Nasional

Teknologi Novel Algae Sebagai Solusi Limbah Industri Sawit

Oleh : very - Sabtu, 25/05/2019 15:40 WIB

Limbah industri sawit. (Foto: Ist)

Jakarta, INDONEWS.ID -- Saat ini berkembang paradigma baru tentang Industri Kelapa Sawit yang disebut Palm 5.0. Dengan metode pengolahan POME (Palm Oil Mill Effluent) atau Limbah Pabrik Kelapa Sawit, para ahli meyakini cara ini dapat mengurangi polusi gas metana yang memiliki bobot 27 kali setara dengan CO2.

“Kerangka Kerja Palm 5.0, yang menerapkan Teknologi Novel Algae, dapat memperoleh pengembalian finansial dan lingkungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan bisnis perkebunan dasar,” ujar Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution saat menyampaikan pidato kunci dalam acara Biobased (Circular) Economy Investment Forum, Jumat (24/5), di Jakarta.

Selain itu, limbah POME yang berbahaya dan diperkirakan akan mencapai 130 juta ton pada tahun 2030 dapat digunakan sebagai bahan baku untuk menghasilkan DHA yang berkualitas dan harga tinggi, seperti Omega 3.

Sebagai negara penghasil Minyak Kelapa Sawit, tambah Menko Darmin, dengan Teknologi Novel Algae ini Indonesia dapat diuntungkan, setidaknya dari (1) investasi yang baik; (2) ekspor yang baik; (3) penyelesaian masalah limbah; dan yang paling penting, (4) peningkatan skala perekonomian di daerah pengembangan Palm 5.0.

Loading...

Dalam pengolahan limbah kelapa sawit, Universitas Tsukuba, yang merupakan salah satu Universitas terkemuka di Jepang kini dikembangkan menjadi pusat penelitian teknologi Alga di dunia. Salah satu teknologi komersialnya dapat mengatasi masalah POME dengan mengurangi tingkat Permintaan Oksigen Biokimia, sekaligus mengubahnya menjadi produk bernilai tinggi seperti Omega 3 dan tepung ikan.

“Saat ini, pabrik CPO Indonesia memproduksi sekitar 455.000 ton POME per hari. Ini adalah limbah besar yang dibebani ke lingkungan. Belum lagi CO2 dan efek berbahaya lainnya. Kami senang memiliki lembaga pendukung untuk secara aktif mengembangkan pengembangan teknologi Palm 5.0 untuk kebaikan dunia dan lingkungan — dan juga membawa pengembalian laba yang lebih tinggi untuk industri kelapa sawit,” imbuh Menko Darmin.

Menko Darmin mengatakan bahwa dukungan dan partisipasi semua pemangku kepentingan dibutuhkan agar konsep Palm 5.0 dapat terwujud.

“Meskipun kami memiliki tim kami sendiri yang berkomitmen dan mahir dalam bidang ini, namun tidak akan terwujud tanpa dukungan dan partisipasi semua pemangku kepentingan,” tegas Menko Darmin.

Acara yang diselenggarakan oleh Kemenko Perekonomian bekerjasama dengan Komite Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Singapura dan Mobiol Corporation dr Jepang ini turut dihadiri oleh: KADIN Singapura Dr. Michael Goutama, Perwakilan dari Universitas Tsukuba Jepang Profesor Makoto Watanabe, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Musdalifah Machmud, serta Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Wahyu Utomo. (Very)

Artikel Terkait