Daerah

Florikultura, Potensi Ekonomi Baru Masyarakat Banjar

Oleh : tirto prima putra - Rabu, 12/06/2019 18:30 WIB

Banjar, indonews.id- Kabupaten Banjar di wilayah Provinsi Kalimantan Selatan memiliki potensi pengembangan florikultura sebagai sumber ekonomi baru daerah. Produk florikultura tersebut meliputi melati, mawar dan kenanga yang tersebar di dua Kecamatan yaitu Martapura dan Karang Intan. Lokasi utamanya berada di Desa Bincau, Labuantabu, Pandak daun, Jingah Habang Hilir, Jingah Habang Hulu dan Karang Intan.

Selama ini petani Banjar mengembangkan florikultura secara swadaya dan sudah turun temurun sejak puluhan tahun yang lalu. Permintaan kebutuhan akan bunga tersebut pada umumnya adalah untuk acara pernikahan maupun upacara keagamaan yang memang cukup sering diadakan disana.

Keinginan Pemerintah Daerah Kabupaten Banjar untuk mengembangkan kawasan melati (baik dalam aspek budidaya maupun pengembangan industri hilir seperti olahan melati menjadi minyak atsiri), ditindaklanjuti dengan kegiatan Bimbingan Teknis dan Pelatihan Pengolahan bunga beberapa waktu yang lalu. 

"Saya berharap melalui kegiatan ini masyarakat lebih memahami budidaya yang baik sehingga menghasilkan produksi yang optimal. Diharapkan dapat memenuhi permintaan konsumen baik di Kalimantan Selatan, maupun provinsi lain seperti Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah," ujar Raudhatul Wardiyah, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Banjar. Selain itu Raudhatul mendorong agar pengolahan melati, mawar dan kenanga dikembangkan menjadi minyak maupun bentuk olahan lainnya seperti campuran untuk industri teh.

Loading...

Pada acara tersebut, Muhammad Fachry, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banjar juga berharap agar ada alokasi APBN untuk mengembangkan kawasan melati dan pendampingan dari pemerintah pusat dalam mendorong pengembangan agribisnis florikultura di Kabupaten Banjar untuk memasok kebutuhan di wilayah Indonesia Timur.

Aspek lain dalam upaya peningkatan pendapatan petani dengan mengolah bunga menjadi minyak turut disampaikan Ida Fitriani Kepala Seksi Teknologi Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banjar. "Pengolahan melati menjadi minyak urut maupun minyak angin aromatherapi bisa menjadi sumber pendapatan tambahan petani," ujar Ida.

Rangkaian bimtek dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke kebun melati di Desa Jingah Habang Ilir - Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Di kebun tersebut terdapat pertanaman melati umur sekitar 5 tahun seluas sekitar 3.000 m2. Kondisi pertanaman cukup subur dan lahan bersih, namun ada serangan opt di beberapa tanaman terutama trips.

Panen dapat dilakukan setiap hari kira-kira 200 gelas (20 gelas bunga melati kurang lebih 1 kg). Harga rata-rata per gelas sekitar Rp. 2500–3000 dengan angkos panen Rp. 1000 per gelas. Apabila permintaan tinggi maka harga per gelas sekitar Rp. 10 ribu dan ongkos panen Rp. 3 ribu.

Kunjungan juga dilakukan untuk melihat proses meronce melati. Proses perendaman melati dengan air es belum pernah dilakukan di Kabupaten Banjar. "Dalam menjaga kesegaran bunga, perlu dilakukan perendaman dengan air es selama 2- 3 jam, setelah itu ditiriskan. Bunga yang sudah ditiriskan dapat dironce atau langsung dijual dengan menyimpan dalam kantong plastik dan disimpan dalam styroform yang ditambahkan dengan es agar melati tetap segar," ujar Setiono.

Artikel Terkait