Indonesia Kembali Tegaskan Win-win Solution Soal Sawit kepada Uni Eropa

Oleh : hendro - Rabu, 27/03/2019 19:31 WIB

Dubes RI untuk Belgia merangkap Uni Eropa (UE) dan Luksemburg, Yuri O. Thamrin pada Seminar dengan tema ‘ASEAN - EU Relations: Advancing a Partnership for Innovation and Sustainability’ yang diselenggarakan di European Institute for Asian Studies (EIAS)

Brussel, INDONEWS.ID - Indonesia kembali angkat isu diskriminasi yang dilakukan UE terhadap minyak kelapa sawit pada Seminar dengan tema ‘ASEAN - EU Relations: Advancing a Partnership for Innovation and Sustainability’ yang diselenggarakan di European Institute for Asian Studies (EIAS), think tank Uni Eropa berbasis di Brussels. 

Dubes RI untuk Belgia merangkap Uni Eropa (UE) dan Luksemburg, Yuri O. Thamrin, menekankan perlunya ‘win-win solution’ dalam penyelesaian isu ini. ‘Diskriminasi yang dilakukan UE terhadap sawit akan berimplikasi negatif terhadap sedikitnya 17 juta orang yang terlibat dalam industri sawit’, ujarnya.

Dubes Yuri juga kembali menyampaikan komitmen Indonesia untuk terus meningkatkan upayanya dalam menghasilkan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan (sustainable palm oil). Indonesia tidak akan membiarkan lahan hijaunya dirusak demi kelapa sawit.

Oleh karena itu, Indonesia berkeberatan dengan kebijakan UE melalui Delegated Act yang mengkategorikan sawit sebagai komoditi yang merusak lingkungan dan menyebabkan deforestasi. 

Diskriminasi dan double standard yang diterapkan UE dibenarkan oleh salah salah satu anggota Parlemen Eropa terkemuka, Dr. Werner Langen, yang juga merupakan ketua DASE (Delegation for relations with the countries of Southeast Asia and ASEAN). Dalam surat terbukanya, Dr. Langen menyampaikan pandangannya bahwa minyak kelapa sawit yang diproduksi secara berkelanjutan seharusnya tidak masuk dalam kategori beresiko tinggi terhadap lingkungan (Indirect Land Use Change/ILUC high risk) dan kebijakan Delegated Act Komisi Eropa tersebut “pure protectionist and hypocritical”.

Menanggapi hal ini, Mr. David Daly dari European External Action Service (EEAS), EU Commission, menyampaikan bahwa pada dasarnya UE tidak melarang sawit untuk masuk ke pasar UE. Hanya saja untuk memenuhi target Renewable Energy 2030, UE berkomitmen untuk mengurangi penggunaan biofuel yang tidak ramah lingkungan. Untuk menjembatani hal ini, UE siap berdialog dengan Indonesia dan negara produsen sawit lainnya.  

Berbicara di depan sedikitnya 150 tamu undangan yang kebanyakan adalah peneliti dan think tank, Dubes Yuri juga menyampaikan kekahwatirannya mengenai meningkatnya  Islamophobia dan white supremacists.

Islamophobia dan white supremacists merupakan Social Cancer yang dapat menggerogoti nilai-nilai demokrasi, toleransi dan pluralisme yang selalu dijunjung tinggi negara-negara Eropa.

Isu minyak kelapa sawit dan Islamophobia mendominasi diskusi mengenai upaya untuk memajukan kemitraan ASEAN dan EU yang juga dihadiri oleh para Duta Besar dari 10 negara ASEAN. 
 

Artikel Terkait