Mengenang Hari-hari Kelam Melanda Dunia dalam "Dua Pekan Suci"

Oleh : Rikardo - Rabu, 25/03/2020 20:01 WIB

Gerard N. Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menabiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta.

Sejarah Terulang oleh Gerard N Bibang*)

INDONEWS.ID - Pekan sunyi, di dalam rumah saja, sendiri-sendiri dalam ramai yang berjarak; mungkinkah ini pekan suci untuk mempurifikasi, mumpung ada social distancing; ibarat berada di ruang unit gawat darurat menjenguk kerabat yang sekarat, di rumah sakit, tahu kah kau, itu bukan di rumah sakit; ke luar jendela memandang dunia, masa depan, masa lampau, masa depan seperti datang bergantian; rasa-rasanya habis dua pekan karantina aku adalah pasien yang harus memegang surat pengantar lolos sehat dari puskesmas

Dari dalam rumah, yang seperti unit gawat darurat ini, kusaksikan orang-orang, baik di dunia nyata maupun di layar kaca, berperang melawan sejarah yang berulang, yaitu wabah 100-tahunan; apa yang mereka dengar sebagai kata-kata turun temurun, kini menjadi daging dan hadir antara mereka, yaitu sejarah berulang, wabah 100 tahunan; pertama, wabah marseille, 1720, di Prancis, menewaskan total 100 ribu jiwa, dalam dua tahun beturut-turut, saking massivnya sehingga pandemi itu disebut dengan istilah black death

Sejarah itu berulang, di tahun 1820: wabah kolera, dikenal dengan sebutan pendemi kolera Asiatik, yang awal mula kemunculannya dati dekat kota Kalkuta, menyebar ke Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika Timur, hingga pantai Mediterania; ratusan rbu orang meninggal, termasuk banyak tentara Inggris

Sejarah itu berulang lagi, tahun 1920: flu spanyol; ialah virus flu H1N1 yang telah mengalami mutasi genetik sehingga jauh lebih berbahaya daripada virus normal, menginfeksi lebih dari 500 juta orang di seluruh dunia, sehingga menjadikannya salah satu wabah paling mematikan dalam sejarah umat manusia

Dan lagi-lagi, sejarah berulang, 2020, virus corona, diidentifikasi di Wuhan, ibu kota propinsi Hubei, China, menular dari manusia ke manusia, yang mencapai puncaknya pada pertengahan Januari lalu, menewaskan ratusan jiwa; menyebar ke Eropa, ke Italia dengan begitu massive-nya sehingga ribuan tewas dalam bilangan hari dan minggu, ke semua negara Eropa sehingga di mana-mana lockdown, apalagi di Asia, dengan variasi lockdown dan setengah lockdown.

Virus ini mematikan dengan gejala awal demam, batuk, kesulitan bernafas; memang di sana sini, ada khabar gembira bahwa dari seluruh dunia, 100 orang menderita corona, 4 di antaranya, meninggal; orang yang khawatir berlebihan tentu karena hanya berpusat pada empat orang itu; lucunya di negeriku ini, di bagian timur wilayahnya diserang demam berdarah yang menewaskan ratusan orang tapi tak mampu mengalahkan ketakutan dan kekhawatiran nasional dan berita2 nasional terhadap virus corona

Sejarah berulang, dari hanya kata-kata, kini telah menjadi daging dan tinggal di antara kita; kulihat di layar kaca dan di luar sana orang-orang berperang, dan ini doaku, semoga mereka bukan berperang mempertahankan dan memper-tuhankan diri, saling mengklaim paling tahu dan paling benar, dan yang paling celaka, saling mempersalahkan, demi apa pun yang mereka anggap kebenaran

Sejarah berulang seperti sejarah pecah; negeri dan keluargaku seperti pecah; karena baru pertama kalinya mengalami kebenaran ini: bersatu kita runtuh, berpisah kita utuh; berpisah di sini ialah menjaga jarak yang aman; bahkan kita sekarang ini berada dalam keadaaan di mana kentut lebih diterima derajatnya daripada batuk dan bersin

Dari dalam rumah aku dengar suara dari kejauhan iring2an mobil ambulans ke RS Darurat Corona Wisma Atlet Kemayoran atau ke mana lagi, mentulikan telinga untuk mendengar khabar gembira bahwa Allah kita adalah YANG ADA, OMNIPRESENTIA, ada di mana-mana, di saat suka maupun duka, bahwa dari 100 orang terinfeksi virus corona di seluruh dunia, empat orang di antaranya yang meninggal, bahwa kematian adalah sahabat yang datang kapan saja tanpa diundang, bahwa ia adalah adalah transfer jiwa badan ke kehidupan baka selama-lamanya

Aku dengar suara-suara di layar kaca, baik nyaring maupun berbisik, suara dari mikforon2 yang mendadak ahli virus vorona seperti ombak berulang-ulang memuntahkan diri, dan di sana sini menggema pertanyaan sebelum habis memakan kata-kata sendiri dalam sunyi: jika engkau, aku, mungkin kita-kita, menganggap masa lalu dan kini sebagai bencana, apakah engkau, aku, mungkin kita-kita sanggup hidup di masa depan sebagai pengungsi?

Pekan Suci

Cukup, cukup kak: kesimpulanmu terlalu panjang. Ini kesimpulan atau puisi? Hahahahaahhaaha, aku bangga dan senang karena di masa karantina ini dek masih kuat berdistingsi mana hura-hura dan mana kebenaran.

Jadi, dua minggu karantina ini kita ngapain kak, bosan juga neh social distancing.                                    Iyah, kita tetap bekerja dek, tapi kerja dalam arti paling penting ialah mempurifikasi diri, memurnikan diri dari kotoran-kotoran pandangan dunia yang mengelabui kebenaran.

Wualaaa, pekan suci dong dua pekan lagi.      Memang iyah, pekan suci, pekan purifikasi.

Caranya?

Banyak, antara lain semakin meningkatkan kesadaran dan sensitivitas kepada apa yang benar, kepada kebenaran. Tadi dengar gak: kebenaran bahwa Tuhan selalu beserta kita, kini dan sepanjang segala masa, amin.

Kayak doa aja, ayo-ayo waeeee; terus yang lainnya?

Kebenaran lain ya, bahwa kematian itu -- mengapa ditakuti: jika langkah kita melandas di alas tiba, kematian sungguh-sungguh tidak perlu diundang dek. Kematian adalah pintu menuju hidup abadi. Dus, mengapa takut?

Yah, yah, lalu hubungannya dengan virus corona?

Tadi itu kan, dari 100 penderita, 4 yang meninggal, jika ditarik rata-rata dari seluruh dunia: mengapa mati-matian berfokus pada empat? lalu kebenaran lain yang kamu boleh terima atau gak, terserah! Bahwa sekali-sekalinya di saat karantina begini, kentut lebih tinggi derajatnya daripada batuk dan bersin; karena begitu bersih, waduh, jangan-jangan corona, mati aku!

Weleweleeee, boleh aku serius dengar, akhir-akhirnya omong tentang kentut; tapi benar juga sih. Juga satu tadi, kak.

Yang mana tu?

Itu lho, kebenaaran tentang bersatu kita runtuh, berpisah kita utuh.

Hahahahaa, adik cerdas: sini keningmu, aku mau cium

Eittttssssss....social distancing, belum lockdown lho, kak

Wualaaaaa, hahahahahahahaah! selamat menikmati pekan suci ya dek

Sama-sama, kak; jaga stamina dalam jarak yang pas dan aman

(gnb:tmn aries:rabu:25.3.20: hari ketiga pekan karantina pertama untuk dua pekan mendatang)

*)Gerard N. Bibang adalah dosen sekaligus penyair kelahiran Manggarai, Flores NTT. Ia adalah penyair yang menabiskan dirinya sebagai petani humaniora. Gerard saat ini berdomisili di Jakarta. 

 

Loading...

Artikel Terkait