri dalam buku ini sebenarnya sangat sederhana namun fundamental: ia ingin melihat kontingen Merah Putih berdiri sejajar dengan raksasa olahraga dunia, bukan sekadar pelengkap penderita atau rombongan pariwisata berjaket kontingen.

Untuk mencapai titik itu, Membangun Otot di Negeri Kertas menawarkan tesis bahwa sport science, infrastruktur yang memadai, pendanaan berkelanjutan, dan iklim kompetisi yang sehat adalah harga mati. Olahraga bukan lagi ladang karitatif yang mengandalkan belas kasihan anggaran APBN yang ala kadarnya, melainkan sebuah koridor strategis pembangunan martabat bangsa.

Pada akhirnya, buku ini berhasil menempatkan posisinya bukan sekadar bacaan wajib bagi para pengurus cabang olahraga atau birokrat Kemenpora, melainkan sebuah dokumen gugatan intelektual. Sadik telah membuktikan bahwa seorang alumnus FISIP UI tidak hanya piawai merangkai teori di atas kertas, tetapi juga tahu persis bagaimana cara melatih "otot" bangsa agar benar-benar kuat berdiri di panggung dunia.

© 2025 indonews.id.
All Right Reserved
Atas